Atlas Walisongo: Mengungkap Walisongo Sebagai Fakta Sejarah

Judul resume ini disesuaikan dengan judul aslinya (Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah) ditulis oleh Prof. Agus Sunyoto yang diterbitkan oleh Pustaka IIMaN, Tengerang, cetakan ke VII tahun 2018 dengan tebal 485. 

Buku ini merupakan penjabaran kisah Walisongo yang didasarkan pada fakta sejarah yang dinukil dari transkip-transkip, naskah-naskah kuno, historiografi dan situs-situs resmi yang digali dan dipadukan dengan bukti-bukti lain termasuk diantaranya ceritar turun temurun masyarakat lintas generasi.

Di era jauh sebelum tibanya pendatang di bumi Nusantara, penduduk setempat sudah mempunyai kepercayaan sendiri, yang biasa disebut dengan “Kapitayan”. 

Ajaran Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran dimana penganutnya memuja sembahan yang disebut dengan Sang hyang Taya.  “Hyang” bermakna Hampa Kosong, suwung atau awung awung, sedangkan “Taya” bermakna  Absolut, tidak bisa dipikir, didekati dengan panca indera dan dibayang-bayangkan. 

Atau orang jawa biasa menyebut “tan kena kinaya ngapa”. Dalam rangka memuja Sang Hyang Taya, biasanya penganut Kapitayan menyediakan sesajen dari anyaman bambu untuk tempat bunga, arak, Tu-Kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan. 

Berbeda dengan sembahyang tunggal yang dilakukan oleh masyarakat awam, amaliah yang dilakukan oleh para ruhaniawan Kapitayan berlangsung khusus di tempat yang disebut dengan sanggar (bangunan bersegi empat beratap tumpang dengan lubang ceruk di dinding sebagai lambang kehampaan Sang Hyang Taya).

Dalam bersembahyang menyembah Sang Hyang Taya, mereka mengikuti gerakan tertentu: mulanya sang ruhaniawan Kapitayan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sang Hyang Taya di dalam tutu-d (hati), lalu kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. 

Setelah Tu-lajeg ini kemudian dilanjutkan dengan proses tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) lumayan lama, lalu prosesi tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir adalah to-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut).

Datangnya para saudagar dari India kemudian banyak memberikan perubahan pada ajaran yang dianut masyarakat Nusantara, salah satunya adalah tersebarnya ajaran Hindu dan Budha. 

Dalam Naskah Rajya-rajyai Bumi Nusantara disebutkan bahwa pada tahun 52 Saka (130 Masehi) seorang bernama Dewawarman asal negeri Pallawa di India telah menjadi raja di Salakanagara, yang beribu kota Rajaputra. Tepatnya bertempat di Ujung barat pulau Jawa (sekarang Banten).

Masuknya saudagar Arab setelahnya juga memberikan pengaruh pada saat itu, meskipun tidak begitu signifikan. M.C. Ricklefs memastikan bahwa Islam sudah masuk ke asia tenggara sejak awal zaman Islam, semenjak khalifah Usman bin Affan (644-656 M), karena zaman itu, utusan-utusan muslim dari tanah Arab mulai tiba di istana China, sedangkan kontak-kontak China dan dunia Islam terpelihara lewat jalur laut perairan Nusantara.

Sementara Menurut P. Wheatley dalam The Gorden Kersonese. Berita yang bersumber dari dinasti Tang mengatakan bahwa saudagar-saudagar arab beragama Islam mulai datang ke Nusantara sejak tahun 674 Masehi. 

Sedangkan S.Q. Fatimi juga mencatat bahwa abad ke 10 Masehi terjadi imigrasi keluarga-keluarga Persia ke Nusantara, salah satunya adalah keluarga Lor pada 912 Masehi yang kemudian tinggal di Jawa dengan nama loran atau leran, yang sampai sekarang masih menjadi nama sebuah tempat di sekitar Kabupaten Gresik. 

Lalu ada keluarga Jawani yang bermukim di Pasai (Sumatra Utara), keluarga inilah yang kemudian membuat khat Jawi, berarti tulisan Jawi yang dinisbatkan kepadanya. Demikian juga keluarga Syiah dan keluarga Rumai yang juga bermukim di sekitar Sumatra.

Setelah berabad-abad kemudian, dengan datangnya para saudagar muslim tersebut, tidak ditemukan sejarah-sejarah bahwa Islam kemudian dianut secara besar-besaran oleh penduduk Nusantara. Bahkan R Taryono mengungkapkan dalam usaha mengislamkan Jawa, Sultan Al-Gabah dari negeri Rum mengirim 20.000 keluarga muslim ke Pulau Jawa.

Namun banyak diantara mereka tewas terbunuh, tersisa hanya sekitar 200 keluarga. sultan Al-Gabah dikisahkan marah kemudian mengirim para syuhada, ulama dan orang sakti ke pulau Jawa untuk membinasakan para jin, siluman dan dedemit. Salah satunya adalah Syaikh Subakir, yang dipercaya menetralisir beberapa penjuru Jawa yang kemudian pulau tersebut dapat dihuni oleh umat Islam. 

Menurut Groeneveldt, pada ekspedisi pertama Laksamana ceng Ho ke Nusantara pada 1405-1407 menemukan bahwa komunitas muslim di sekitar pantai utara Jawa, masing-masing hanya berjumlah sekitar seribu keluarga. 

Kemudian menguti p dari Fr. Hirth & W.W. Rockhill dalam Chau Ju-Kua,  pada tahun 1433 Ma Huan pengikut ekspedisi ke-tujuh Laksamana Ceng Ho mencatat bahwa penduduk yang tinggal di daerah pantai utara Jawa terdiri atas tiga golongan: Muslim China, Muslim Persia-Arab, dan Pribumi yang masih belum Islam.

Salah satu bukti nyata adalah adanya petilasan Islam di Nusantara yang bernama Fatimah Binti Maimun terletak di dusun Leran, Gresik yang inkripsinya menunjukkan kronogram 475 Hijriyah atau 1082 Masehi. 

Makam ini juga mempunyai hubungan arkeologis dengan keluarga migran asal Persia yang hijrah ke Nusantara di abad ke-10. Kemudian juga ada makam Syaikh Samsuddin Al-Wasil di Setana gedong, Kediri.

Dikisahkan beliau adalah ulama besar yang menurut data historis dan arkeologis berasal dari negei Rum (Persia), hidup sekitar abad ke-12 Masehi pada masa kerajaan Kediri dan diyakini merupakan guru rohani Sri Mapanji Jayabhaya, Raja Kediri. 

Demikian juga banyak situs-situs peninggalan sejarah yang menyebutkan bahwa Islam sudah ada di bumi Nusantara sejak berabad-abad yang lalu, namun masih menjadi minoritas. 

Artinya sejak penemuan pertama datangnya Islam ke Nusantara pada abad ke-7 sampai kunjungan Ceng Ho di abad ke 15, Islam masih agama yang belum dianut oleh mayoritas masyarakat Nusantara dan masih menjadi agama yang terpinggirkan.

Kedatangan penduduk kerajaan Champa (dulu sebelah selatan Vietnam) beragama Islam pada abad ke-15 setelah jatuhnya Champa akibat serbuan Kerajaan Vietnam, dalam beberapa historiografi dihubungkan dengan asal mula penyebaran agama Islam secara masif di Indonesia, karena salah satu penduduknya, yakni Syaikh Ibrahim Asmoroqondi (As-Samarqandy) Raden Rahmat dan Raden Ali Murtadha, yang kemudian mempunyai andil sangat besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara.


Hal itu juga berdampak pada akulturasi budaya seperti kebiasaan masyarakat Champa yang juga dilakukan oleh masyarakat pribumi, salah satunya adalah masyarakat Champa biasa menyebut ibunya dengan sebutan “mak” yang dalam masyarakat Majapahit awalnya disebut “ina”, “kakak” padahal masyarakat majapahit biasa menyebut “raka”, “adhy/adik” padahal masyarakat Majapahit biasa menyebut “rayi”. 

Demikian juga tradisi peringatan hari kematian yang tidak dikenal di jaman Majapahit, seperti peringatan hari kematian ke-3,ke- 7, ke-10, ke-30, ke-40, ke-100, ke-1000, dan juga peringatan haul.

Hal tersebut ditenggarai terpengaruh oleh budaya Persia, dikarenakan daerah Champa masyarakatnya juga banyak terpengaruh oleh Persia. Salah satu pengaruh yang jelas dari Persia adalah pelafalan pembacaan “Jer” untuk harokat kasrah, “pyes” untuk dhommah, dan “jeber” untuk fathah. Prosesi ini sampai sekarang masih dipakai di Nusantara, salah satunya di Madura. Pengaruh tahayyul Champa yang sebelumnya tidak dikenal di Nusantara seperti menghitung suara tokek, adanya pocong, tuyul dan lain-lain, kemudian juga dipercaya oleh masyarakat Nusantara.

Meskipun agama Islam pada saat itu belum luas dianut oleh penduduk, sejumlah bukti arkeologi menunjuk bahwa pada abad ke-14 Masehi beberapa pejabat tinggi Majapahit pada puncak kebesarannya telah menganut Islam. 

Hal ini sebagaimana yang tertera dalam situs nisan Islam Tralaya yang menunjukkan adanya komunitas Muslim di jaman kejayaan Majapahit. 

Menurut Louis Charles Damais dalam Etudes Javanaeis I, batu bata nisan yang menggunakan tahun Saka dan angka Jawa Kuno bukan tahun Hijriyah dan tulisan arab di situs Tralaya menunjukkan bahwa yang dikubur bukanlah muslim arab, melainkan muslim Jawa.

Salah satu strategi dakwah Walisongo dalam menjalankan misinya di Nusantara adalah dengan jalur memperkuat kedudukan Islam dengan membentuk jaringan kekerabatan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa. 

Beberapa implementasinya adalah dengan menikahnya Putri Arya Lembu Sura dengan Prabu Brawijaya V, itulah sebabnya Prabu menyerahkan Raden Rahmat atau Sunan Ampel ke penguasa Surabaya dan diangkat secara resmi menjadi Imam di Surabaya. Demikian juga Sunan Ampel menikah dengan Nyi Ageng Manila putri penguasa Tuban yang muslim (Kakek Sunan Kalijaga). 

Raden Rahmat juga menikahkan Khalifah Usen (kerabat Raden Rahmad) dengan putri Arya Baribin, Adipati Madura, sehingga terjalin hubungan kekeluargaan yang amat erat dengan beberapa penguasa.

Hal ini pula yang menyebabkan Sri Prabu Kertawijaya menjadi Raja pertama yang menaruh perhatian terhadap Islam, disebabkan dua istrinya yang berasal dari Champa (yang menghasilkan Arya Damar/Ario Abdillah, Adipati Palembang) dan yang berasal dari China (yang menghasilkan Raden Patah yang kemudian menjadi penguasa Demak Bintara) yang keduanya beragama Islam. 

Prabu Brawijaya V juga banyak mengangkat muslim menjadi adipati di beberapa wilayah, salah satunya adalah Arya Teja (kakek Sunan Kalijaga) bupati Tuban, Aria lembu Sura sebagai Bupati Surabaya, Sayyid Es sebagai Adipati Kendal dan beberapa tokoh Islam juga secara resmi diangkat menjadi raja pandita.

Demikian juga, banyak hubungan kekeluargaan lain dari para penyebar Islam dengan para penguasa yang sangat berfungsi dalam memuluskan pengembangan dakwah di Nusantara.

Walisongo juga mengambil alih lembaga pedidikan Syiwa-Budha yang disebut asrama atau dukuh yang kemudian diformat sesuai ajaran Islam menjadi lembaga pendidikan pondok pesantren. 

Walisongo secara aktif juga mengembangkan Islam melalui seni dan budaya, salah satunya adalah dengan wayang. Mengetahui Wayang adalah tontonan yang sangat disenangi di jaman dahulu, anggota Walisongo salah satunya adalah Sunan Kalijogo, Sunan Muria, dan Sunan Bonang menjadikan wayang sebagai sarana dakwah yang efektif, tentunya dengan melakukan beberapa perubahan.  

Salah satunya adalah merubah bentuk-bentuk gambar wayang agar bisa lebih sesuai dengan syariat dan mengubah alur cerita yang bisa memantik penontonnya agar lebih tertarik terhadap agama Islam.

Salah satu contohnya adalah, di dalam pergelaran wayang lakon Dewa Ruci, Sunan Kalijaga menggambarkan bagaimana tokoh Bima yang mencari susuning angin (sarang angin) bertemu tokoh Dewa Ruci yang bertubuh besar ibu jari, tetapi Bima dapat memasuki tubuhnya. 

Selama berada di sana Bima menyaksikan dimensi alam ruhani mekajubkan digelar, di mana Sunan Kalijaga secara dialogis dan monologis menggunakan tokoh Bima memberikan paparan makna secara Ruhani tentang dimensi Ruhani yang disaksikan Bima. 

Hal ini disampaikan pada para muridnya secara tertutup bahwa dalam kisah tersebut sejatinya yang dimaksud Dewa Ruci adalah Nabi Khidir, sebab yang disampaikan adalah pengalaman ruhani Sunan Kalijaga sendiri sewaktu memasuki alam terbalik dari alam dunia.

Dalam naskah Suluk Linglung Pupuh IV Dhandhanggula memaparkan bahwa Sunan Kalijaga mengatakan bahwa Nabi Khidir memangkas keraguannya untuk memasuki tubuh sang Nabi yang berisi alam raya, yang kemudian membuat Sunan Kalijaga ketakutan.  

Lalu Sunan Kalijaga masuk dari telinga, dan menyaksikan samudra luas tanpa tepi (bahrul wujud). Tidak terlihat satu pun di situ, sebab luas tanpa batas sehingga tidak tau arah mata angin, membuat Sunan Kalijaga bingung. 

Nabi Khidir mengingatkan agar Sunan Kalijaga tidak bingung, lalu tampaklah Nabi Khidir laksana matahari, yang ternyata berada dalam dimensi lain berbeda dengan dunia. Bait-bait selanjutnya dalam Suluk Linglung Pupuh menggambarkan empat jenis macam cahaya (Hitam, merah, kuning, putih) yang disaksikan oleh Sunan Kalijaga di dalam diri Nabi Khidir, masing-masing diberi penjelasan maknawiyahnya. 

Cahaya-cahaya tersebut adalah pancaran dari tiga hati manusia yang menjadi penghalang bagi manusia untuk menuju tuhan.

Cahaya hitam cenderung marah, mudah sakit hati, angkara murka membabi buta, yang menutup jalan menuju kebaikan sebagaimana dalam tasawwuf disebut nafsu lawwamah. Cahaya merah pancaran nafsu tidak baik, sumber segala hasrat keinginan, mudah emosi dalam mencapai tujuan, sehingga menutupi hati yang sudah jernih menuju akhir hidup yang baik, ini yang kemudian dinamakan nafsu ammarah. 

Cahaya kuning berpotensi menghalangi timbulknya pikiran baik, cenderung merusak, menelantarkan, membawa ke jurang kebinasaan, ini yang kemudian dikenal dengan nafsu sufliyah. Kemudian yang terkahir adalah cahaya puth menggambarkan tenang dan sucinya hati, ini disebut dengan nafsu mutmainnah.

Sunan Kalijogo juga menciptakan lagu sekar ageng dan sekar alit serta menyempurnakan irama gending-gending. Diantara gubahan sunan Kalijogo yang banyak dihafal masyarakat adalah kidung rumeksa ing wengi dan juga tembang ilir-ilir. 

Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan kalijogo tidak hanya berdiam diri, melainkan berkeliling ke tempat-tempat lain, sebagai dalang, penggubah tembang, tukang dongeng, penari topeng, desainer pakaian, perancang alat pertanian, penasihat Sultan dan lain-lain.

Proses dakwah yang terencana dengan sistematis, penuh kesabaran dan sangat matang, secara perlahan membuat perubahan tidak hanya pada tatanan keyakinan masyarakat sekitar, melainkan juga pada tindak tanduk masyarakat yang asalnya sangat kasar dan sombong.

Sebagaimana nilai-nilai yang disebut oleh orang-orang Majapahit bahwa mereka selalu memegang prinsip Adhigana (merasa unggul), adhigung (merasa agung), adhiguna (merasa superioritas), rajas (nafsu yang berkobar-kobar tak terkendali), kawasa (berkuasa).

Hal ini sebagaiamana yang disaksikan oleh Diogo DO Couto yang datang ke Jawa pada tahun 1526 yaitu setahun sebelum jatuhnya Majapahit, dalam tulisannya yang berjudul Decadas Da Asia mencatat kesannya bahwa Jawa dahulu adalah negara yang kaya dan melimpah ruah, sehingga Malaka, Aceh dan negeri tetangga menerima banyak pasokan dari Jawa. 

Namun orang-orangnya adalah orang yang sombong, selalu memandang suku lain lebih rendah darinya, oleh sebab itu, jika melewati sebuah jalan, dan melihat suku lain berdiri di atas bukti kecil atau tempat yang lebih tinggi daripada yang akan dilewati orang Jawa, dan suku lain tersebut tidak segera turun, maka dia akan dibunuh. Sebab orang jawa tidak akan membiarkan suku lain berada lebih tinggi darinya. Bahkan tidak ada seorang pun di antara orang Jawa yang rela menyungging barang di atasnya, sekalipun dia dihukum mati.

Pada akhirnya secara perlahan walisongo dapat merubah gaya hidup, sikap dan sifat orang Jawa yang demikian menjadi semakin luluh dan sangat halus. 

Bahkan, Walisongo juga memperkenalkan kata “ngalah”, kata yang sebelumnya tidak dikenal di era Majapahit, diambil dari ke-Allah (sama seperti ngalas yang bermakna ke alas), yang kemudian menjamur dan diserap dengan baik oleh masyarakat sekitar. 

Proses dakwah ini ternyata belum sampai ke dataran Blambangan, kenyataanya pada tahun 1700-an, masih banyak penduduk bumi Blambangan yang belum memeluk Islam, sehingga masih tersulut dengan sifat-sifat superioritas, akhirnya banyak terjadi perang antar kadipaten di sana yang berakhir pada banyaknya penduduk Blambangan meninggal, sehingga jumlahnya tergerus bahkan hampir habis. Inilah yang mendorong pemerintah Hindia Belanda kemudian memindahkan orang-orang Madura ke daerah Blambangan, dan sampai sekarang dikenal dengan Tapal Kuda.

Demikian juga, salah satu cara yang digunakan oleh Walisongo adalah dengan kekuasaan politis.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Giri, Sunan Gunug Jati, Sunan Kudus dan Raden Patah. kekuasaan politis yang dimiliki para Wali dipergunakan dengan sangat baik dalam menyebarkan ajaran Islam. 

Sebagaimana kebesaran nama Sunan Giri dalam memimpin wilayah politisnya di Giri Kedaton telah membawa nama besar  terhadap cucunya yang bernama Pangeran Prathika yang kemudian menyebarkan Islam sampai Kutai, Gowa, Sumbawa, Bima bahkan Maluku.

Demikian juga Raden Patah, dalam menyebarkan agama Islam, Raden Patah tidak hanya mengambil langkah melalui kebijakan politik kekuasaan, melainkan juga dengan ajakan memakai media seni rupa. Salah satu contohnya, sebagai alat untuk menarik masyarakat, dibuyikanlah gamelan besar di setiap hari besar (Maulid), yang diletakkan di Bangsal Sri Menganti yang diusung dari istana ke Masjid setelah isyak dengan dibunyikan terus menerus selama perjalanan.

Sesampainya di halaman Masjid, gamelan tersebut dibunyikan terus menerus siang dan malam. Siang mulai pagi sampai dzuhur, malam mulai ba’da isyak sampai tengah malam. Rakyat banyak yang tertarik pada bunyi tersebut, kemudian berbondong-bondong datang ke halaman Masjid  sambil memperoleh bagian makanan yang telah dipersiapkan, mereka diberi penerangan mengenai ajaran agama Islam dan riwayat Nabi Muhammad Saw. mereka yang tertarik pada Islam kemudian dituntun untuk membaca dua kalimat sahadat. 

Hal ini berlaku tujuh hari sebelum hari besar Maulid, dan puncaknya ialah pada tanggal 12 Rabiul Awwal.

Cara Walisongo yang lain dalam menyebarkan Islam adalah dengan membuka pikiran masyarakat sekitar mengenai konsep kesetaraan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Drajat dengan pepali pitu-nya yang mencakup 7 filsafah sosial, yakni: Memangun reyep tasying sesama (Selalu membuat hati orang senang); Jroning suka kudu eling lan waspada (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada); Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah (dalam menapai cita-cita luhur jangan hiraukan halangan dan rintangan); meper handraning pancradriya (senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi); heneng-hening-henung (dalam diam akan dicapai keheningan, dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia); mulya guna panca waktu (pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani sholat lima waktu); menehono teken marang wong kang wutho. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wudo. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan. (berikan tongkat pada orang yang buta. Berikan makanan pada orang yang lapar. Berikan pakaian pada orang tak berbusana. Berikan tempat berteduh pada orang yang kehujanan).

Upaya perubahan dalam permasalahan kehidupan sosial tersebut sangat diterima oleh masyarakat, masyarakat yang awalnya tersekat-sekat menjadi beberapa kedudukan, kemudian bisa lebih berbaur tanpa batasan. 

Sebagaimana diketahui pada era Majapahit kedudukan manusia dibagi menjadi 7 golongan: mulai dari Brahmana (Ruhaniawan), Ksatria (Penguasa), Waisya ( pedagang), Sundra (buruh), Candala (peranakan dari Sundra dan 3 golongan diatasnya), Mleccha (bangsa pendatang, China, Arab dll) terakhir adalah Tuccha (golongan yang merugikan masyarakat, semisal pencuri, dan lain-lain.

Alasan yang juga membuat Islam cepat menyebar di jaman Walisongo adalah karena Islam yang diajarkan di Nusantara merupakan Islam Sufisme yang diakulturasikan dengan budaya setempat, pada akhirnya metode seperti ini mudah diterima oleh masyarakat. Mengingat ada beberapa persamaan antara kedua hal tersebut. 

Bahkan banyak sumber menyatakan bahwa hampir semua tokoh Walisongo ialah bertoriqoh, sebagaimana Sunan Ampel. Sunan Giri dengan toriqoh Satariyyah, Sunan Bonang juga Satariyyah, Sunan Kalijogo toriqoh Satariyyah dan Akmaliyyah, Sunan Gunung Jati toriqoh Naqsabandiyah, istiqoi dan Satariyyah dan juga Syaikh Siti Jennar dengan Toriqoh akmaliyyah dan satariyyah. 

Proses islamisasi yang lain melalui kebudayaan lokal salah satunya ialah mengenai istilah-istilah khas lokal yang menggantikan istilah baku dalam Islam, seperti gusti kang murbeng dumajdi menggantikan kalimat Allah tuhan yang maha pencipta, Kanjdeng Nabi Sebutan hormat untuk Nabi, kiyai untuk ulama dan lain-lain. kemudian juga yang dilakukan oleh Sunan Bonang, yakni Upacara Pancamakara atau Ma Lima, Salah satu upacara yang dilaksanakan oleh penganut Sekte Tantra-Bairawa dimana beberapa laki-laki dan perempuan duduk berbentuk melingkar dengan tanpa busana dengan seorang Cakreswara (Imam), kemudian menyantap makanan sampai kenyang, setelah kenyang mereka meminum khamar, kemudian setelah mabuk mereka melakukan seks bebas. Hal itu kemudian diubah dengan acara kenduri yang isinya adalah bacaan-bacaan dalam Islam dan sedekah.

Demikian juga cerita dakwah Sunan Bonang yang ditantang Ajar Blacak Ngilo untuk Sabung Ayam dengan taruhan siapa yang kalah akan menjadi pengikut yang menang. 

Dengan memerintahkan seorang muridnya, Sunan Bonang menjagokan seekor anak ayam, diceritakan setiap kalah kemudian murid tersebut meniup si ayam, lalu ayamnya semakin besar, sampai akhirnya sekali serang ayam ajar Blacak Ngilo langsung kalah.

Kisah-kisah di atas adalah serpihan kisah dari banyak cerita unik nan gigih bagaimana Walisongo menjalankan misinya untuk mengembangkan Islam di Nusantara,  cara yang dipakai adalah cara yang penuh dengan kasih sayang dan tidak semena-mena.

Sebagaimana dalam konsep Islam, Ud’u ila sabili rabbika bil hikmati wal mauidzotil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan (serulah -manusia- kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik), Q.S. An-Nahl ayat 125.

Dari beberapa cerita para penjelajah masa lalu, mulai dari saudagar Thazi Muslim sejak tahun 674 Masehi, sampai ekspedisi Ceng Ho yang ke-7 ke pulau Jawa pada tahun 1433, menunjukkan bahwa Islam tidak berkembang di Nusantara selama sekitar 750 tahun lamanya. 

Bahkan sekalipun raja Samudera di bagian utara Sumatera mengirimkan 2 utusan bernama Arab ke China pada tahun 1282, sehingga mengundang kehadiran muslim-muslim China di Nusantara, juga tidak menunjukkan bahwa negara-negara Islam lokal dan komunitas mayoritas Islam di Nusantara telah berdiri.  

Baru kemudian pada tahun 1515 Tome pires ahli obat-obatan yang menjadi duta Raja Portugal di China yang mengunjungi Jawa pada tahun 1515 dalam buku Suma Oriental yang ditulis di Malaka mencatat bahwa sepanjang pantai utara pantai Jawa dipimpin oleh adipati-adipati Muslim dan banyak orang muslim, hal ini sejalan dengan fakta yang disaksikan oleh A. Pigafetta yang berkunjung ke Jawa pada tahuan 1522. 

Keterangan tersebut juga ditunjang oleh prasasti-prasasti kuno yang menyebutkan perkembangan Islam yang cukup signifikan di era-era Walisongo.

Terdapat fakta bahwa dari kurun waktu sekitar tahun 1433 kedatangan Ceng Ho ke-7 (masa sebelum datangnya Sunan Ampel), Islam dinyatakan belum berkembang pesat dan tidak menjadi mayoritas. 

Adapun tahun 1515 dan 1522 (setelah masa Walisongo) sebagaimana kedatangan orang-orang Portugis tersebut, Islam dinyatakan sudah berkembang dengan sangat pesat dan telah membentuk kerajaan-kerajaan Islam. 

Artinya Islam berkembang dan tersebar dalam kurun waktu hanya sekitar 50-an tahun masa Walisongo. 

Era emas dalam kurun waktu 50 tahun tersebutlah Walisongo dengan gigihnya banyak mengislamkan penduduk Nusantara. 

Terbukti bahwa dakwah Walisongo yang berupaya mengakulturasikan kebudayaan-kebudayaan lokal dengan nilai-nilai keislaman melalui ajakan yang santun dan gigih sangat mudah diterima masyarakat Nusantara. 

Share:

Pikiran Manusia dan Arti Bahasa Tubuh


Tulisan ini dinukil dari buku Hypnotic Power; Rahasia Membaca dan Mempengaruhi Isi Hati dan Pikiran Orang Lain dengan Hipnotis. Ditulis Hari Laksana dan diterbitkan oleh Araska pada 2007.

Alam pikiran manusia dibagi menjadi 3 lapisan: alam sadar (conscious mind), pikiran kritis (ciritical factor) dan alam bawah sadar (sub-conscious mind). Alam sadar adalah pikiran yang biasa dipakai manusia untuk menerima informasi yang diberikan panca indera seperti mengamati warna, merasakan tekstur benda, mendengar suara dan informasi lain. Sedangkan alam kritis adalah pikiran yang bertugas untuk menganalisa setiap informasi yang diberikan panca indera. Sedangkan alam bawah sadar adalah tempat paling dominan untuk mempengaruhi prilaku manusia. Menurut pakar, 88% prilaku manusia dipengaurhi oleh pikiran bawah sadarnya, sedangkan 12% baru oleh alam sadarnya. Pikiran inilah yang menyimpan jutaan faktor kunci prilaku manusia, seperti persepsi, emosi, kebiasaan, intuisi, memori jangka panjang, kreativitas, belief and value dan self image.

Salah satu kenyataan bahwa alam bawah sadar memegang kendali penuh terhadap kehidupan manusia sebagaimana contoh seorang perokok yang kesulitan untuk berhenti merokok. Kebiasaan merokok merupakan hasil kerja dari pikiran bawah sadar. Sedangkan keinginan untuk berhenti adalah hasil logika pikiran sadar. Perokok ingin berhenti merokok karena dia sadar bahwa rokok merugikan terhadap kesehatan dan ekonomi perokok, namun fakta dan logika tersebut dapat dikalahkan oleh kebiasaan yang sudah tertanam kuat dalam pikiran bawah sadar.

Pikiran bawah sadar memuat database manusia yang berisi akumulasi berbagai pemahaman, penalaran, pengalaman, bahkan penularan sejak mulai dia lahir sampai akhir usianya. Oleh sebab itu pikiran bawah sadar cenderung didominasi oleh rasa emosi. Menariknya lagi pikiran tersebut bersifat netral terhadap segala macam informasi yang masuk, netral dalam artian tidak mengenal baik ataupun buruk. Sehingga suatu data yang masuk ke pikiran bawah sadar, maka akan dianggap sebagai suatu kebenaran, meskipun pada dasarnya hal itu adalah salah secara umum.

Sebagaimana ketika kita kecil, orang tua kita sering mengatakan “awas jangan main jauh-jauh, nanti diculik hantu”. Anak kecil yang notabene pikiran sadar dan critical factornya belum begitu sempurna, tidak akan menyaring perkataan tersebut, oleh sebab itu secara otomatis akan masuk ke pikiran bawah sadarnya. Maka sejak saat itu, seorang anak akan menyimpulkan bahwa hantu itu ada, meskipun sejatinya dia tidak pernah melihatnya. Ketika dewasa, walaupun mungkin dia belum melihat hantu, tetapi ketika melewati kamar mayat sebuah rumah sakit, bahkan ketika siang hari, kebanyakan dari mereka timbul gejolak emosional berupa perasaan takut. Artinya rasio/pikiran sadar manusia tidak cukup untuk membuat dia berani, hal ini karena pikiran bawah sadar telah terlanjur menyimpan informasi mengenai adanya hantu.

Contoh lain adalah orang tua yang selalu membentak anaknya ketika kecil. Secara tidak langsung hal tersebut akan membekas di pikiran bawah sadar anak. Dan kelak ketika dewasa jika tidak dilakukan upaya-upaya, maka dia akan menjadi manusia yang kurang percaya diri dan sering takut dalam melakukan sesuatu, hal ini disebabkan karena pikiran bawah sadarnya sejak kecil telah banyak merekam bahwa di dunia banyak larangan-larangan yang jika dilakukan akan menimbulkan kemarahan sebagaiamana yang dilakukan orang tuanya di masa kecilnya.

Critical factor dalam pikiran manusia sangat penting dalam menganalisa segala jenis informasi yang masuk. Pikiran ini lah yang juga dapat melindungi pikiran dari ide, informasi, sugesti atau bentuk pikiran lain yang bisa mengubah program pikiran bawah sadar yang sudah tertanam. Ketika manusia dalam keadaan sadar, ciritical factor akan menghalangi afirmasi atau segala macam sugesti, sehingga ketika hal tersebut masuk ke pikiran bawah sadar manusia maka efeknya akan sangat kecil bahkan tidak ada sama sekali. Saat ahli hipnotis melakukan hipnotis, pada saat itu dia sedang mem-by-pass critical factor orang yang dihinotis. Biasanya by-pass tersebut dilakukan dengan teknik yang dinamakan induksi. Induksi bisa dilakukan dengan membuat pikiran objek dibuat bosan, sibuk, lengah, bingung, lelah dan lain-lain. Sehingga pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar yakni critical factor menjadi terbuka atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka sugesti sang ahli hipnotis akan menjangkau pikiran bawah sadar. Saat itulah seorang yang dihinotis dalam kondisi trance, dimana critical facotrnya menjadi tidak aktif.

Dari kebiasaan ekspresi yang telah direkam di masa lalu, pikiran bawah sadar manusia juga membentuk suatu pola kebiasaan umum, seperti mata yang turun ketika sedih, terbuka lebar ketika takut, terlihat tidak fokus ketika berkhayal dan lain-lain. Ini yang kemudian menjadi dasar utama suatu analisa bahwa setiap orang mampu membaca atau menganalisa pikiran orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca isyarat bahasa tubuh berdasarkan kebiasaan yang dilakukan. Semisal dengan kontak mata, ekspresi wajah dan gesture tubuh.

Kontak mata mengacu pada suatu keadaan penglihatan secara langsung antar orang ketika sedang melakukan percakapan. Melalui kontak mata, seseorang dapat menceritakan terhadap orang lain tentang suatu pesan, sehingga orang akan memperhatikan kata demi kata melalui tatapan. Sejak kontak mata dilakukan manusia langsung dapat mengukur kemampuan komunikasi lawan bicaranya.

Kontak mata mempunyai beberapa arti: Ketika lawan bicara 60% menatap langsung, berarti dia tertarik; 80% menatap langsung, berarti dia tertarik secara seksual; 100% menatap langsung, berarti perlawanan; menghindari tatapan, berarti menyembunyikan sesuatu atau kurangnya percaya diri; lensa mata membesar, berarti sangat tertarik; tatapan jatuh ke bawah tapi melirik ke kiri dan ke kanan juga berarti tertarik; lirik ke kanan dan ke kiri, berarti bosan; dan kedipan cepat yang mempunyai arti tidak setuju.

Adapun ekspresi wajah meliputi pengaruh raut wajah yang digunakan untuk berkomunikasi secara emosional atau bereaksi terhadap suatu pesan. Wajah selalu mewakili hati dan perasaan seseorang. Dalam berkomunikasi, wajah atau kepala mempunyai beberapa arti: condong ke arah lawan bicara, berarti tertarik atau setuju; menjauh secara mendadak berarti curiga atau tidak percaya; topang dagu berarti bosan; mengangguk berarti setuju; banyak menoleh berarti tidak sabar dan ingin menyudahi percakapan.

Nada bicara dalam berkomunikasi juga mempunyai arti sendri: lambat dan nada akhir turun berarti yakin dan menguasai pembicaraan; penekanan kata berarti otoritatif; nada kecepatan meninggi berarti emosi, tegang atau menyembunyikan sesuatu.

Sedangkan gesture atau gerakan tubuh merupakan bentuk prilaku nonverbal dari tangan, bahu, jari-jari dan kaki. Seseorang menggunakan gerakan tubuh secara sadar atau tidak sadar untuk menekankan suatu pesan. Seperti ketika dia berkata pohon itu tinggi, maka dia pasti akan menggerakkan tangan untuk menggambarkan deskripsi verbalnya. Lain halnya ketika dia berkata letakkan barang itu, lihat pada saya, maka yang bergerak adalah telunjuk yang menujukkan arah.

Gestur tubuh juga memiliki arti: ketika tangan menutup hidung, berarti ada sesuatu atau indikasi berbohong; jari mengetuk-ngetuk berarti tanda bosan atau tidak sabar ingin bicara; dan ketika tangan mengepal berarti tegang, tidak nyaman atau marah.

Bahasa tubuh juga menyimpan arti bahwa seseorang sedang berbohong: ketika mata menatap ke samping (ketika mengucap pada bagian kata yang berbohong); tangan sering menutup mulut atau hidung, meraba hidung atau telinga; atau postur terlihat tidak nyaman.

Hal-hal di atas merupakan pengaruh dari kebiasaan manusia yang dibentuk berdasarkan pola ketiga pikiran di atas. Artinya jika manusia bisa memahami dan menguasai dengan baik ketiga macam pikiran tersebut, maka hal itu juga akan berdampak pada kehidupan sosialnya.

Share:

Insurance Health Care in America for All

We provide medical care for everyone in the United States through our comprehensive, long-term primary care foundation.

The purpose of this policy document is for the American Academy of Family Physics (AAFP) and its board to consider all options available to federal, state, and American citizens to achieve their goal of providing advocacy flexibility. Achieving Health Insurance for All – A goal based on AAFP policies. 

This means that health is a fundamental human right for all human beings, and that the right to health includes universal access to timely, acceptable and affordable health care of appropriate quality.

The US health care system is uncoordinated, fragmented, and emphasizes intervention rather than prevention and comprehensive health care management. Healthcare costs continue to increase at an unsustainable rate, and quality is far from ideal. I, I, I

Over the past two decades, policies implemented through the Children's Health Insurance Program (CHIP) and the Patient Protection and Affordable Care Act (ACA) have resulted in millions of adults who were previously uninsured and ineligible for Medicare. Affordable health care is now available. 

The uninsured population hit a record low of 8.8% under the implementation of these guidelines. iii The greatest increase in coverage occurred in the most vulnerable populations and young adults. However, the removal of some of the policy provisions has increased the proportion of the uninsured to 15.5%. This is pretty much the same as 10 years ago, when nearly 17% of uninsured people were uninsured and nearly 50 million uninsured.

Ensuring that everyone in the United States has affordable health insurance that provides the essential health care (EHB) services absolutely necessary to move into a healthier and more productive society. In addition, our health care system takes into account and addresses socioeconomic status, the housing and employment status, food security, the environment, and other social determinants of health that have a significant impact on individual and group health outcomes and costs. 

As the Commonwealth Fund points out, the design of systems that provide health insurance for all “continuously and systematically improves access to care, equity, quality of care, efficiency and costs. This has a major impact on your ability to control. Control. "Vi

Successful health care reforms aimed at achieving universal health coverage reaffirm the centrality of primary care, revitalize the US primary care infrastructure, and provide and pay for primary care. Exciting research shows that more and more resources are being focused on professional care, leading to fragmentation, poor quality and increased costs. 

Studies show that GP practices are becoming more accessible, promoting prevention, actively supporting patients with chronic diseases and reinventing the way they work to involve patients in self-management and decision-making. The design has been shown to improve quality of care and cost-effectiveness. care.vii

Family medicine and primary care are the only entities responsible for the long-term continuation of care for all patients. The relationship between GPs and patients and their inclusion have the greatest impact on outcomes and costs of long-term care. However, the current US health care system is unable to provide comprehensive primary care due to the way primary care has been and is funded.

According to the Dartmas Center for Evaluation and Clinical Science (now known as the Dartmas Institute of Health Policy and Clinical Practice), Medicare expenditures (hospital reimbursements and Part B payments) in primary care-dependent US states. Less resource expenditure (hospital beds, ICU beds, all medical work, primary care staff and healthcare professionals); reduced usage (doctor consultation, days in ICU, hospital stay number of days and patients seeing 10 or more doctors). Improves quality of care (fewer ICU deaths and higher combined quality score).

Patient-centered healthcare facilities (PCMH) are an approach to providing comprehensive aftercare primary care (APC) to children, adolescents, adults and the elderly. This is a medical model that facilitates partnerships between individual patients, their doctors and, where relevant, their families or carers. 

Each patient has an ongoing relationship with a private GP who is trained to provide first contact, coordinated, ongoing and comprehensive care. Private doctors lead individual teams above the clinical level, which are jointly responsible for the ongoing care of patients. ix

A fundamental shift is needed to shift the focus of the US health care system to one that is inclusive and emphasizes inclusive and collaborative primary care. The current resource must be allocated differently and new resources must be used to achieve this desired result. All payer payment policies must change to reflect the larger investments made in primary care to fully support and sustain primary care transformation and delivery. 

Staffing policies should aim to attract strong leaders from GPs and other primary care physicians who are essential to a highly functional medical team. In order to achieve these changes, the state legislature and/or state legislature must enact comprehensive legislation. Any solution is better if the law only addresses the uninsured and does not fundamentally rebuild the system to encourage and pay for better payments for primary care and primary care in other ways. We are not reaching the full potential to achieve the four goals of good care . Smarter spending. , and a more efficient and happier doctor.

Key elements of the framework

Everyone has affordable health insurance that provides equal access to age-appropriate evidence-based medical services.
Everyone has a family doctor and health facility.

Insurance reforms that introduce consumer protection and non-discrimination policies will continue and will require proposals and options to be considered to achieve universal health insurance. These reforms and safeguards include, but are not limited to, continued issuance warranties. 

Prohibition of buying insurance based on health status, age, gender, or socioeconomic criteria. Prohibition of annual and/or lifetime interest and limitation of coverage. The coverage required for the specified EMS. Compensation is required for certain preventive and vaccine services without co-patient payments.

Each proposal reflects at least twice the percentage of medical costs invested in primary care. • These investments should provide a primary care payment model that supports and sustains the transformation of primary health care facilities and closes the current income gap between primary and subspecialty care. Take care to ensure that general practitioners have a sufficient workforce.

Federal, state, and private funding for medical education will be reformed to establish and achieve national physician staff policies that produce sufficient primary care workers to meet state medical needs. ... In addition, US medical schools have been raised to a higher standard in creating the workforce needed by family doctors across the country.

A series of visits and certain services by your GP is free of charge.

Every universal health system protects the ability of patients and physicians to directly and voluntarily contract a specified or negotiated set of services (eg, direct primary care [DPC]). In addition, individuals can purchase additional or additional private health insurance at any time.

To achieve universal health insurance, the AAFP, following the principles above and with the support of the majority of Americans, combines one or more of the following approaches and recognizes that each has its strengths and challenges. Advocating for partisan solutions.

The multidimensional approach to funding, organization, and delivery of healthcare is aimed at achieving affordable healthcare with competition on the basis of quality, cost, and service. One such approach involves several non-profit and non-profit private organizations and government agencies in providing health insurance coverage.
 
Such a universal healthcare approach should ensure that everyone has access to affordable medical care.

The Bismarck model approach is a multi-payer non-profit public health insurance policy that includes a government-defined benefit package and must cover all legal residents. Doctors and other physicians work independently in a mixed public and private setting.

The single-payer model approach, which is well defined in terms of organizational, funding, and coverage models, is publicly funded and controlled by the public or private, and government provided by physicians and other health care professionals. Raise and provide funds to pay for medical expenses. It works independently or in a private health system.

The public options approach, which is a publicly administered plan that competes directly with private insurance plans for customers, can be statewide or regional. Doctors and other doctors will continue to work independently.

The Medicare/Medicaid purchasing approach builds on existing public programs by allowing individuals to purchase health insurance through those programs. In such a scenario, at a minimum, parity of Medicaid-to-Medicare payments for the services provided by the primary care physician to the patient is required.

Each option to achieve full health coverage has its own strengths and challenges, as outlined in the AAFP Discussion Paper on Health Insurance and Funding Models, commissioned in 2017 by the AAFP Board of Directors, USA and its elected officers and representatives. These include the following important points:

Scope of administrative and regulatory burden on physicians, physicians and other healthcare providers, and patients/consumers
Impact on total healthcare costs for governments, employers and individuals
Satisfaction of patients, consumers, doctors and clinicians tax rate

Impact on on-time delivery (waiting time) of healthcare services and delays in selected healthcare service plans
Clarity of funding model and level of payments to physicians, clinicians and other healthcare providers
Pay, childbirth, and participation of primary care physicians in other health decision-making committees
Description and clarity of the core set of essential health services available to all, particularly primary care and prevention, management of chronic diseases, and protection against catastrophic health care costs.

Impact on the availability and fair delivery of medical services
Impact on Quality and Access
Determine if there are global budget and price/payment negotiations
The need for a clear and consistent definition of the “one-off healthcare system”
Comprehensive basic care

Advanced primary care embodies the principle that patient-centred primary care is comprehensive, continuous, coordinated, connected and accessible to patients for their first contact with the healthcare system. APC aims to improve clinical quality by providing coordinated long-term care that improves patient outcomes and reduces medical costs. AAFP believes that APC is best achieved through a home care model. 

Five key features of the Comprehensive Primary Care Plus (CPC+) initiative, which defines primary care facilities as homes based on the shared principles of the patient-centric Homeix and establishes physician offices that provide comprehensive care and partnerships. Between patient and doctor. A payment system that recognizes primary care members and other healthcare teams and extensive work in delivering primary care. The main tasks of primary health care are:

Any proposal or option to provide health insurance for all should cover a defined set of basic health services. This includes at least products and services in the following performance categories:

outpatient service
emergency service
hospitalized patient
Care of pregnant women and newborns
Mental health and substance use disorders services, including behavioral medicine
Prescription drugs
rehabilitation and rehabilitation services and apparatus
laboratory service
Prevention and health services and treatment of chronic diseases
Pediatric services including oral and vision care

In addition to applying for EHB reimbursement, any proposal or option will ensure that primary care is provided through the establishment of primary care for the patient. When services are provided by the patient's nominated GP to foster a long-term relationship with the GP, any suggestions or options relate to financial limitations (ie, deductions and expenses). the following services.
A. Rating and Administration Services
B. Evidence-based prevention services
C. Population Based Management
D. Good parenting
e. vaccination
F. Mental Health Care

Payable
To achieve the goal proposed in this paper, "Providing Health Coverage to All in the United States Through a Comprehensive and Long-Term Basic Care Foundation" focuses solely on health and primary care. It's not enough. Efforts should be made to identify and reduce healthcare costs, including the administrative costs of providing these services.

A comprehensive health system that prioritizes primary care should also emphasize the cost and affordability of care. This is important not only for consumers, but also for physicians, clinicians, payers and government decision-makers. Affordability is an important element of the US healthcare reform effort.

Prevention and Public Health - There is a need for increased investment in prevention, particularly in prevention services that have been shown to reduce the spread of preventable diseases, such as: B. Access to free vaccines and screening programs. Focusing on reducing preventable diseases can reduce, or at least delay, future costly spend on preventable diseases. In addition, more attention needs to be paid to identifying the social and environmental factors that contribute to the increase in healthcare costs.

Transparency – With increased investment in primary care and healthcare facilities, healthcare plans can not only reduce the cost of treating high-risk patients, but also improve the quality of care. xi This increase in investment must be accompanied by aggressive pricing efforts. Transparency of all supported medical services. Such transparency can help reduce excess health care costs by informing the general public about health care costs and intensifying competition in the health industry.
Integration – Integrative medicine systems are a problem in terms of affordability. 

Integration between medical systems can reduce internal costs such as operating costs, but it also reduces market competitiveness and increases medical and premium costs. xii
Location-independent payment policies – For many medical services, current payment policies often vary significantly depending on the location of the service (for example, hospitals, outpatient surgery centers, and clinics pay more for the same service). This was not the case, and there were significant differences in the quality and outcome of treatment. Such payment policies contribute to overspending in current systems. In addition, these payment policies facilitate integration, reduce competition between providers, and promote overconsumption of expensive medical services. This issue can be effectively addressed by site-independent payment policies and the elimination of some setup fees.

Administration Costs-Part of the total health care costs in the US healthcare system are due to high administration costs. Most of these high management costs are due to the complexity of billing and are exacerbated by many payers. In countries with fixed budgets and few medical plans, administrative costs are low. xiii Of all hospital spending in the United States, 25% is administrative expenses, which is about $ 200 billion. By comparison, Canada spends only 12% of hospital costs on administration, while the UK spends 16% on administration. 

In addition, there was no link between higher management costs and higher quality of care.
Pharmacy and Biology – Advances in pharmacy and biology have improved the health of millions of people, reduced the prevalence of preventable illnesses, and enabled long-term maintenance of chronic illnesses. These advances have increased the life expectancy of millions of people, especially those with chronic illnesses and certain types of cancer. This progress should be celebrated for its positive impact on millions of people. 

However, rising costs of medicines and biologics have made these interventions and treatments out of reach for too many people. Policies need to be implemented to allow health care buyers, including Medicare, to negotiate the cost of prescription drugs. In addition, greater flexibility is needed in the design of formulations that can increase the use of generics and biosimilars.
payment

The AAFP believes that all practitioners should be compensated according to the Advanced Primary Care Alternative Payment Model (APC-APM), AAFP's comprehensive payment model for practitioners and primary care treatment. AAFP believes that APC-APM is a fundamental element of a larger investment in essential services that are essential to a better care system in the United States.

This model is based on years of program and research demonstrating the benefits of increasing support for population-based care away from service costs (FFS). This provides better support for small, independent practices and reduces the administrative burden on the medical department.

Share:

Basic to Learn about Insurance part 2

Bonus payments and billing

Consider this example to see the difference between premium and premium payments.

Imagine paying $ 500 a year to insure your $ 200,000 home. You have 10 years to make a payment, and you make no claim. That's 500 times 10 years. In other words, you paid $ 5,000 for home insurance. You may be wondering why you don't pay so much. In the 11th year, a fire broke out in the kitchen and needed to be replaced. The company will pay you $ 50,000 to repair your kitchen.

If the insurance company returns the money to everyone when there is no damage, it will not be able to build enough wealth to pay the insurance money. Even the $ 5,000 paid in 10 years does not cover the $ 50,000 loss. If there is only one loss, it will be unprofitable for the company. Insurance is based on diversifying risk to many people, so it is gathered from everyone who pays the insurance that allows the company to build an asset and cover it when a claim arises. It is the money that was paid.

What is the reason for insurance premiums to go up or down?

Insurance is a business. It's great for companies to maintain the same level of interest rates at all times, but in reality you need to make enough money to cover potential claims from policyholders.

When the company calculates the amount to be billed at the end of the year and the amount to be received for insurance premiums, it is necessary to modify the charges to make money. Fluctuations in underwriting and changes in interest rates are based on insurer results over the past few years.

Depending on the company you buy from, you may be dealing with a captive agent. They sell insurance from only one company. Brokers offer insurance for many companies.

What are Agents, Captive Agents and Insurance Brokers?

The front line people you deal with when buying insurance are agents and brokers who represent insurance companies. They explain the types of products they have.

A captive agent is a representative of only one insurance company. They are familiar with the company's products and services, but cannot discuss other companies' policies, prices, or product offerings.

An insurance broker or independent agent may deal with many companies on your behalf. They have access to many companies and need to know the product range of each company they represent.


How to determine the required coverage

There are some important questions you can ask yourself to determine the type of coverage you need.

How much risk and money can you expect to lose yourself?

Do you have the money to cover expenses and debts in the event of an accident? What if your house or car is destroyed?

Do you have any savings if you are unable to work due to an accident or illness?

Can you pay a higher discount to reduce costs?

Do you have a special need in your life that requires additional compensation?

What interests you the most? Policies can be tailored to your needs and identify your key protection issues. This can help you narrow down the type of policy you need and reduce costs.

Policy selection based on current lifestyle and life stage

Which insurance you need depends on where you are in your life, what types of assets you have and what your long-term goals and commitments are. Therefore, it is important that you take the time to discuss with your agent what you are looking for in a policy. Finding the right insurance product is a powerful way to manage your money. This way you remain financially secure, even after you make up for the loss.

Share:

Best Insurance in America

specify
Prudential Financial was founded in 1873. This is a good sign of its reliability. The Insurer Prudential of America also has an AMBest A + rating and a Standard & Poor's AA financial strength rating. 2

Prudential offers fixed-term life insurance, universal life insurance, indexed universal life insurance, variable universal life insurance, and can add supplements such as accidental death insurance, basic insurance, and child insurance to the policy.

Prudential allows you to instantly create an online term life insurance quote. For more information on Prudential Life Insurance, see the full review.

Read Prudential's Whole Life Insurance Report.


Why choose it?
We chose State Farm as the top company in our instant release policy because we can register online and receive lifetime protection without any health checks or hurdles. The excellent ranking and long history of State Farm also helped us put State Farm in our rankings.



specify
State Farm is another insurance company with a long history. Founded in 1922 by retired farmers, State Farm has grown from a humble beginning to today's wide range of insurance product providers. Currently, State Farm is the 39th largest Fortune 500 company. 4 This company also has an AMBest A ++ financial strength rating. This is the highest rating. Five

Also note that State Farm ranks highest in the US life insurance survey. JD Power 2020 compares the experience of life insurance and annuity customers across the country. 6

With respect to the life insurance products offered, State Farm allows consumers to purchase term life insurance, total life insurance, and universal life insurance. State Farm also makes it easy to enter information and get a free online quote for a period.

State Farm is expanding the coverage of ready-to-use life insurance that can be applied for online, and these insurances can be purchased without a medical examination. However, you need to answer health questions in your application.

How Much Does State Farm Life Insurance Cost? Request a quote online or contact your representative.

Read State Farm's Whole Life Insurance Report.


specify
Trans-America is not a common name, but it has existed since 1904 and has a solid financial reputation, including AMBest's A rating and S & P Global's A + rating. Only 734 points out of 1,000 odds



TransAmerica also offers a wide range of life insurance including term life, total life, universal life, index-based universal life, and terminal cost life.

Contact an agent at Trans America for quotes on most life insurance products. However, you can get term life insurance quotes online. Premiums for term coverage are usually high. For more information on TransAmerican Life Insurance, see the full overview below.

Read the full TransAmerican Life Insurance Review


description
Northwestern Mutual has been in business since 1857 and has a strong reputation for its commitment to providing quality products and services. In addition to being rated A++ by AMBest and AA+ by S&P Global, Northwestern Mutual also has J.D. Customer satisfaction is also featured in Power2020 U.S. Life Insurance Studies.611 highly rated.

Northwestern Mutual offers term life insurance, whole life insurance, and universal life insurance. However, because we employ financial advisors who oversee all financing, a complete financial review is required to accept offers.

In short, you need to work with one of Northwestern Mutual's financial advisors for in-depth information about your finances and life. This is a huge advantage if you need comprehensive financial planning assistance and want to make a life insurance policy part of your overall financial situation.

Read the full Northwestern Mutual Life Insurance Review.



description
New York Life has been in business since 1845, a testament to its reliability in the marketplace. The company also has very solid financial strength ratings, such as AMBest's A++ and Standard & Poor's13 AA+ ratings. Additionally, New York Life ranks 6th in the 2020 JD Power US Life Insurance Survey. 23 companies based on satisfaction with customer service and other factors

New York Life offers four main life insurance options: Term Life, Whole Life, Universal Life, and Variable Universal Life. The site also offers a variety of useful life insurance resources and charts to help you compare their policies and offers.

New York Life chose New York Life as the main choice for term life insurance because it offers term life insurance which can later be converted into permanent life. We also offer a customizable disability and terminal illness add-on that allows you to tailor the type of coverage to best suit your needs.

Unfortunately, New York Life doesn't offer free online deals. Instead, you will be asked to fill out a form. A financial expert will then talk to you to get a complete picture of your finances.
Credit: investopedia
Share:

Republik, Monarki, Demokrasi dan Otoriter

Manusia di abad ini tersekat berdasarkan domisili dimana dia berasal dan tinggal. Doktrinasi nasionalisme dan nativisme secara massal telah membuat manusia terkotak-kotak secara masif. Mereka dibedakan berdasarkan batasan wilayah yang biasa disebut dengan negara. Manusia sampai harus melalui pola administrasi birokrasi yang ketat (passport, visa, pemeriksaan imigrasi dll) untuk bisa masuk ke suatu wilayah yang mereka devinisikan sebagai negara lain. Padahal bisa jadi dari segi ras, warna kulit, bahasa dan agama diantara kedua negara tersebut tidak ada perbedaan.

Banyak sejarah negara mulai terbentuk di pertengahan abad ke-20. Perang dunia ke-2 telah memberikan signifikasi perubahan pada iklim politik global, khususnya setelah Jepang menandatangani kekalahannya kepada Sekutu, Agustus 1945. Tidak sedikit wilayah yang menyatakan diri menjadi negara berdaulat, baik melalui perjuangan maupun hasil pemberian.

Sejak itu pula negara-negara (lebih tepatnya elit-elit di suatu negara) mulai memetakan garis negaranya (atau daerah kekuasaannya). Beberapa diantara mereka tidak melibatkan langsung masyarakat terdampak (hanya berdasarkan perjanjian sesama elit). Padahal mereka tidak berada di posisi tau apakah masyarakat tersebut setuju atau tidak untuk dipersekutukan bersama negara yang akan dibangunnya (atau untuk dimasukkan ke daerah kekuasaannya).

Dampak dari peristiwa itu pada beberapa negara adalah banyaknya gerakan separatisme di daerah terluarnya. Hal ini disebabkan banyak faktor: bisa jadi karena anggapan merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat; eksploitasi sumber daya alam dan tidak meratanya pembagian hasil; berbedanya keyakinan mengenai sistem politik dan pemerintahan; atau bisa jadi karena faktor sejarah tertentu di masa lalu.

Sejalan dengan diproklamirkannya suatu wilayah sebagai negara, dibentuk pula sistem dan tata pemerintahan yang akan diberlakukan. Bagi mantan wilayah terjajah yang melepaskan diri dari kolonialisme dengan perjuangan bersama, biasanya mereka akan memproklamirkan diri sebagai negara republik dengan sistem demokratis. Sedangkan beberapa negara dengan latar belakang kerajaan, kebanyakan sampai saat ini masih mempertahankan sistem yang ada.

Pada sistem pemerintahan republik, dikenal slogan umum “dari rakyat untuk rakyat”. Artinya yang mempunyai kekuasaan penuh untuk menjalankan pemerintahan adalah rakyat. Tentunya dengan mengikuti prosedur dan undang-undang yang berlaku. Karena pada dasarnya kata republik berasal dari bahasa latin “res republica” yang secara lugawi mempunyai makna urusan awam, atau dapat diartikan bahwa negara tersebut dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat. Konsep ini sebenarnya sudah dianut sejak zaman kerajaan Roma yang bertahan sejak 509 SM sampai dengan 44 SM. Oleh karena pemerintahan dilaksanakan sendri oleh rakyat, maka dengan sendirinya konsep ini menuntut suatu pola pemerintahan yang demokratis. Demokrasi dapat mempunyai arti bahwa semua elemen masyarakat memiliki hak dan wewenang yang sama. Baik dari aspek hukum, politik, HAM, sosial, ekonomi, kebebasan berpendapat dan lain-lain.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu negara republik akan digerakkan oleh pemerintahan yang otoriter. Otoriter di sini mempunyai arti bahwa kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintahnya tidak berdasarkan konsensus bersama (hanya disetujui oleh segelintir pihak saja). Biasanya pemimpin dalam negara republik yang otoriter melakukan banyak muslihat dalam manuver politiknya, sehingga secara seremonial seakan mereka tetap melaksanakan sistem yang  demokratis, padahal secara esensial nilai-nilai demokrasi sama sekali tidak diterapkan.

Sedangkan negara dengan sistem monarki biasanya sudah berdiri dan diakui rakyatnya sejak sebelum signifikasi perubahan iklim politik global pasca perang dunia ke-2. Sistem mayoritas negara kerajaan saat ini adalah monarki konstituonal. Beberapa diantaranya masih menganut monarki absolute. Monarki konstituonal memilik arti bahwa dalam suatu negara, yang berkedudukan sebagai kepala negara adalah Raja, namun dalam hal kepala pemerintahan, masih diatur berdasarkan konstitusi yang ada. Biasanya kedudukan ini dijabat oleh Perdana Menteri. Sistem ini sebagaimana yang dianut oleh Malaysia dan Thailand. Perbedaannya, di Malasyia Rajanya dipilih secara bergantian 5 tahun sekali oleh masing-masing Raja dari 9 negara bagian. Sedangkan di Thailand, posisi Raja bersifat turun temurun. Sedangkan contoh negara monarki absolute adalah Saudi Arabia dan Brunei Darus Salam, dimana posisi raja memegang kedudukan sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara.

Dengan perbedaan suku, etnis, dan agama yang variatif, di samping karena latar belakang sejarah yang patriotik dan divergen, sistem monarki tidak akan cocok untuk diterapkan di Indonesia. Sehingga sejak pertama kali diproklamirkan kemerdekaannya, Indonesia dideklarasikan sebagai negara republik dengan menganut sistem demokratis. Konsep ini telah digariskan oleh founding father Indonesia melalui konstitusi negara pada UUD 1945. Konstitusi Indonesia yang telah mengalami 4 amandemen tersebut telah sejalan dengan nilai-nilai demokrasi: kesetaraan rakyat di mata hukum; kebebasan berpendapat dan pers; terjaminnya HAM; dan lain-lain. Bahkan Indonesia juga diposisikan sebagai negara paling demokratis ketiga setelah Amerika dan Belanda.

Dengan sistem yang demokratis ini, semua elemen masyarakat mempunyai hak politis yang sama. Tak heran jika di awal pemilihan umum pada 1955 telah diikuti oleh 118 peserta: terdiri dari 36 peserta partai politik, 34 organisasi kemasyarakatan dan 48 perorangan. Negara menjamin hak masyarakat untuk mendirikan partai atau aktif di partai politik manapun.

Masuk ke dalam periode orde baru, demokrasi mulai dikebiri. Parpol dikrucilkan hanya menjadi 3 bagian, pers dibredel dan dipersulit ijin edarnya, tentara berkuasa di segala lini. Demokrasi pada saat itu hanya sekedar title dan seremoni. Baru setelah keluar dari trah orde baru, nilai-nilai demokrasi di Indonesia mulai benar-benar bisa dikukuhkan. Hal ini dapat dilihat dari disahkannya Undang-undang No. 40 tahun 1999 tentang pers, dibangunnya lembaga konstitusi, anti rasuah, KPU, penghapusan dwifungsi ABRI,  dan beberapa kebijakan lain.

Sejak itu masyarakat mulai “melek” politik. Semua elemen berlomba untuk mendedikasikan dirinya pada negera lewat jalur politik. Di samping berdampak positif terhadap kemajuan arus informasi dan kebebasan berpendapat. Namun iklim politik perlahan mulai kembali seperti eranya orde lama, dimana parpol lebih banyak memprioritaskan kepentingan ideologis dan materialisnya dari pada kepentingan masyarakat umum. Sehingga terjadi tarik menarik kompromi dan saling lempar isu antar satu parpol dengan yang lain (yang berpotensi terhadap terjadinya perpecahan di kalangan masyarakat). Pola seperti inilah yang kemudian menjadikan tensi politik semakin tinggi, sehingga bisa berakibat pada terhambatnya pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat akan dikesampingkan.

Bisa jadi program A sudah bagus, namun karena hal tersebut dinilai akan menggerus suara parpol lain, maka mereka menyuarakan isu-isu yang akan membuat program tersebut dianggap tidak benar. Akibat dari arus isu yang semakin liar, akhirnya program pun dapat benar-benar gagal direaliskan. Hal ini dapat dilihat ketika awal mula orde lama, dimana legislatif lebih mementingkan pertikaian idelogis antara kaum Agamis, Komunis dan Nasionalis daripada memikirkan kesejahteraan rakyat. Ini yang kemudian membuat presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 dan mengubah Indonesia dari demokrasi liberal menuju demokrasi terpimpin.

Keributan-keributan seperti itulah yang apabila eksekutif terpancing masuk ke dalamnya, maka akan memperparah terhambatnya dinamisme kemajuan. Salah satu hal yang dapat dijadikan indikator mengenai apakah kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum sudah berjalan dengan baik atau tidak adalah dengan melakukan perbandingan dengan beberapa negara tetangga. Realitanya dalam masalah pendidikan, kesehatan, pembangunan, transporatasi umum, dan lain-lain Indonesia dapat dikatakan agak tertinggal.

Salah satu contoh negara monarki konstituonal adalah Thailand. Negara Gajah Putih tersebut mulai beralih dari monarki absolute sejak tahun 1932. Artinya pemerintahan di  Thailand berjalan secara demokratis sesuai kontitusi. Meskipun beberapa kalangan mengatakan bahwa demokrasi di Thailand adalah demokrasi yang radikal. Hal ini terindikasi dari banyaknya kudeta yang pernah dilakukan, sejak tahun 1932 sampai saat ini telah terjadi setidaknya sekitar 20 kali kudeta oleh militer. Militer selalu mengawal manuver politik politisi yang berbeda jalur.

Mengenai kebebasan berpendapat, kebebasan pers dan hak asasi manusia, tidak seperti Indonesia, Thailand cukup menutup diri akan hal ini. Konflik di Thailand selatan tercatat telah memakan lebih dari 6500 korban jiwa. Semua media hampir menutup diri akan hal ini. Ini yang membuat kasus pelanggaran hak asasi manusia di Thaialnd hampir tidak pernah mencuat ke dunia internasional. Yang paling heboh di awal abad ini adalah tragedi takbai sekitar tahun 2004, dimana sekitar 1000-2000 masyarakat berdemo untuk menuntut agar rekannya yang ditahan dengan tuduhan memasok senjata segera dibebaskan, namun malah dibalas dengan berondongan peluru. 6 orang mati di tempat karena terkena tembakan. 78 mati di rumah sakit. 35 mati ditemui mengapung di sungai dan sekitar 1000 lebih orang luka-luka. Bahkan tahun 2016 aparat juga menangkap 44 masyarakat yang melakukan aksi untuk mengenang kejadian takbai dengan sewenang-wenang. Raja di Thailand adalah simbol kesucian yang tidak boleh dilecehkan sedikitpun. Dimana seorang yang menghina Raja dapat dihukum 15 tahun penjara. Hal ini beberapa kali terjadi dan pernah menjerat pengguna medsos, bukan hanya pada pembuat status, yang “like” pun juga ditangkap. Pasal ini dikenal dengan pasal “lese majeste” atau pasal pelindung keluarga raja.

Nilai-nilai dari sistem monarki absolute yang penuh dengan kesewenang-wenangan di Thailand (atau bahkan di negara monarki lain seperti Arab Saudi) tampaknya masih tersisa sampai sekarang. Sehingga masih banyak terjadi represifitas yang dilakukan oleh kerajaan terhadap masyarakat sipil. Nilai plus dari sistem ini adalah, ketika pemerintah atau kerajaan mencanangkan suatu program yang dinilai baik untuk kemaslahatan umum, tanpa ada ricuh isu HAM, eksploitasi alam dan tanpa ada orang yang akan berani mengkritik, kebijakan tersebut saat itu dapat langsung direalisasikan. Seketika itu pula masyarakat umum dapat merasakan manfaatnya.

Dampaknya dapat dilihat dari pembangunan di Thailand yang cukup baik. Baik berupa fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, pangan dan stabilitas ekonomi masyarakatnya. (Pada saat penulis menjadi volunteer di pedesaan Southern Thailand, hampir setiap rumah punya minimal satu kendaraan roda empat).

Pelayanan kesehatan di Thailand berdasarkan berita yang dirilis oleh VOA juga merupakan percontohan untuk kawasan asia. Kereta ekonomi juga disediakan gratis untuk siapapun dan dengan jarak sejauh apa pun. Jalan-jalan mulus dan luas (bukan tol, jadi tidak usah membayar) dengan waktu tempuh yang efisien (Jarak 170-an KM dari Yala-Songhkla hanya ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam setengah, sedangkan di Jawa Timur, Surabaya-Malang dengan jarak 90 KM juga bisa memakan waktu 2 jam setengah. Faktor kepadatan penduduk mungkin juga berpengaruh).

Hal ini juga dipaparkan secara jelas oleh Robyn Meredith dalam The Elephant and The Dragon. Dimana dia mencoba melakukan perbandingan mengenai laju kemajuan antara China yang terkenal dengan pemerintahan otoriternya yang kemudian digambarkan sebagai naga karena laju kemajuannya sangat pesat, sedangkan India dengan sistem demokrasinya digambarkan sabagai gajah dengan laju yang santai tapi pasti.

Berdasarkan hal di atas juga tidak dapat disimpulkan bahwa sistem monarki lebih baik dari demokrasi, atau sebaliknya. Sistem politik memang berpengaruh terhadap kemajuan suatu negara, tapi signifikan tidaknya sangat tergantung dari seberapa bersih dan cerdas penguasa dalam menjalakannya pemerintahannya. Karena kenyataannya Amerika dengan title negara paling demokratis di dunia, dengan segala hiruk pikuk politik dalam negerinya, telah sukses menjadi negara adidaya. Demikian juga ada beberapa negara dengan sistem monarki yang masih hidup dalam ketertinggalan. 

Realitanya Indonesia mengalami tren kemajuan (baik ekonomi, HAM, pendidikan) yang sangat signifikan setelah didengungkannya reformasi. Ini berarti konsep demokrasi (yang benar-benar demokratis) sudah sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Hal tersebut akan lebih baik apabila oposisi menjalankan perannya sebagai check and balance tanpa harus menggunakan isu-isu yang dapat membodohi pola pikir rakyat hanya untuk menjatuhkan pemerintah. Pemerintah juga harus fokus pada pembangunan dan tidak mengedepankan kepentingan golongan dan kelompoknya. Nilai-nilai demokrasi harus berjalan dengan ramah dan santun. Apabila hal tersebut dapat dijalankan, sesuai diprediksi, semoga tahun 2036 Indonesia bisa berubah status dari negara berkembang menjadi negara maju.

#menulis layaknya pakar hehe

Share:

Orang Kita di Saudi Arabia

Entah sejak kapan bangsa Indonesia sudah mulai hijrah ke Arab Saudi, yang jelas bangsa Arab mulai masuk ke Nusantara menurut M.C. Ricklefs sejak 644-666 Masehi, atau periode ketika sahabat Utsman ibn Affan menjadi khalifah. Orang Indonesia mulai terdengar banyak hijrah ke Arab sejak jaman Wali Songo, sampai beberapa abad setelahnya ketika banyak agamawan Nusantara yang kemudian memilih menetap di sana, bahkan beberapa di antaranya berhasil menjadi ulama besar, seperti Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh A. Khatib al-Minangkabawi, dan ulama besar lainnya yang juga pernah dinisbatkan sebagai imam masjidil haram. Mungkin dari inilah kemudian muncul benih-benih keinginan “manut kyai” bagi generasi setelahnya, tapi dengan niatan yang berbeda.

Sampai sekarang taksiran mengenai berapa jumlah WNI (Warga negara Indonesia) di Arab Saudi tidak bisa diprediksi dengan akurat, bahkan Dubes Indonesia untuk Saudi Arabia, Bapak Agus Maftuh A. ketika ditanya mengenai hal tersebut mengatakan bahwa hanya Allah yang tau mengenai jumlah pastinya. Hal ini dikarenakan TKI/TKW yang semakin bertambah, baik dari jalur legal atau pun ilegal. Pola pemberangkatan TKI ilegal biasanya bervariasi, ada yang berangkat dengan visa umroh tapi menetap dan tidak kembali, ada dengan pemalsuan identitas, dan ada juga yang melalui agen dan administrasi birokrasi resmi.

Bagi WNI yang legal, untuk menetap di sana harus menemukan kafil (penanggung jawab) yang terdiri dari orang Arab Saudi tulen, biasanya kafil ini diangkat dari majikan-majikan mereka, atau orang lain dengan membayar beberapa Real. Bagi orang yang ilegal, ruang geraknya akan sangat terbatas, atau meskipun dinyatakan tidak terbatas tetapi selalu dalam bayang-bayang Baladi (sejenis organisasi yang biasanya menangkap orang-orang ilegal). Baladi biasa beroperasi mencari incaran mulai dari rumah ke rumah sampai ke pasar-pasar. Saya pernah belanja di salah satu pasar besar di Mekah, mungkin dapat dikatakan sejenis mall. Ketika itu siang hari. Saya melihat beberapa penjaga toko bermuka Bangladesh terbirit-birit berhamburan kemana-mana. Setelah beberapa lama saya baru tau kalo ternyata saat itu ada Baladi yang sedang beroperasi. Baladi meminta semua toko untuk ditutup saat itu juga, dan terlihat ada salah satu orang Bangladesh yang tertangkap (mungkin karena dia ilegal). Karena semua toko ditutup, akhirnya orang-orang yang berniat membeli keluar. Pasar sepi seketika.

Bahkan saya pernah hampir ditangkap ketika di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Karena menunggu flight yang cukup lama, saya putuskan sekedar jalan-jalan sekitar bandara. Saat itu saya menemukan kursi kosong, saya rebahkan badan, tiduran sendirian. Suasana tampak sepi. Tiba-tiba ada seorang berbadan tegak mengampiri saya dan langsung teriak (suara orang Arab memang agak keras) “Wain paspoort”, saya tidak paham maksudnya. Dia kembali teriak “passport” “passport” beberapa kali sambil memegang tangan saya. Dari itu saya mulai faham kalau itu sebuah isyarah bahwa dia ingin saya mengeluarkan passport. Ketika saya rogoh kocek, saya baru ingat bahwa passport saya ditinggal di tempat asal. Kemudian saya jawab saja dengan kata “umroh” berkali-kali, akhirnya dia faham dan kemudian meninggalkan saya. Saya kemudian baru tau kalo “Wain passport” itu adalah bahasa arab amiyah/pasaran (bukan bahasa nahwiyah/bahasa Qur’an) yang berarti dimana passportmu? (ini seperti kasus saya ketika bertemu dengan orang Afganistan yang mengajak saya berkomunikasi dengan bahasa Arab, ketika saya tanya “Mata Tarjiu ila baladika?” dia bingung dan bertanya what is mata? Padahal Mata adalah bahasa Al-Qur’an yang berarti "kapan". Tidak semua orang Arab dapat paham dan berkomunikasi dengan bahasa Arab Nahwiyyah/bahasa Arab Al-Qur’an.

Kadang saya juga berfikir mengenai kebijakan pekerjaan umum di Arab Saudi. Apakah karena di sana terlalu banyak potensi/lowongan kerja dengan masyarakat yang terbatas atau seperti apa, sehingga mereka sangat open terhadap para pekerja luar negeri? Pertanyaan tersebut agaknya sedikit terjawab setelah masuk ke Arab. Ketika antri pemeriksaan imigrasi, beberapa petugas imigrasinya masih sangat muda, saya taksir usianya sekitar 16-17 tahun. Ada juga yang terlampau sepuh. Sehingga ketika melaksanakan tugasnya, mereka tampak kurang begitu profesioanl (Dia sangat santai dalam bekerja, bahkan sambil mengunyah permen karet, terlihat seperti tidak ada antusias untuk sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya, padahal banyak sekali deretan orang yang antri berdiri untuk pemeriksaan imigrasi yang pastinya merasa sudah lelah dan ingin cepat selesai).

Tidak sulit untuk menemukan orang Indonesia di Arab, sejak masuk ke bandara pun beberapa petugas cleaning service-nya adalah orang Indonesia. Supir bus yang biasa mengantar dari Jeddah ke Mekkah atau Madinah banyak yang juga orang Indonesia. Apalagi saat musim haji, bus yang disediakan oleh pemerintah Arab untuk mengantarkan jamaah haji dari hotelnya ke masjidil haram selama 24 jama secara free kebanyakan supirnya ya orang Indonesia. Untung tidak ada kawin silang Indo-Arab, kalo ada mungkin Arab Saudi sudah dikuasai orang Indonesia hehe. Padahal, tidak ada kawin silang pun banyak orang Arab Saudi yang sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, beberapa penjaga toko, anak-anak yang diasuh oleh asisten rumah tangga berasal dari Indonesia, bahkan di Jeddah saya pernah menemukan penjaga toko yang menyanyikan lagu “alamat palsu”-nya Ayu Ting Ting dengan fasihnya.

Baiknya Arab Saudi dalam membuka banyak pekerjaan untuk orang Indonesia mungkin tidak luput dari hubungan baik yang telah dilakukan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dengan Raja pertama Arab, King Abdul Aziz. Konon Soekarno dulu pernah mengirim 2 kapal pohon mimba ke Arab. Pohon inilah yang banyak menghijaukan dan memberi naungan jamaah haji di padang Arafah dan pinggiran jalan kota Mekah, hingga kini pohon tersebut dinamakan pohon Soekarno.

Orang Indonesia di Arab banyak berdomisili di Mekah, Madinah, dan Jeddah. Menurut beberapa cerita juga banyak yang di Riyadh. Saya juga pernah melakukan perjalanan ke kota Thoif (Thoif adalah dataran tinggi yang dingin, berjarak sekitar 80-90 KM dari Mekkah. Identik dengan cerita mengenai awal mula Nabi hijrah sebelum ke Madinah), ada beberapa orang Indonesia yang berseliweran di sana, sepertinya orang Indonesia juga banyak mendiami daerah itu.

Biasanya orang Indonesia membentuk sebuah komunitas, di Mekkah beberapa tetangga saya yang puluhan tahun di Arab banyak yang tinggal di kampung Abu Jahal (saya tidak tau nama aslinya, tapi mereka menyebutnya demikian). Kampung ini terletak kira-kira sekitar 7 KM dari masjidil haram. Naik taksi hanya perlu membayar sekitar 10 Real. Biasanya mereka sering mengadakan tahlilan dan yasinan di malam Jum’at atau momen tertentu dengan mengajak orang Madura yang lain. Besar kontrakan yang ditinggalinya variatif, tapi pada saat saya masuk ke salah satu kontrakan besarnya sekitar 10x10-an meter. Saya lupa biaya kontrakannya setahun, tapi mereka bercerita bahwa perabotan di dalam rumahnya yang bagus-bagus itu hampir semuanya tidak ada yang diperoleh dari hasil membeli. Mereka mendapat secara gratis dari orang Arab. Biasanya setelah lebaran orang Arab di sekitar sana akan membuang lemari dan perabot yang lain karena mereka sudah beli yang baru. Akhirnya daripada dibuang orang-orang Indonesia di sana menawarkan diri untuk menampung. Lumayanlah.

Meskipun Orang Arab terkenal dengan gaya komunikasi yang cukup keras. Bicara biasa mungkin orang Indonesia akan mengira mereka sedang cekcok dan  ingin berkelahi. Tapi Mereka mempunyai ciri khas yang sama. Sangat loyal. Banyak di antara mereka yang benar-benar mengamalkan bab infaq, sedekah dan zakat. Kalo di Indonesia ketika ada orang sedekah, orang-orang berebut agar mendapat bagian, kalo di sana lebih-lebih ketika malam Jum’at mereka lah yang berebut agar sedekahnya diterima. Saat musim haji, di pinggir jalan banyak sekali orang-orang yang ingin sedekahnya diterima oleh para jamaah haji. Baik berupa buah-buahan, nasi kabuli, sampai hanya air putih biasa.

Lanjut ....Di dalam kontrakan, saya hampir tidak merasa bahwa sedang berada di Arab Saudi, karena mulai dari makanan, rokok yang disajikan dan tontonannya di Televisi, semuanya berciri khas Indonesia. Saat itu mereka sedang asyik nonton Dangdut Academy Indosiar. Katanya, kadang dalam sebulan mereka bisa menghabiskan pulsa sekitar 2 juta hanya untuk mendukung salah satu penyanyi favoritnya. Di musim piala dunia, kadang orang Arab lah yang  numpang nonton, karena di Arab untuk melihat siaran sepak bola piala dunia adalah berbayar. Beda dengan RCTI. Gratis. (Mengenai rokok biasanya mereka mendapatkan rokok Indonesia dari menitip ke salah satu kerabatnya yang sedang pergi umroh atau membeli ke salah satu TKI yang biasa memasok rokok juga dari orang-orang yang pergi umroh).

Di antara banyak pekerja kasar luar negeri di Arab, mulai dari Afrika, Bangladesh, Indonesia, India dan Philipina (Pekerja Philipina hanya ada di Jeddah, karena banyak dari mereka adalah non muslim, jadi dilarang masuk ke Mekah dan Madinah) katanya orang Indonesia adalah orang yang paling dipercaya dan disayang. Biasanya orang Arab akan memilih pembantu rumah tangga yang berasal dari Indonesia. Bahkan pengalaman saya, pernah suatu saat ketika musim haji, seperti biasa orang-orang Indonesia di sana banyak bekerja sambilan dengan menjadi pedagang kaki lima yang menjual makanan Indonesia di depan hotel yang didiami jemaah haji Indonesia. Ada orang Arab yang bertanya ke hampir satu per satu pedagang adakah diantara mereka yang berkenan menjadi pembantunya, karena istrinya sedang hamil. Tapi saat itu tidak ada pedagang yang berkenan. Dan saya juga pernah masuk ke Bin Daud di Jalan Aziziyyah (salah satu super market besar di Arab, mungkin di Indonesia seperti Carefour) hampir keseluruhan kasirnya adalah orang Indonesia. Sedangkan bagian cleaning service adalah Bangladesh dan lain-lain.

Beberapa tetangga saya yang sudah lama menjadi asisten rumah tangga di Arab bahkan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Semisal tetangga di belakang rumah saya yang sudah 20 tahun lebih di Arab, dia bermukim di Madinah, dekat dengan masjid Nabawi (setiap malam Jum’at dia ditugaskan selalu membawa kereta bayi yang isinya adalah roti, kurma dan teh yang ditunjukkan untuk orang-orang yang ingin berbuka puasa di masjid). Dia sudah menjadi asisten rumah tangga sejak ibu x (juragannya yang lama) masih hidup, ibu x sangat sayang kepadanya, bahkan saking sayangnya, dia selalu dibawa kemana-mana, sampai ketika akan pulang sebentar ke Indonesia, ibu x sendiri yang mengantarnya dari Madinah ke bandara Jeddah, perjalanan 400 KM lebih. Sekarang ibu x dan suaminya sudah meninggal, yang tersisa adalah anaknya yang berprofesi sebagai dokter, anaknya ibu x sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, dia sudah seperti bukan di posisi asisten rumah tangga, bahkan dia sering memarahi anaknya ibu x ketika melakukan hal yang tidak pantas.

Ada juga tetangga saya yang juga sudah puluhan tahun menjadi asisten rumah tangga di Mekkah. Dia selalu dibawa kemana-mana oleh majikannya. Yang membesarkan anak-anak majikannya adalah tangannya, tidak heran anak-anak majikannya sudah menganggap dia seperti ibu sendiri. Majikannya juga sangat baik kepadanya, ketika dia sakit, majikan (perempuan) nya sendiri yang membuatkannya jamu, dan menyuruhnya minum, mengetahui dia tidak suka minum jamu, majikan itu tidak mau pergi sebelum jamu itu benar-benar diminum.
Ada juga tetangga yang berprofesi sebagai perias yang sering diminta merias keluarga kerajaan. Ada pula yang menjadi pembantu salah satu keluarga raja sehingga sering dibawa keluar negeri. Terlepas dari itu, banyak juga cerita mengenai asisten rumah tangga yang sering didzolimi oleh majikannya, baik disiksa, dilecehkan dan diancam untuk dibunuh. Tak heran banyak juga para TKI yang pulang-pulang ada yang dalam keadaan gila, bahkan tinggal nama.

Agaknya para TKI/TKW tidak boleh dipandang rendah sebelah mata. Toh mereka pastinya tidak mau jauh dari keluarga dan kampung halaman jika bukan karena terpaksa. Mereka juga salah satu penyumbang devisa yang cukup besar terhadap negara. Yang jelas dimana pun kita berada, asal kasih sayang tetap di dada, maka kebaikanlah yang akan kita terima.

#kalo ada yang salah mohon dikoreksi ya guysss

Share:

Icon Display

Dahulukan Idealisme Sebelum Fanatisme

Popular Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Recent Posts

Kunci Kesuksesan

  • Semangat Beraktifitas.
  • Berfikir Sebelum Bertindak.
  • Utamakan Akhirat daripada Dunia.

Pages

Quote

San Mesan Acabbur Pas Mandih Pas Berseh Sekaleh