Memahami Sejarah Al-Qur'an dalam 5 Menit
Apakah Mungkin di Nusantara Pernah Ada Seorang Nabi?
Adanya Rosul dan Nabi merupakan dua hal yang harus dipercaya oleh seorang mu’min. Seorang tidak diterima imannya kecuali sebelum mengimani adanya Rosul dan Nabi. Diceritakan bahwa jumlah Rosul dalam Islam adalah sekitar 300 lebih, ada riwayat yang mengatakan bahwa jumlahnya 313/315. Sedangkan jumlah Nabi ada riwayat yang mengatakan sekitar 124.000. Namun di antara semuanya, hanya ada beberapa yang wajib diketahui.
Artinya jumlah para Rosul dan
para Nabi ini sangat banyak. Yang tugasnya adalah menyebarkan ajaran
ketauhidan. Hal ini sejalan sebagaimana di dalam Al-Qur’an An-Nahl ayat
36. “Dan sesungguhnya kami telah
mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), sembahlah Allah saja dan
jauhilah taghut.”
Ciri utama dari Rasul dan
kenabian adalah mengajak kepada kebenaran. Di samping kebenaran dalam
berkeyakinan juga kebenaran dalam prilaku. Hal ini kemudian yang menjadikan
beberapa orang mengatakan bahwa orang-orang penting di masa lalu yang megajak
pada kebaikan, ada kemungkinan mereka adalah seorang Nabi atau Rosul. Sebut saja
Socrates, meskipun tidak jelas Nabi siapa. Karena hanya sekedar anggapan. Kemudian
Siddharta Gautama yang notabene menjadi kiblat orang budha disebut-sebut juga
ada kemungkinan adalah Nabi Dzulkifli.
Bahkan sebelum zaman Nabi pun,
ada istilah Al-Khunafa’ sebutan bagi mereka yang menolak paganisme. Mereka ini adalah
penganut monoteisme. Jumlahnya memang tidak banyak. Tapi mereka teguh menolak
untuk menyembah pada berhala yang diletakkan di sekitar Ka’bah. Mereka mengatakan
bahwa mereka hanya akan menyembah tuhannya Ibrahim.
Di dalam buku sejarah Ka’bah
disebutkan bahwa salah satu dari mereka adalah Khalid bin Sinan. Bahkan di buku
tersebut juga mengutip bahwa Nabi bersabda mengenainya bahwa Khalid adalah
seorang Nabi yang ditelantarkan oleh kaumnya. Demikian juga ketika anak
perempuan Khalid datang kepada Nabi dan mendengar Nabi membaca penggalan surat
Al-Ikhlas (qul huwallahu ahad), perempuan tersebut seketika mengatakan
bahwa ayahnya pernah membaca seperti itu. Ini artinya jika hadis tersebut
shohih dan perkataan Nabi Muhammad yang menyebut Khalid sebagai seorang Nabi
bukanlah kiasan, artinya bahkan dalam kurun waktu yang tidak begitu jauh
sebelum Nabi Muhammad pun juga ada seorang Nabi.
Pada intinya Rosul dan Nabi itu
memang orang yang dipilih oleh Allah sebelum Islam untuk menyebarkan
nilai-nilai kebaikan ke seluruh jagat raya. Lalu bagaimana dengan Nusantara? Apakah
ada kemungkinan di Nusantara ini pernah diturunkan seorang Nabi atau Rosul?
Hal tersebut tentu menjadi
misteri. Karena yang banyak tercatat di pelajaran sejarah hanya agama Hindu dan
Budha yang dibawa oleh para pedagang India berabad-abad yang lalu. sebagai
jawabannya tertera di dalam buku Atlas Walisongo bahwa Di era jauh sebelum tibanya
pendatang (pedagang India dengan agama Hindu Budha-nya) di bumi Nusantara,
penduduk setempat sudah mempunyai kepercayaan sendiri, yang biasa disebut dengan
“Kapitayan”. Ajaran Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran dimana
penganutnya memuja sembahan yang disebut dengan Sang hyang Taya. “Hyang”
bermakna Hampa Kosong, suwung atau awung awung, sedangkan “Taya” bermakna Absolut, tidak bisa dipikir, didekati dengan
panca indera dan dibayang-bayangkan. Atau orang jawa biasa menyebut “tan
kena kinaya ngapa”.
Dalam rangka memuja Sang Hyang
Taya, biasanya penganut Kapitayan menyediakan sesajen dari anyaman bambu untuk
tempat bunga, arak, Tu-Kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan. Berbeda dengan
sembahyang tunggal yang dilakukan oleh masyarakat awam, amaliah yang dilakukan
oleh para ruhaniawan Kapitayan berlangsung khusus di tempat yang disebut dengan
sanggar (bangunan bersegi empat beratap tumpang dengan lubang ceruk di dinding
sebagai lambang kehampaan Sang Hyang Taya).
Dalam bersembahyang menyembah
Sang Hyang Taya, mereka mengikuti gerakan tertentu: mulanya sang ruhaniawan
Kapitayan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tutu-k (lubang ceruk)
dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sang Hyang Taya di dalam
tutu-d (hati), lalu kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada
hati. Setelah Tu-lajeg ini kemudian dilanjutkan dengan proses tu-ngkul
(membungkuk memandang ke bawah) lumayan lama, lalu prosesi tu-lumpak (bersimpuh
dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir adalah to-ndhem (bersujud seperti
bayi dalam perut).
Jika melihat sejarah tersebut
bahwa ajaran yang dianut oleh orang Jawa sebelum datangnya agama Hindu-Budha adalah
monoteisme. Dimana mereka menyemabh dzat yang tunggal. Tatacara sembahyang-nya
pun sangat mirip dengan sembahyang-nya Islam. Meskipun di sana masih ada
praktek sesajen. Sebagai catatan bahwa Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad
juga diperintahkan untuk melakukan sholat. Sedangkan Islam datang untuk
menyempurnakan agama-agama terdahulu, termasuk dalam hal sholat.
Artinya tidak mungkin ajaran
kapitayan dengan praktek sembahyang-nya yang mirip ajaran Nabi terdahulu itu
ada secara ujuk-ujuk dan dikarang sedemikian miripnya. Pasti ada sebab dan
penyebab sehingga praktek dan keyakinan monoteisme-nya bisa sangat serupa. Sehingga
kembali muncul pertanyaan di atas, apakah mungkin di Nusantara ini pernah ada
seorang Nabi?
Pengalaman menjadi Volunteer di Negeri Gajah Putih (PART 2)
Pengalaman Menjadi Volunteer di Negeri Gajah Putih (Part 1)
Dialog Tanpa Emosi
Salah satu rupa dialog yang tidak baik adalah dialog yang tidak fokus pada subtansi permasalahan. Mereka terlalu melibatkan emosi dalam dialog. Seperti contoh, Ratna adalah teman dekat Rika untuk mengerjakan tugas bersama. Tatkala Ratna sedang nugas, Rika membuat kopi untuknya. Ternyata kopinya terlalu pahit. Dengan emosi Ratna protes. "Rik, kopinya kok agak pahit ya", dengan sedikit bercanda.
Melibatkan emosi dalam dialog seperti inilah yang kemudian meruntuhkan jejaring dan menghambat peluang-peluang antar manusia. Bisa jadi kelak Ratna atau Rika menjadi HRD di perusahaan yang diimpikan salah satu di antara mereka, atau sebelumnya mereka berdua adalah sosok yang saling membantu ketika yang lain ada masalah, karena emosi dalam dialog kopi, hal-hal tersebut hilang dengan seketika.
Contoh lain seperti pada saat perjalannya ke tempat kerja, mobil A tidak sengaja menyenggol mobil si B. Dari peristiwa itu, kemudian si B turun dari mobil, dia emosi dan memaki-maki si A, bahkan si B sampai memukul si A beberapa kali.
Contoh-contoh di atas adalah contoh bagaimana dialog yang terlalu melibatkan emosi marah itu tidak baik. Kemudian bagaimana dengan emosi senang dan takut? Sejatinya sama saja. Terlau melibatkan emosi senang dalam dialog akan menjadikan pergeseran pokok topik dari subtansi dialog, apalagi emosi takut. Perasaab takut akan menyebabkan banyak problem tidak selesai.
Hendaknya dalam dialog manusia tidak terlalu mengedepankan emosi. Fokus pada subtansi dan pokok permasalahan yang dituju. Jika kemudian pokok topiknya adalah kopi yang pahit, maka fokusnya adalah bagaimana menjadikan kopi itu tidak pahit, apakah dengan menambahkan gula atau menggantinya dengan kopi baru. Atau jika topiknya adalah mobil yang rusak dan harus ada uang ganti rugi karena kerusakan, seharusnya fokus dialog harus tertuju ke sana, dengan tanpa terlalu melibatkan emosi marah yang kerap kali hanya akan menjadikan permasalahan semakin runyam. Atau jika pokok masalahnya adalah dia punya problem di perkualiahan dan solusinya harus menemui dekan, maka dia harus berdialog dan menyingkirkan rasa takutnya, maka problem akan selesai.
Dengan contoh-contoh di atas bukan berarti emosi itu dilarang dalam dialog. Emosi dibutuhkan karena tanpa emosi manusia akan kaku. Emosi tidak akan pernah luput dalam diri manusia, namun yang terpenting bagaimana manusia bisa menakar dan mengekspresikan emosi itu di waktu dan tempat yang tepat. Seperti meluapkan emosi kesedihan dengan curhat dan menangis kepada teman dekat ketika sedang menghadapi masalah, karena hal itu akan membuang sampah-sampah emosi di alam bawah sadar yang jika dibiarkan akan meledak. Atau emosi rasa takut ketika manusia tau bahwa harus berhadapan dengan hal yang sudah terjadi secara ril. Karena emosi itu akan menjadi bahan pertimbangan objektif dalam membuat keputusan.
Dialog adalah media yang sangat penting untuk memperoleh kebahagiaan hidup, yang bisa jadi bentuknya adalah kesuksesan, kaya raya, jabatan dan yang lainnya. Dialog dapat menjadi kunci dalam menggapai hal tersebut. Oleh sebab itu diperlukan kiat-kiat yang baik dalam berdialog, salah satu caranya adalah dengan tidak begitu melibatkan emosi. Biarkan dialog mengalir begitu saja sebagai kedudukannya media yang menghubungkan antar manusia. Bukan sebagai media mengekspresikan emosi yang ada di dalam diri. Emosi punya tempat dan waktu sendiri untuk diekspresikan.
correct me if I have some mistakes!
The best Car Insurance in USA
Logika, Etika dan Estetika Dalam Beragama
Logika, etika dan estetika adalah bagian dari filsafat yang berhubungan dengan pola pikir dan prilaku manusia. Dalam bahasa yang lebih mudah, logika adalah cara berpikir manusia mengenai benar dan salah; etika, mengenai baik dan buruk; dan estetika, mengenai indah dan jelek.
Tiga sudut pandang tersebut akan berdampak pada prilaku manusia di kehidupan nyata, pun aktivitas beragamanya. Untuk mencapai esensi agama yang sebenarnya, manusia harus bisa meletakkan ketiganya sebagai sesuatu yang imperatif, namun tetap dalam porsi dan herarki yang dibutuhkan.
Logika atau cara berfikir yang bertumpu pada benar dan salah dalam beragama mencerminkan bagaimana upaya manusia agar praktek ubudiyyah dan amaliyahnya dapat sesuai dengan tuntunan. Dalam Islam, ini adalah bentuk ijtihad dan ikhtiyar supaya seorang muslim bisa mengimplementasikan keyakinannya dalam beragama berdasarkan petunjuk dan nilai-nilai keislaman yang dibawa oleh Rasul.
Seorang muslim harus meraih nilai-nilai tersebut melalui ilmu agama yang dicari secara intensif, kontinuitas dan bersanad serta digali dari berbagai perspektif. Hal ini dikarenakan nilai-nilai logika yang terkadang kontradiktif antara saintifik dan normatif maupun progresif dan konservatif. Tanpanya, nilai-nilai logika dalam beragama bisa jadi malah berdampak pada dzillun mudzillun(sesat dan menyesatkan).
Dalam Islam, ada dua sumber utama dalam menggali nilai-nilai kebenaran: al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan dalil al-Qur’an dan as-Sunah yang memuat aturan hukum ahli ushul membaginya menjadi 2 bagian: dalil qoth’i (jelas) dan dalil dzonni (multi tafsir). Dalil qoth’i sebagaimana contoh kewajiban melakukan wudlu sebelum sholat. Di dalam Surat al-Maidah:6 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka cucilah muka-muka kalian dan tangan-tangan kalian sampai ke siku, usaplah kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki”. Dalil tersebut mempunyai arti bahwa muslim yang ingin melakukan sholat, dia harus melakukan wudlu’ terlebih dahulu. Semua ulama sepakat mengenai hal itu.
Sedangkan dalil dzanny seperti tatacara pelaksanaan wudlu’ secara rinci. Sebagaimana di dalam a-Qur’an pada ayat yang sama, yang hanya menyebut wamsahu biruusikum atau “usaplah kepala kalian”. Sebagian ahli fiqh berbeda pendapat mengenai hal ini. Ulama Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa dengan mengusap sebagian kepala, bahkan hanya beberapa helai rambut sudah mencakup dari apa yang dimaksudkan ayat tersebut, Madzhab Maliki dan dan Hambali mewajibkan mengusap seluruh kepala, sedangkan Madzhab Hanafi seperempat kepala. Ini berarti nilai-nilai logika yang mencerminkan kebenaran dalam Islam sangat luas cakupannya. Bisa jadi satu realita terdiri dari beberapa logika yang berbeda, namun pada dasarnya tetap mencerminkan nilai-nilai kebenaran yang sama.
Etika sebagai realisasi dari pandangan manusia mengenai baik dan buruk juga merupakan faktor imperatif dalam beragama. Secara herarkis nilai-nilai dalam etika juga harus disetarakan dengan logika. Banyak hadis Nabi yang berbicara mengenai urgensi etika, yang paling mashur sebagaimana hadis Nabi “Sesungguhnya saya (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik” (H.R. Ahmad), dan hadis yang lain ketika Rasul ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” (H.R. Tirmidzi).
Kedua hadis di atas memperjelas bahwa posisi etika dalam agama Islam juga tidak boleh dinomerduakan. Artinya, ketika manusia berbicara mengenai Islam, dia tidak hanya berbicara mengenai tatanan hukum yang mengatur benar dan salah, tetapi juga tatanan etika: baik dan buruk.
Problematika dewasa ini adalah sudut pandang yang dipakai dalam beragama hanya bertumpu pada nilai-nilai logika yang cenderung subjektif dan kontradiktif, kemudian melupakan etika. Maka yang terjadi adalah manusia saling serang dan masing-masing mengklaim bahwa nilai-nilai kebenaran yang ada di dalam pikirannya merupakan kebenaran sejati. Padahal hakikat kebenaran sejati hanya bisa dilihat ketika di surga. Sejalan dengan pendapat Jalaluddin ar-Rumi: “Kebenaran bagaikan selembar cermin di tangan tuhan. Jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, lalu berpikir telah memiliki seluruh kebenaran”.
Oleh sebab itu peran etika sangat penting. Karena dengan dibarengi etika, logika yang berpotensi menimbulkan konflik akan dapat dikikis dengan nilai-nilainya yang santun dan mendamaikan. Dalam contoh amaliyyah, ketika seseorang menyampaikan pendapat mengenai apa yang berdasar logikanya salah, dia juga harus menjaga perasaan orang lain yang menganggap bahwa itu sesuatu yang benar. Sinergi dari dua sudut pandang tersebut kemudian akan melahirkan estetika. Estetika merupakan puncak dari seluruh nilai yang harus dicapai dalam beragama. Meskipun sifatnya abstrak, estetika dalam beragama merupakan hal yang cukup sulit dicapai. Karena banyak manusia yang masih sulit menyinergikan logika dan etika.
Sedangkan dalam ubudiyyah, contoh kecilnya adalah ketika seseorang melaksanakan sholat. Orang yang sedang sholat, secara logika atau ketentuan hukum, dia yang hanya memakai celana sepertiga, asalkan di atas pusar dan di bawah lutut, sudah dihukumi sah. Namun tentunya itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai etika seorang hamba terhadap tuhannya. Hamba yang menghadap tuhannya dengan busana seperti itu tentu bukan hamba yang baik. Oleh sebab itu dia harus memakai pakaian yang lebih tertutup dan sopan. Setelah dua sudut pandang tersebut dilakukan dengan sempurna, baru kemudian dia bisa mencapai nilai-nilai estetika. Nilai esetetikanya adalah ketika dia bisa menjalankan sholatnya dengan penuh ketenangan dan kedamaian sebagaimana dalam hadis: “An ta’budallah ka annaka tarahu, faillam takun tarahu, fainnahu yaraka” (Engkau menyembah kepada Allah, seperti engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya tuhanmu melihatmu). (H.R. Muslim).
G30S/PKI dalam Pandangan Prof. Salim Said
Gstapu Adalah Daulat
1965, di tengah situasi politik yang lebih menguntungkan PKI, beberapa pihak yang tidak menginginkan komunis berkuasa di Asia Tenggara mencoba untuk memainkan teori domino. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum terjadinya gestapu, DN Aidit sempat berkunjung ke Rusia. Pada kunjunganya sempat terjadi perdebatan sengit antara Aidit dan salah satu pembesar Komunis Rusia. Mereka membicarakan perbedaan pendapat mengenai komunisme antara Rusia dan China, namun ternyata Aidit lebih memihak ke China sehingga menyulut amarah pembesar komunis Rusia tersebut. Dia berkata bahwa suatu saat akan menghancurkan komunis Indonesia. Tak heran jika setelah terjadinya gestapu, banyak pihak menuding pemrakarsa manipulasi dokumen gilkrift adalah GKB (Badan intelijen Rusia).
Gestapu merupakan salah satu operasi militer yang mayoritas eksekutornya adalah pasukan cakrabirawa (paspmapres). Bisa jadi gestapu adalah operasi yang gagal total sesuai dengan rencana awalnya, atau bahkan memang sengaja digagalkan oleh salah satu pihak yang mempunyai kepentingan.
Sebagaimana history revolusi bangsa Indonesia yang tidak lepas dari pendaulatan (penculikan tokoh agar dia mau melakukan sesuatu), seperti yang dilakukan oleh para pemuda terhadap Soekarno-Hatta agar secepat mungkin meproklamirkan kemerdekaan, atau penculikan terhadap Syahrir sebagai perdana mentri waktu itu dengan maksud pemberhentian perundingan dengan pemerintahan kolonial. Semua proses penculikan terlaksana dengan sukses tanpa melukai tokoh tersebut sedikit pun. Gestapu juga merupakan salah satu upaya pendaulatan dengan melakukan operasi penculikan terhadap tujuh jenderal. Hal ini ditenggarai ditemukannya dokumen glkrfit yang dibawa oleh duta besar Inggris di Jakarta kepada para jenderal tersebut.
Namun pada saat gerakan pendaulatan, operasi yang dituding Soekarno juga terlibat didalamnya itu disusupi oleh beberapa pihak yang mempunyai agenda politik khusus, seperti Syam Qamaruz Zaman dan beberapa biro khusus PKI yang lain. Tidak heran jika kemudian banyak kesaksian eksekutor gestapu bahwa mereka tidak tahu menahu secara rinci apa tugas yang harus dilakukan, karna memang perintah yang di berikan bersifat general.
Dalam hal ini ada bebera pihak yang di tenggarai terlibat kasus tersebut:
1. Soekarno
Soekarno. Semenjak dilantik jadi presiden pada 1945, hubungan Soekarno dengan tentara memang penuh dengan dinamika. Hal ini disebabkan oleh peristiwa agresi militer 2 Belanda ketika akan memasuki daerah Jogjakarta. Pada saat itu, jenderal Sudirman yang sedang sakit mengajak Sukarno untuk turut bergrilya masuk ke hutan sampai Indonesia benar-benar memperoleh kemenanangan. Namun Soekarno menolak dan mengajak Sudirman untuk menetap di Jogja saja, dan berjanji akan memanggil dokter Belanda agar dia diberikan perawatan. Namun bagi Soedirman, sebagai tentara yang mengadopsi kuat sumpah jabatan, hal seperti itu adalah sebuah penghianatan. Soekarno sebagai sipil dan politisi ulung, tentunya mempunyai pandangan yang berbeda, setiap sesuatu tidak harus diselesaikan dengan perang, kadang peluang kemenangan bisa terbuka dengan beberapa konsipirasi selimut dalam ruang.
Pada tahun 1965, yang menjadi Pangab (Panglima ABRI) adalah Ahmad Yhani. Dia berhasil menjadi penglima setelah Soekarno melengserkan Nasution, hal ini terjadi karna Nasution cukup radikal dalam menentang NASAKOM, ideologi yang di elu-elukan Soekarno pada dunia. Yhani yang cukup pintar, pura-pura mendukung NASAKOM agar Soekarno tidak begitu berpihak ada komunis. Maka tak heran jika Yhani cukup dipercaya oleh Soekarno. Meskipun beberapa waktu setelahnya, hal itu tdak terjadi lagi karna Soekarno mendengar cerita bahwa akibat radikalisme pandangan Nasution tentang Soekarno dan NASAKOM, Yhani akan melakukan serangan terhadap Nasution.
Hal lain yang juga membuat Soekarno kehilangan dukungan tentara salah satunya semenjak Inggris memberikan kemerdekaannya terhadap Malaysia. Soekarno sangat menentang karena menanggap bahwa negara tersebut hanya sebagian dari neokolonialisme yang akan mengancam Indonesia terhimpit dari dua arah. Malaysia bagian utara dan Australia di bagian selatan.
Soekarno geram karna merasa dikhianati oleh pemimpin Malaysia waktu itu yang telah melanggar perjanjian Manila. Perjanjian yang dihadiri oleh Soekarno, PM Malaysia dan Presiden Philipines. Hasil dari pertemuan tersebut ialah menyerahkan kedaulatan masyarakat di Kalimantan utara terhadap mereka sendiri dengan cara referendum. Namun ternyata PM Malaysia melalui koloninya langsung memproklamirkan bahwa kalimantan utara dibagian Sabah dan Serawak adalah negara bagiannya. Dengan beberapa upaya Soekarno mencoba mengirim pasukan ke perbatasan untuk melakukan propaganda, sementara sebagian tentara yang lain sudah melakukan kontak fisik dengan tentara Inggris.
Kesalahan Soekarno pada saat itu karna yang ditunjuk sebagai komandan perang adalah seorang KSAU yang masih Junior, Omar Dhani. Hal ini menimbulkan kecemburuan di kalangan para senior tentara, lebih-lebih Soeharto, Panglima kostrad yang ditunjuk sebagai wakil komandan perang di bawah juniornya. Lagi pula, para senior tentara menganggap bahwa Omar Dhani tidak mempunyai pengalaman perang yang mumpuni.
Maka ketika dokumen gilkrift tersebar dan disadari oleh Presiden, ada semacam ketakutan bahwa dirinya benar-benar akan dikudeta oleh para Jenderal. Oleh sebab itu ada asumsi bahwa gestapu memang diperintahkan oleh Presiden. Namun bukan untuk pembantaian, melainkan pendaulatan, dengan menculik tanpa menyakiti. Meskipun kenyataan yang terjadi berbeda, karna mungkin perintah tersebut sudah disusupi oleh beberapa kepentingan.
2. Internal angkatan darat
Di samping karena bentuk kekecewaan tentara terhadap Soekarno karna kesalahan memilih komandan perang, Krisis ekonomi yang sangat parah saat itu juga membuat masyarkat kecewa terhadap 20 tahun pemerintahan Soekarno, tidak terkecuali tentara. Tentara sebagai basis terdepan yang menolak PKI menganggap bahwa PKI adalah salah satu elemen yang mengancam keutuhan NKRI kelak, karena terbukti bahwa sepenjang sejarah PKI memang sering melakukan pemberontakan, termasuk di Madiun pada 1948 dan beberapa peristiwa di luar negeri.
Hal lain yang membuat hubungan PKI dan tentara memanas adalah karna pada saat itu PKI yang mempunyai basis kekuatan cukup banyak tersebar di beberapa sektor pemerintahan, mencoba meyakinkan Presiden dengan program angkatan lima, sebuah program yang mendorong agar rakyat sipil juga di persenjatai oleh negara.
Bisa dikatakan bahwa tentara pada masa itu dibagi menjadi 3 bagian: pertama, ialah pasukan Nasution. Nasution sebagai Jenderal senior sangat antipati terhadap Soekarno. Hal ini juga yang membuat dia pernah mengarahkan moncong meriam ke istana untuk memaksa Soekarno agar membubarkan perlemen pada tahun 1953. Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh Soekarno dengan membantah bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Nasution juga bersebrangan dengan Presiden mengenai NASAKOM karena memang Nasution sangat alergi terhadap komunisme.
Kedua, A Yhani. Yhani yang cenderung moderat mencoba merangkul semua elemen NASAKOM. Ini dilakukan agar Soekarno tidak terlalu dekat dengan PKI. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan Nasution yang radikal dan antipati, sehingga Yhani pernah mengusulkan untuk menyingkirkan Nasution, meskipun ide itu ditolak oleh senor tentara yang lain.
Ketiga, Soeharto. Soeharto yang sudah aktif sebagai tentara pada masa revolusi, pada saat itu sudah menjabat sebagai panglima kostrad. Dia merasa bahwa kolega-koleganya yang berbasis di Jakarta sudah sangat hedonis dan feodal terhadap dirinya. Hal ini bisa dilihat dari pola dan cara hidup bagaimana tentara dibawah resimen Nasution dan Yhani hidup cukup megah, dan bagaimana tentara kostrad hidup sederhana. Itu terbukti dengan cerita bahwa Soeharto dulu pernah mengajukan surat pemunduran diri kepada Nasution, dia ingin mencari pekerjaan baru karena menganggap gaji penglima kostrad masih belum cukup untuk memenuhi kehidupannya, namun hal tersebut tidak pernah terjadi, karena surat yang ditunjukkan ke Nasution tidak pernah sampai.
Beberapa konflik internal di tentara dan dendam lama terhadap komunisme yang sudah sangat menjalar, maka tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa gestapu adalah salah satu bagian dari konspirasi pihak yang berkepentingan dalam ABRI untuk melakukan revolusi besar-besaran, baik dalam internal ABRI maupun di Indonesia. Dengan cara menculik dan membantai para jenderal lewat biro-biro khusus PKI di tentara sehingga mereka bisa menyebut bahwa PKI-lah pelakunya.
3. Pihak lain
Pihak lain yang berkepentingan ialah CIA, KGB, M-16 ataupun inteljen China. Soekarno sebagai tokoh galanggang penentang utama imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh inggris dan sekutunya pasti akan menghadapi banyak anacaman. Inggris yang pada waktu itu sukses membentuk negara bonekanya disebelah utara Indonesia merasa tidak nyaman dengan negara tetangganya. Maka pada saat itu Rodman Rodeway, salah satu agen inggris lewat pengakuannya diberi anggaran beberapa ribu poundsterling untuk operasi propaganda melengserkan Soekarno.
Perang dingin yang sedang berkecamuk antara kubu barat dan timur juga sangat berpengaruh. Amerika sebagai basis kapitalisme tidak menginginkan Indonesia jatuh menjadi negara Komunisme, karna dikhawatirkan jepang juga akan jatuh menjadi negara komunisme dan mendukung perang dingin yang sedang berlangsung dalam manivestasi perang Vietnam. Salah satu cara untuk membendung hal tersebut adalah mencari tentara anti komunis untuk diajak bekerja sama melakukan tipu muslihat menghancurkan Soekarno dan Komunis di Indonesia. Adapaun tudingan terlibatnya KGB adalah banyak pihak mengatakan bahwa yang membuat dokumen gilkrift adalah seorang agen KGB berketurunan cekoslovakia.
4. PKI
Partai komunis terbesar ketiga didunia tersebut besar kemungkinan adalah dalang dibalik gestapu. Hal ini dikarenakan memang pelaku gestapu adalah biro-biro khusus PKI yang berada dalam ABRI. PKI sangat kuat dikaitkan dengan peristiwa gestapu karena sejarah mencatat PKI dan ideologi revolusioner yang digagasnya memang sangat kental dengan pemberontakan, termasuk yang dituduhkan terhadapnya dalam kasus pembunuhan 7 Jenderal.
Catatan ini diambil dari memoar Prof. Salim Said, “Dari Gestapu ke Reformasi”. Said salim adalah guru besar bidang pertahanan. Beliau termasuk yang mengusulkan bintang 5 terhadap 3 Jendral yakni Soedirman, Soeharto dan Nasution. Dia juga yang mengusulkan bahwa pimpinan negara hanya boleh memimpin selama 2 periode saja, sebenarnya hal ini pernah dikemukakan oleh politisi PDIP pada sekitar tahun 1993, namun tentu saja hal itu dibendung oleh Soeharto.






