Memahami Sejarah Al-Qur'an dalam 5 Menit

Dalam tulisan ini saya akan mengajak pembaca untuk memahami Sejarah Al-Qur'an mulai dari awal sebelum Nabi dilahirkan hingga termodifikasi. 


Nabi dan Al-Quran

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Makkah sekitar 570, di tengah-tengah keluarga atau klan (banû) Hasyim dari suku Quraisy yang pamornya ketika itu tengah surut. Ayahnya, Abdullah meninggal ketika beliau masih berada dalam kandungan ibunya, Aminah. Ketika berusia sekitar 6 tahun, ibunya menyusul kepergian ayahnya, dan si kecil Muhammad lalu diasuh kakeknya, Abd al- Muththalib, yang juga meninggal ketika ia berusia sekitar 8 tahun. 

Selanjutnya Nabi Muhammad diasuh pamannya, Abu Thalib, pemimpin banu Hasyim yang relatif miskin, tetapi terhormat. Orang inilah yang memberikan “perlindungan” kepada Nabi dan membelanya secara mati-matian dari berbagai tantangan berat yang diajukan pemuka-pemuka suku Quraisy terhadap agama baru yang didakwahkannya, sekalipun terlihat bahwa Abu Thalib sendiri tidak pernah menerima atau meyakini kepercayaan keponakannya. Solidaritas kesukuan, yang merupakan karakteristik asasi kode etik (muruwwah) suku-suku di Arabia, memang mengharuskan Abu Thalib melindungi dan menuntut balas atas setiap kerugian yang diderita Nabi Muhammad.

Kesetiakawanan kesukuan memang merupakan prasyarat mutlak dalam kehidupan liar di padang pasir. Tanpa suatu taraf solidaritas yang tinggi, tidak ada harapan bagi siapa pun untuk meraih keberhasilan dalam mempertahankan eksistensi di tengahtengah iklim dan kondisi sosial padang pasir yang kejam. Dalam taraf yang lebih jauh, solidaritas kesukuan mengharuskan seseorang berpihak secara membabi-buta kepada saudara-saudara sesukunya tanpa peduli apakah mereka keliru atau benar. 

Secara politik Nabi Muhammad terlihat telah menikmati keuntungan dari sistem perlindungan kesukuan di dalam masyarakat kota Makkah, khususnya pada tahun-tahun pertama aktivitas kenabiannya. Ia bisa bertahan hidup di kota ini, sekalipun dengan oposisi yang sangat keras, karena berasal dari banû Hasyim (suatu klan yang relatif cukup kuat di Makkah. Klan ini, berdasarkan prinsip solidaritas kesukuan, terikat kehormatan untuk menuntut balas atas setiap kerugian yang menimpanya, sekalipun banyak anggota klan tersebut tidak bersetuju dengan agama barunya. 

Sebelum mengajukan tawaran kompromi, orang-orang Quraisy telah berupaya melakukan negosiasi dengan Muhammad mengenai sejumlah masalah doktrinal yang diajarkannya: Jika Nabi memodifikasi ajarannya untuk mengakomodasikan dewa-dewa lokal mereka sebagai perantara-perantara manusia kepada Tuhan, dan barangkali menghapuskan gagasan tentang kebangkitan kembali manusia, maka mereka akan menjadi muslim. Tentang kebangkitan kembali, tidak ada kompromi yang bisa ditawarkan.

Pada 619, Khadijah dan Abu Thalib secara berturut-turut meninggal. Kepergian kedua orang ini merupakan suatu kehilangan yang sangat berat bagi Nabi. Ia kehilangan bantuan duniawi yang sangat penting baginya untuk mempertahankan kelangsungan misinya.
 
Pemimpin baru banu Hasyim, Abu Lahab, menarik perlindungan klannya atas Muhammad. Menghadapi situasi kritis semacam itu, Nabi berupaya mencari dukungan bagi perjuangannya dengan mengunjungi kota Thaif dan berdakwah di sana. Di kota tersebut, ia tidak hanya diperlakukan secara keji, tetapi juga dilempari batu, dan akhirnya terpaksa kembali ke Makkah. Hingga akhirnya Nabi hijrah ke Madinah.

Asal usul Al-Qur’an

Kitab suci kaum Muslimin, yang berisi kumpulan wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 23 tahun, secara populer dirujukdengan nama “al-Qur’an”. Sebagian besar sarjana Muslim memandang nama tersebut. Secara sederhana merupakan kata benda bentukan (mashdar) darikata kerja (fi‘l ) qara’a , “membaca.” Dengan demikian al-qur’an bermakna “bacaan” atau “yang dibaca” (maqrû’). 

Dua istilah lain di Al-quan ialah sûrah dan âyah.  Penggunaan surah di dalam al-Quran merujuk kepada suatu unit wahyu yang “diturunkan” Tuhan. bukan dalam pengertian “surat” yang dipahami dewasa ini. Makna umum kata sûrah yang bisa disimpulkan di sini adalah unit wahyu terpisah yang diturunkan kepada Nabi dari waktu ke waktu.  Sedangkan ayah memiliki makna unit dasar wahyu terkecil, selaras dengan pemahaman kita dewasa ini tentangnya. 

Sehubungan dengan pewahyuan al-Quran, dikemukakan bahwa ia pertama kali diturunkan pada malam al-qadr. Sejumlah besar mufassir berupaya menginterpretasikan malam tersebut pada “hari bertemunya du  pasukan” – yakni bertemunya pasukan Islam dengan bala tentara Quraisy dalam Perang Badr – dan menetapkan tanggal 17 Ramadlan sebagai yang dimaksud oleh bagian-bagian al-Quran di atas. 

Proses turunnya Al-Qur’an ialah dengan beberapa cara seperti melalui) wahyu, dari balik tabir atau Allah mengutus utusan yang mewahyukan dengan seizinnya apa-apa yang Dia kehendaki. Penjelasan psikologis tentang pewahyuan al-Quran  mungkin merupakan salah satu penjelasan yang paling dapat diterima oleh akal pikiran modern. Dalam psikologi analitis atau psikologi kompleks, yang dirintis Carl Gustav Jung, fenomena wahyu atau pengalaman kenabian bisa dijelaskan lewat konsep heuristik tentang bawah sadar.

Di sini dipandang bahwa pesan Ilahi datang kepada Nabi dari bawah sadarnya; dan ini tentunya sejalan dengan pengalaman Nabi tentang pesan yang datang kepadanya dari luar dirinya, karena bawah sadar berada di luar diri dalam pengertian di luar akal yang sadar. 

Jadi, konsep heuristik membuka kemungkinan bahwa Tuhan dapat bekerja melalui bawah sadar seorang nabi. Lebih jauh, bawah sadar berkait erat dengan alam sadar dalam pengertian apa yang masuk ke dalam akal pikiran seseorang dari bawah sadarnya diungkapkan dalam istilah-istilah pandangan dunianya yang sadar, meski bawah sadar juga akan terlihat memiliki dinamisme batin yang menjangkau ke depan yang darinya pemikiran baru bisa muncul. 

Jika pesan al-Quran diterima akal sadar Nabi dari bawah sadarnya dalam cara semacam itu, maka hal ini akan bisa menjelaskan mengapa pesan ilahi itu diungkapkan dalam istilah-istilah mutakhir di kalangan orangorang Makkah dan pandangan dunia Arab ketika itu, serta bagaimana pesan tersebut mencerminkan inisiatif Ilahi.

Urutan turunnya Al-Qur’an versi kronologi Mesir

Ayat Makkiah
1. al-‘Alaq 96
2. al-Qalam 68 . ayat 17-33,48-50 Md.
3. al-Muzzammil 73 . ayat 10-11,20 Md.
4. al-Muddatstsir 74
5. al-Fatihah 1
6. al-Lahab 111
7. al-Takwîr 81
8. al-A‘la 87
9. al-Layl 92
10. al-Fajr 89
11. al-Dluha 93
12. Alam Nasyrah 94
13. al-‘Ashr 103
14. al-‘Ø£diyÙ…t 100
15. al-Kawtsar 108
16. al-TakÙ…tsur 102
17. al-MÙ…‘ûn 107
18. al-Kمfirûn 109
19. al-Fîl 105
20. al-Falaq 113
21. al-NÙ…s 114
22. al-IkhlÙ…sh 112
23. al-Najm 53
24. ‘Abasa 80
25. al-Qadr 97
26. al-Syams 91
27. al-Burûj 85
28 al-Tîn 95
29 Quraisy 106
30 al-QÙ…ri‘ah 101
31 al-QiyÙ…mah 75
32 al-Humazah 104
33 al-MursalÙ…t 77. ayat 48 Md.
34 QÙ…f 50. ayat 38 Md.
35 al-Balad 90
36 al-ThÙ…riq 86
37 al-Qamar 54. ayat 54 -56 Md.
38 ShÙ…d 38
39 al-A‘rÙ…f 7. ayat 163-170 Md.
40 al-Jinn 72
41 Yم Sîn 36. ayat 45 Md.
42 al-FurqÙ…n 25 . ayat 68-70 Md.
43 FÙ…thir 35
44 Maryam 19 . ayat 58, 71 Md.
45 ThÙ… HÙ… 20 . ayat 130-131 Md.
46 al-WÙ…qi‘ah 56 . ayat 71-72 Md.
47 al-Syu‘arÙ…’ 26 . ayat 197, 224 -227 Md.
48 al-Naml 27
49 al-Qashash 28 . ayat 52-55 Md, 85 waktu hijrah
50 al-IsrÙ…’ 17. ayat 26, 32-33, 57, 73-80 Md.
51 Yûnus 10 . ayat 40, 94-96 Md.
52 Hûd 11 . ayat 12, 17, 114 Md.
53 Yûsuf 12 . ayat 1-3, 7 Md.
54 al-Hijr 15
55 al-An‘Ù…m 6. ayat 20,23,91,114,141,151-153 Md.
56 al-ShaffÙ…t 37
57 LuqmÙ…n 31 . ayat 27-29 Md.
58 Saba’ 34. ayat 6 Md.
59 al-Zumar 39 . ayat 52-54 Md.
60 al-Mu’min 40 . ayat 56-57 Md.
61 al-FushshilÙ…t 41
62 al-Syûrم 42 . ayat 23-25, 27 Md.
63 al-Zukhruf 43 . ayat 54 Md.
64 al-DukhÙ…n 44
65 al-JÙ…tsiyah 45 . ayat 14 Md.
66 al-AhqÙ…f 46 . ayat 10, 15, 35 Md.
67 al-DzÙ…riyÙ…t 51
68 al-GÙ…syiyah 88
69 al-Kahfi 18 . ayat 28, 83-101 Md.
70 al-Nahl 16 . ayat 126-128 Md.
71 Nûh 71
72 Ibrمhîm 14 . ayat 28-29 Md.
73 al-AnbiyÙ…’ 21
74 al-Mu’minun 23
75 al-Sajdah 32 . ayat 16-20 Md.
76 al-Thûr 52
77 al-Mulk 67
78 al-HÙ…qqah 69
79 al-Ma‘Ù…rij 70
80 al-NabÙ… 78
81 al-NÙ…zi‘Ù…t 79
82 al-InfithÙ…r 82
83 al-InsyiqÙ…q 84
84 al-Rûm 30 . ayat 17 Md.
85 al-‘Ankabût 29 . ayat 1-11 Md.
86 al-Muthaffifîn 83

Susunan Surat Madaniyah Versi Kronologi Mesir 

1 al-Baqarah 2 . ayat 281 belakangan
2 al-AnfÙ…l 8 . ayat 30-36 Mk.
3 Ø£li ‘ImrÙ…n 3
4 al-AhzÙ…b 33
5 al-Mumtahanah 60
6 al-NisÙ…’ 4
7 al-Zalzalah 99
8 al-Hadîd 57
9 Muhammad 47 . ayat 13 pada waktu hijrah
10 al-Ra‘d 13
11 al-RahmÙ…n 55
12 al-InsÙ…n 76
13 al-Thalaq 65
14 al-Bayyinah 98
15 al-Hasyr 59
16 al-Nûr 24
17 al-Hajj 22
18 al-Munمfiqûn 63
19 al-MujÙ…dilah 58
20 al-HujurÙ…t 49
21 al-Tahrîm 66
22 al-TagÙ…bun 64
23 al-Shaff 61
24 al-Jumu‘ah 62
25 al-Fath 48
26 al-MÙ…’idah 5
27 al-Tawbah 9 . ayat 128-129 Mk.
28 al-Nashr 90

Sementara menurut Weil, Sarjana Barat periode pewahyuan dibagi empat: (i) Makkah pertama atau awal; (ii) Makkah kedua atau tengah; (iii) Makkah ketiga atau akhir; dan (iv) Madinah. Titik-titik peralihan untuk keempat periode ini adalah masa hijrah ke Abisinia (sekitar 615) untuk periode Makkah awal dan Makkah tengah, saat kembalinya Nabi dari Tha’if (620) untuk periode Makkah tengah dan Makkah akhir, serta peristiwa hijrah (September 622) untuk periode Makkah akhir dan Madinah.

Surat-surat periode Makkah pertama cenderung pendekpendek. Ayat-ayatnya juga pendek-pendek serta berima, serta bahasanya penuh dengan tamsilan dan keindahan puitis seperti surat  al-‘Alaq 96, al-Lahab,  al-Qalam dll.

Surat-surat periode kedua atau periode Makkah tengah lebih panjang dan lebih berbentuk prosa, tetapi tetap dengan kualitas puitis yang indah. Gayanya membentuk suatu transisi antara suratsurat periode Makkah pertama dan ketiga. Tanda-tanda kemahakuasaan Tuhan dalam alam dan sifat-sifat ilahi seperti rahmah ditekankan, sementara seperti surat YaSîn,  Nûh dan al-Qalam.

Surat-surat periode Makkah ketiga atau Makkah akhir lebih panjang dan lebih berbentuk prosa. Weil bahkan beranggapan bahwa “kekuatan puitis” yang menjadi ciri surat-surat dua periode sebelumnya telah menghilang dalam periode ini. Kisah-kisah kenabian dan pengazaban umat terdahulu dituturkan kembali secara lebih rinci. Susunan kronologis suratsurat al-Quran periode Makkah ketiga ini seperti: al-A‘raf , al-Sajdah dan al-Jinn.

Sementara surat-surat periode keempat (Madaniyah) tidak memperlihatkan banyak perubahan gaya dari periode ketiga dibandingkan perubahan pokok bahasan. Perubahan ini terjadi dengan semakin meningkatnya kekuasaan politik Nabi dan perkembangan umum peristiwa-peristiwa di Madinah setelah hijrah. Pengakuan terhadap Nabi sebagai pemimpin masyarakat, menyebabkan wahyu-wahyu berisi hukum dan aturan kemasyarakatan. Surat tersebut seperti al-Baqarah, al-Bayyinah dan al-Jumu‘ah. 


Bagaimana Al-Qur’an dikumpulkan?

Unit-unit wahyu yang diterima Muhammad pada faktanya dipelihara dari kemusnahan dengan dua cara utama: menyimpannya ke dalam “dada manusia” atau menghafalkannya; dan  merekamnya secara tertulis di atas berbagai jenis bahan untuk menulis. 

Pada mulanya, bagian-bagian al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad dipelihara dalam ingatan Nabi dan para sahabatnya. Tradisi hafalan yang kuat di kalangan masyarakat Arab telah memungkinkan terpeliharanya al-Quran dalam cara semacam itu. Jadi, setelah menerima suatu wahyu, Nabi – sebagaimana diperintahkan al-Quran, lalu menyampaikannya kepada para pengikutnya, yang kemudian menghafalkannya. 

Hadis memberi informasi sangat beragam tentang jumlah maupun nama-nama sahabat penghafal al-Quran. Yang paling sering disebut adalah: Ubay ibn Ka‘ab (w. 642), Mu‘adz ibn Jabal (w. 639), Zayd ibn Tsabit, dan Abu Zayd al-Anshari (w. 15H).

Sementara dalam berbagai laporan lainnya, muncul nama-nama selain keempat sahabat tersebut. Dalam Fihrist, disebutkan 7 nama pengumpul al-Quran, tiga di antaranya sama dengan tiga nama pertama dalam riwayat sebelumnya, dan empat lainnya adalah: Ali ibn Abi Thalib, Sa‘d ibn Ubayd (w.637), Abu al-Darda (w.652), dan Ubayd ibn Mu‘awiyah.16 Nama-nama lain yang sering muncul dalam riwayat adalah: Utsman ibn Affan, Tamim al-Dari (w. 660), Abd Allah ibn Mas‘ud (w. 625), Salim ibn Ma‘qil (w. 633), Ubadah ibn Shamit, Abu Ayyub (w. 672), dan Mujammi‘ ibn Jariyah.

Cara kedua yang dilakukan dalam pemeliharaan al-Quran di masa Nabi adalah perekaman dalam bentuk tertulis unit-unit wahyu yang diterima Nabi.  Setelah hijrah ke Madinah, dikabarkan bahwa Nabi mempekerjakan sejumlah sekretaris untuk menuliskan wahyu (kuttab al-wahy). Di antara para sahabat yang biasa menuliskan wahyu adalah empat khalifah pertama, Mu‘awiyah (w. 680), Ubay ibn Ka‘ab, Zayd ibn Tsabit, Abd Allah ibn Mas‘ud, Abu Musa al- Asy‘ari (w. 664), dan lain-lain. Syaikh Abu Abd Allah az-Zanjani, salah satu sarjana Syi‘ah terkemuka abad ke-20, bahkan menyebut 34 nama sahabat Nabi yang ditugaskan mencatat wahyu.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa unit-unit wahyu ang diterima Nabi telah ditulis dalam cara yang disebutkan di atas. Bahkan, dalam kasus wahyu-wahyu Madaniyah yang memuat ketentuan-ketentuan hukum, pasti merupakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk segera merekamnya secara tertulis. Tetapi, masalah yang timbul di sini tentang sejauh mana rekaman-rekaman tertulis al-Quran itu memiliki bentuk seperti al-Quran yang kita kenal dewasa ini, memang merupakan hal yang pelik untuk ditetapkan. 

Di satu pihak, meski memiliki bagian-bagian tertulis al-Quran yang digarap para sekretarisnya, sebagaimana disebutkan sejumlah riwayat, Nabi tidak pernah mempromulgasikan suatu kumpulan tertulis al-Quran yang resmi dan lengkap. Hal ini bisa diilustrasikan dengan sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Zayd: “Nabi wafat dan al-Quran belum dikumpulkan ke dalam suatu mushaf tunggal.”

Bagaimana Kumpulan Unit Ayat digabung menjadi surat?

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Utsman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada Nabi suatu wahyu, ia memanggil sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda “Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu.” Al-Suyuthi juga mengungkapkan suatu riwayat dari Zayd: “Kami biasa menyusun al-Quran dari catatan-catatan kecil dengan disaksikan Rasulullah.” 

Banyak riwayat jenis ini yang bisa ditemukan dalam koleksi hadits-hadits. Riwayat-riwayat semacam itu pada dasarnya menunjukkan bahwa penggabungan unit-unit wahyu atau penempatannya ke dalam surat-surat al-Quran dilakukan atas petunjuk Nabi atau bersifat tawqîfî.

Jika Nabi telah mengupayakan pengumpulan dan promulgasi al-Quran, maka kebutuhan mendesak yang muncul sepeninggalnya untuk mengumpulkan al-Quran tentunya tidak akan mencuat ke permukaan. Di sisi lain, jika para sahabat telah menghafal dan menuliskan wahyu dalam kadar yang beragam, maka bisa diperkirakan berbagai perbedaan substansial dalam naskah-naskah mereka ketimbang yang bisa ditemukan dalam fenomena mashahif awal. Karena itu, merupakan suatu hal yang pasti bahwa Nabi sendirilah yang merangkai berbagai bagian atau ayat al-Quran yang diwahyukan kepadanya dan menetapkan susunannya secara pasti dalam surat-surat yang ada – dalam terminologi lama biasanya dikenal dengan istilah tawqîfî. 

Susunan ini diketahui dan diikuti para sahabatnya. Itulah sebabnya, ketika dibuka kumpulan al- Quran para sahabat, yang terutama ditemukan di dalamnya adalah perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan dalam susunan surat, bukan susunan ayat.

Pengumpulan Al-Qur’an pasca Nabi
Dalam Itqan, misalnya, disebutkan bahwa al-Quran pada masa Nabi tidak terkumpul dan tidak memiliki susunan surat yang pasti. Teori paling populer di kalangan ortodoksi Islam tentang pengumpulan pertama al-Quran secara tertulis adalah bahwa upaya semacam ini secara resmi baru dilakukan pada masa kekhalifahan Abu Bakr. Sebelumnya, al-Quran belum terhimpun di dalam satu mushaf, sekalipun terdapat fragmen-fragmen wahyu ilahi yang berada dalam pemilikan sejumlah sahabat. 

Riwayat-riwayat tentang pengumpulan al-Quran sebelum masa Umar Penggagas kemudian Abu Bakar yang memerintahkan Zaid bin Tsabit pasca perang Yamamah, karena banyak sahabat penghafal Al-Qur’an yang wafat di masa itu. 
Ketika diperintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an Zaid bin Tsabit berkata Aku lalu mencari al-Quran yang tertulis di atas pelepah-pelepah kurma, batubatu tulis,dan yang tersimpan (dalam bentuk hafalan) di dada-dada manusia, kemudian aku kumpulkan. Akhirnya aku temukan bagian akhir surat al-Tawbah pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kudapatkan pada orang lain (yaitu: laqadj jaakum rasûl min anfusikum … dan seterusnya hingga akhir surat).” Dan shuhuf (yang telah dikumpulkan itu) berada di tangan Abu Bakr sampai wafatnya, lalu dipegang Umar semasahidupnya, kemudian disimpan oleh Hafshah bint Umar.

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa ketika al-Quran dikumpulkan ke dalam mushaf pada masa Khalifah Abu Bakr, beberapa orang menyalin didikte oleh Ubay. Ketika mencapai 9:127, beberapa di antaranya memandang bahwa itu merupakan bagian al-Quran yang terakhir kali diwahyukan. Tetapi, Ubay menunjukkan bahwa Nabi telah mengajarkannya dua ayat lagi (9:128-129), yang merupakan bagian terakhir dari wahyu.

Ada riwayat lain bahwa pengumpulan pertama di masa Umar namun belum berakhir Riwayat lain mengungkapkan bahwa pekerjaan pengumpulan itu tidak terselesaikan dengan terbunuhnya Khalifah Umar: Umar ibn Khaththab memutuskan mengumpulkan al-Quran. Ia berdiri di tengah manusia dan berkata: “Barang siapa yang menerima bagian al-Quran apapun langsung dari Rasulullah, bawalah kepada kami.” Mereka telah menulis yang mereka dengar (dari Rasulullah) di atas lembaran-lembaran, luh-luh, dan pelepah-pelepah kurma.
 
Umar tidak menerima sesuatupun dari seseorang hingga dua orang menyaksikan (kebenarannya). Tetapi ia terbunuh ketika tengah melakukan pengumpulannya. Utsman ibn Affan bangkit (melanjutkannya) dan berkata: “Barang siapa yang memiliki sesuatu dari Kitab Allah, bawalah kepada kami….”

Dengan demikian, konsern terhadap isnad al-Quran dan kemutawatirannya (tawatur) terlihat sangat gamblang dalam laporan-laporan pengumpulan Zayd di atas. Tidak satu pun bagian al-Quran yang merupakan khabar wahid – riwayat terisolasi yang hanya didukung mata rantai periwayatan tunggal. Tidak satu pun yang bakal diterima sebagai bagian al-Quran atau dimasukkan ke dalam kitab suci tersebut, kecuali wahyu-wahyu yang didengarlangsung dari Nabi sendiri dan memenuhi kriteria kesaksian yang ditetapkan – yakni dua saksi.

Paling sering ditemukan adalah perujukan kepada mushaf-mushaf pra-utsmani yang populer, seperti mushaf Ibn Mas‘ud, mushaf Salim ibn Ma‘qil, mushaf Umar ibn Khaththab, mushaf Ali ibn Abi Thalib, Mushaf Ibn Abbas dan juga mushaf ubay bin Ka’ab yang mana sebelum kemunculan mushaf standar utsmani, mushaf Ubay telah populer di Siria. Salah satu karakteristik mushaf sebelum mushaf usmani seperti eksisnya dua surat ekstra yakni sûrat al-khal‘ dan sûrat al-hafd  di dalamnya, sebagaimana yang ada dalam mushaf ibnu Abbas, Ubay dan Abu Musa.

Bacaan dalam mushaf-mushaf pra-utsmani dianggap tidak mencapai derajat mutawatir dan mayshûr, dan karena itu – dalam gagasanortodoksi Islam – bukan merupakan bacaan al-Quran yang otentik. 
Penemuan manuskrip al-Quran pra-utsmani di San‘a, Yaman, sangat menyimpang dari susunan resmi mushaf utsmani, membenarkan hipotesis bahwa tidak terdapat keseragaman susunan surat dalam mashahif prautsmani.

Oleh sebab itu di masa sayyidina Usman  di masa Sayyidina usman abaru ada unifikasi teks, Mushaf-mushaf yang ada sebelumnya coba dimusnahkan di masa sayyidina Usman. Seperti mushaf hafsah kemudian dimusnahkan setelah sayyidah hafsah wafat karena ditakutkan perpecahan. Kemudian sayyidina usman mengirim teks Al-Qur’an ke seluruh penjuru termasuk ke Kufah ke Ibnu mas’ud
Namun capaian-capaian para sahabat Nabi dan generasi pra mushaf usmani ini tetap eksis melalui transmisi lisan ataupun tertulis dari generasi ke generasi serta direkam dalam sumber-sumber awal sebagai varian di luar tradisi teks utsmani, atau sebagai mushaf-mushaf pra-utsmani.

Kodifikasi Mushaf Usmany

Hudzayfah ibn al-Yaman menghadap Utsman. Ia tengah memimpin penduduk Siria dan Irak dalam suatu ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan. Hudzayfah merasa cemas oleh pertengkaran mereka (penduduk Siria dan Irak) tentang bacaan al-Quran. Maka berkatalah Khudzayfah kepada Utsman: “Wahai Amir al-Mu’minin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka bertikai tentang Kitab (Allah), sebagaimana yang telah  terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani pada masa lalu.” 

Kemudian Utsman mengirim utusan kepada Hafshah dengan pesan: “Kirimkanlah kepada Kami shuhuf yang ada di tanganmu, sehingga bisa diperbanyak serta disalin ke dalam mushaf-mushaf, dan setelah itu akan dikembalikan kepadamu.” Hafshah mengirim shuhuf-nya kepada Utsman, yang kemudian memanggil Zayd ibn Tsabit, Abd Allah ibn al-Zubayr, Sa‘id ibn al-‘Ash, dan Abd al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam, dan memerintahkan mereka untuk menyalinnya menjadi beberapa mushaf.

Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy (dalam tim) itu: “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zayd mengenai al- Quran, maka tulislah dalam dialek Quraisy, karena al-Quran itu diturunkan dalam bahasa mereka.” Mereka mengikuti perintah tersebut, dan setelah berhasil menyalin shuhuf itu menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikannya kepada Hafshah. Mushaf-mushaf salinan yang ada kemudian dikirim Utsman ke setiap propinsi dengan perintah agar seluruh rekaman tertulis al-Quran yang ada – baik dalam bentuk fragmen atau kodeks – dibakar habis.

Riwayat lain mengatakan bahwa komisi bentukan Utsman yang dimotori Zayd Ibn Tsabit, telah mengumpulkan al-Quran dari berbagai sumber, tidak hanya dari mushaf hafshah, dan menyalinnya ke dalam mushaf-mushaf yang kemudian disebarkan ke berbagai kota metropolitan Islam ketika itu.

Sebagaimana diberitakan pengumpulan al-Quran di masa Utsman dilakukan oleh suatu komisi yang terdiri dari empat orang. Yang pertama dan merupakan ketua komisi pengumpulan adalah Zayd ibn Tsabit, seorang Anshar yang sewaktu mudanya aktif sebagai sekretaris Nabi dan mencatat wahyu-wahyu al-Quran.  Zayd meninggal dunia pada 45H. 

Anggota komisi lainnya adalah Abd Allah ibn al-Zubayr (w. 692), yang juga berasal dari keluarga terpandang Makkah. Lewat ibunya Asma, ia adalah cucu Abu Bakr dan keponakan Aisyah, bahkan anak tiri Khalifah Umar. Ia tidak hanya terlibat dalam berbagai pertempuran sebagai serdadu, tetapi juga terkenal sebagai seorang yang sangat religius. Sementara Sa‘id ibn al-‘Ash (w. 678/ 9) lahir beberapa saat setelah hijrah dari keluarga Ummayah. Setelah pemecatan Walid ibn Uqbah pada 29H, dikabarkan ia menggantikan posisinya sebagai gubernur Kufah hingga menjelang akhir tahun 34H. Anggota komisi terakhir adalah Abd al-Rahman ibn al-Harits (w. 633), berasal dari keluarga Mahzum yang terkemuka di Makkah. Ia tampaknya tidak memiliki prestasi atau kedudukan politik yang perlu dicatat.

Distribusi Mushaf Usmany

Setelah selesai melakukan kodifikasi al-Quran, sejumlah salinan mushaf utsmani dikirim ke berbagai kota metropolitan Islam. Riwayat-riwayat tentang jumlah mushaf yang berhasil diselesaikan penulisannya dan ke kota-kota mana saja ia dikirim sangat beragam. Menurut pandangan yang diterima secara luas, satu mushaf al-Quran disimpan di Madinah, dan tiga salinannya dikirim ke Kufah, Bashrah dan Damaskus.

Susunan pembuatan mushaf tersebut berdasarkan analisa pakar sejarah ialah mushaf yang paling awal adalah mushaf Madinah. Dari mushaf inilah disalin mushaf Damaskus dan Bashrah. Sementara dari mushaf Bashrahlah disalin mushaf Kufah. Secara skematis, asal-usul mushaf-mushaf tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

Di samping itu agar tidak terjadi perpecahan, materi-materi al-Quran non-utsmani coba dimusnahkan, dengan tujuan utama menyebarluaskan edisi kanonik resmi. Namun hal tersebut tidak dicapai dalam waktu singkat. Ketika itu, al-Quran – terutama sekali – dipelihara dalam bentuk hafalan menurut bacaan tertentu. Adalah pelik membayangkan bagaimana hafalan yang telah mapan di kepala seseorang kemudian mesti disesuaikan dengan mushaf resmi yang dikeluarkan Utsman. 

Dalam kondisi semacam ini, ditambah keengganan beberapa sahabat Nabi – seperti Ibn Mas‘ud dan Abu Musa al-Asy‘ari – untuk mengikutinya, kodeks utsmani tentunya tidak segera memasyarakat dalam waktu singkat, hingga suatu generasi baru penghafal al-Quran dalam tradisi teks utsmani muncul. Setelah itu, kodeks-kodeks pra-utsmani secara bertahap menghilang dengan sendirinya tanpa perlu dimusnahkan.

Bagaimana susunan surat-surat dalam Al-Qur’an tersusun seperti sekarang?

Terdapat sejumlah Pandangan yang mengungkapkan bahwa susunan surat dalam mushaf utsmani bersifat ijtihadi. Al-Suyuthi mengutip pendapat bahwa Utsman mengumpulkan lembaran-lembaran (shuhuf) al-Quran ke dalam satu mushaf menurut tertib suratnya (murattaban li-suwarihi). Sementara di tempat lain, ia mengemukakan suatu riwayat yang menyatakan bahwa Utsman memerintahkan komisinya untuk menempatkan surat-surat panjang secara berurutan.

Lebih jelas lagi adalah pernyataan al- Ya‘qubi, “Utsman mengkodifikasikan al-Quran, menyusun (allafa) dan mengumpulkan surat-surat panjang dengan surat-surat panjang dan surat-surat pendek dengan surat-surat pendek.

Jumlah surat di dalam mushaf utsmani – kesemuanya 114 surat – berada di tengah-tengah antara jumlah surat dalam mushaf Ubay (116 surat) dan Ibn Mas‘ud (111 atau 112 surat). Surat-surat ini, dalam sejarah awal Islam, dirujuk dengan nama-nama yang beragam. 

Tidak jarang terdapat dua nama atau lebih untuk satu surat, dan dalam literatur-literatur Islam yang awal, terdapat rujukan-rujukan kepada nama-nama lainnya yang digunakan untuk suatu waktu, tetapi belakangan dibuang atau tidak digunakan lagi. Contohnya, surat 1, selain dirujuk dengan nama al-Fatihah, dikenal pula dengan nama fatihatu-l-kitab (pembuka kitab) atau umm alkitab/ al-qur’an (induk kitab/al-Quran).

Siapa yang Memberi Nama-nama Surat?

Tidak ada kesepakatan formal di kalangan sarjana Muslim mengenai penamaan ke-114 surat tersebut, sekalipun sekuensi atau tata urutannya telah ditetapkan secara definitif di dalam mushaf utsmani.49 Jadi, merupakan suatu hal yang pasti bahwa nama-nama yang diberikan kepada surat-surat itu bukanlah bagian dari al- Quran. Tidak jelas kapan munculnya nama-nama surat yang beragam itu.
 
Namun, dapat dikemukakan dugaan bahwa segera setelah adanya kodifikasi al-Quran, timbul kebutuhan untuk pemberian nama-nama surat guna memudahkan perujukannya, dan sekitar pertengahan abad ke-8 dapat dipastikan bahwa namanama surat yang beragam itu telah memasyarakat. Fragmen papirus al-Quran yang berasal dari pertengahan abad ke-8 – diedit oleh Nabia Abbott – merupakan salah satu bukti tertulisnya.

Penelitian sepintas terhadap nama-nama surat di atas menunjukkan non-eksistensinya kaidah yang baku tentang penamaan surat. Terkadang surat-surat dirujuk secara mekanis menurut ungkapan yang ada dibagian awalnya, seperti penyebutan surat 78 sebagai ‘amma yatasa’alûn atau sekedar ‘amma. Di lain kesempatan, penamaan diambil dari kata pengenal atau kata kunci yang muncul pada permulaan surat – misalnya surat 30: al-Rûm  dan surat 35: Fathir.

Bagaimana dengan Juz dan Sebagainya?

Kaum Muslimin membagi Al-Qu’ran ke dalam 30 bagian atau juz’ yang hampir sama. Pembagian ini berkaitan dengan jumlah hari di bulan Ramadlan, di mana tiap juz al-Quran dibaca setiap harinya. Pembagian yang 30 juz’ ini biasanya diberi tanda di pinggiran salinan kitab suci tersebut.

Bagian yang lebih kecil lagi adalah hizb yang membagi juz menjadi dua – jadi dalam setiap juz ada dua hizb. Bagian yang lebih kecil dari hizb adalah perempatan hizb, yang juga sering diberi tanda di pinggiran salinan al-Quran.

Pembagian lainnya adalah ruku‘, sejumlah 554 untuk keseluruhan al-Quran. Tetapi panjang-pendeknya ruku‘ tidak seragam: surat panjang biasanya terdiri dari beberapa ruku‘, dan surat pendek berisi satu ruku‘. Keseluruhan pembagian al-Quran ini, yang diberi tanda tertentu di pinggiran teks kitab suci, bukanlah bagian orisinal wahyu. Bahkan tanda-tanda yang menunjukkan kepada bilangan ayat dan tanda waqaf– secara harfiah “berhenti”, tanda boleh tidaknya menghentikan bacaan pada akhir kalimat atau ayat – dituliskan di dalam teks.

Jumlah ayat di dalam Surat

Surat-surat al-Quran terbagi ke dalam ayat-ayat yang panjangnya sangat bervariasi, tetapi tidak ditetapkan secara arbitrer. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan sarjana Muslim dalam menetapkan panjang pendeknya suatu ayat. Orangorang Madinah yang awal menghitung sejumlah 6000 ayat di dalam al-Quran, sedangkan orang-orang Madinah yang belakangan menghitung 6124 ayat; orang-orang Makkah menghitung sejumlah 6219 ayat; orang-orang Kufah sejumlah 6263 ayat; orang-orang Bashrah sejumlah 6204 ayat; dan orang-orang Siria (Syam) sejumlah 6225 ayat. Sementara suatu riwayat dalam Fihrist menyebutkan terdapat 6226 ayat di dalam al-Quran. 

Perbedaan penghitungan ayat – selain dikarenakan perbedaan dalam penetapan basmalah sebagai ayat atau bukan dan fawatih sebagai ayat/ayat-ayat terpisah atau tersendiri, sebagaimana telah dikemukakan di atas – pada hakikatnya disebabkan oleh perbedaan dalam menentukan apakah rima telah menandakan berakhirnya suatu ayat atau masih berlanjut – dalam istilah tradisionalnya: perbedaan dalam penetapan ra’sul ayah (kepala ayat) dan fashilah. Hal ini terjadi akibat adanya kenyataan bahwa rima atau purwakanti di dalam al-Quran sebagian besarnya dihasilkan lewat penggunaan bentuk-bentuk atau akhiran-akhiran gramatikal yang sama.
Share:

Apakah Mungkin di Nusantara Pernah Ada Seorang Nabi?

Adanya Rosul dan Nabi merupakan dua hal yang harus dipercaya oleh seorang mu’min. Seorang tidak diterima imannya kecuali sebelum mengimani adanya Rosul dan Nabi. Diceritakan bahwa jumlah Rosul dalam Islam adalah sekitar 300 lebih, ada riwayat yang mengatakan bahwa jumlahnya 313/315. Sedangkan jumlah Nabi ada riwayat yang mengatakan sekitar 124.000. Namun di antara semuanya, hanya ada beberapa yang wajib diketahui.

Artinya jumlah para Rosul dan para Nabi ini sangat banyak. Yang tugasnya adalah menyebarkan ajaran ketauhidan. Hal ini sejalan sebagaimana di dalam Al-Qur’an An-Nahl ayat 36.  “Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), sembahlah Allah saja dan jauhilah taghut.”

Ciri utama dari Rasul dan kenabian adalah mengajak kepada kebenaran. Di samping kebenaran dalam berkeyakinan juga kebenaran dalam prilaku. Hal ini kemudian yang menjadikan beberapa orang mengatakan bahwa orang-orang penting di masa lalu yang megajak pada kebaikan, ada kemungkinan mereka adalah seorang Nabi atau Rosul. Sebut saja Socrates, meskipun tidak jelas Nabi siapa. Karena hanya sekedar anggapan. Kemudian Siddharta Gautama yang notabene menjadi kiblat orang budha disebut-sebut juga ada kemungkinan adalah Nabi Dzulkifli.

Bahkan sebelum zaman Nabi pun, ada istilah Al-Khunafa’ sebutan bagi mereka yang menolak paganisme. Mereka ini adalah penganut monoteisme. Jumlahnya memang tidak banyak. Tapi mereka teguh menolak untuk menyembah pada berhala yang diletakkan di sekitar Ka’bah. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya akan menyembah tuhannya Ibrahim.

Di dalam buku sejarah Ka’bah disebutkan bahwa salah satu dari mereka adalah Khalid bin Sinan. Bahkan di buku tersebut juga mengutip bahwa Nabi bersabda mengenainya bahwa Khalid adalah seorang Nabi yang ditelantarkan oleh kaumnya. Demikian juga ketika anak perempuan Khalid datang kepada Nabi dan mendengar Nabi membaca penggalan surat Al-Ikhlas (qul huwallahu ahad), perempuan tersebut seketika mengatakan bahwa ayahnya pernah membaca seperti itu. Ini artinya jika hadis tersebut shohih dan perkataan Nabi Muhammad yang menyebut Khalid sebagai seorang Nabi bukanlah kiasan, artinya bahkan dalam kurun waktu yang tidak begitu jauh sebelum Nabi Muhammad pun juga ada seorang Nabi.

Pada intinya Rosul dan Nabi itu memang orang yang dipilih oleh Allah sebelum Islam untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan ke seluruh jagat raya. Lalu bagaimana dengan Nusantara? Apakah ada kemungkinan di Nusantara ini pernah diturunkan seorang Nabi atau Rosul?

Hal tersebut tentu menjadi misteri. Karena yang banyak tercatat di pelajaran sejarah hanya agama Hindu dan Budha yang dibawa oleh para pedagang India berabad-abad yang lalu. sebagai jawabannya tertera di dalam buku Atlas Walisongo bahwa Di era jauh sebelum tibanya pendatang (pedagang India dengan agama Hindu Budha-nya) di bumi Nusantara, penduduk setempat sudah mempunyai kepercayaan sendiri, yang biasa disebut dengan “Kapitayan”. Ajaran Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran dimana penganutnya memuja sembahan yang disebut dengan Sang hyang Taya. “Hyang” bermakna Hampa Kosong, suwung atau awung awung, sedangkan “Taya” bermakna  Absolut, tidak bisa dipikir, didekati dengan panca indera dan dibayang-bayangkan. Atau orang jawa biasa menyebut “tan kena kinaya ngapa”.

Dalam rangka memuja Sang Hyang Taya, biasanya penganut Kapitayan menyediakan sesajen dari anyaman bambu untuk tempat bunga, arak, Tu-Kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan. Berbeda dengan sembahyang tunggal yang dilakukan oleh masyarakat awam, amaliah yang dilakukan oleh para ruhaniawan Kapitayan berlangsung khusus di tempat yang disebut dengan sanggar (bangunan bersegi empat beratap tumpang dengan lubang ceruk di dinding sebagai lambang kehampaan Sang Hyang Taya).

Dalam bersembahyang menyembah Sang Hyang Taya, mereka mengikuti gerakan tertentu: mulanya sang ruhaniawan Kapitayan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sang Hyang Taya di dalam tutu-d (hati), lalu kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Setelah Tu-lajeg ini kemudian dilanjutkan dengan proses tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) lumayan lama, lalu prosesi tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir adalah to-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut).

Jika melihat sejarah tersebut bahwa ajaran yang dianut oleh orang Jawa sebelum datangnya agama Hindu-Budha adalah monoteisme. Dimana mereka menyemabh dzat yang tunggal. Tatacara sembahyang-nya pun sangat mirip dengan sembahyang-nya Islam. Meskipun di sana masih ada praktek sesajen. Sebagai catatan bahwa Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk melakukan sholat. Sedangkan Islam datang untuk menyempurnakan agama-agama terdahulu, termasuk dalam hal sholat.

Artinya tidak mungkin ajaran kapitayan dengan praktek sembahyang-nya yang mirip ajaran Nabi terdahulu itu ada secara ujuk-ujuk dan dikarang sedemikian miripnya. Pasti ada sebab dan penyebab sehingga praktek dan keyakinan monoteisme-nya bisa sangat serupa. Sehingga kembali muncul pertanyaan di atas, apakah mungkin di Nusantara ini pernah ada seorang Nabi?

Share:

Pengalaman menjadi Volunteer di Negeri Gajah Putih (PART 2)

Lanjutan....

Sehabis isya' kita baru sampai di sekolah. Saat itu saya agak capek, jadi cuma melihat sekolah dengan sekilas saja. Yang jelas, sekolahnya agak besar, tapi di kampung. Saya dibawa ke suatu tempat dimana di sana ada bangunan yang tidak begitu besar. Saya baru tau kalo itu bangunan khusus untuk guru. Di bangunan itu dibagi dua sekat. Satu bangunan untuk guru asli sana. Dan di sebelahnya khusus untuk saya, atau guru luar, katanya. 

Saat itu saya disambut banyak sekali murid. Mereka masih memakai jubah, sebagian memakai sarung dan berkopyah. Nampaknya baru selesai sholat isya'. Mereka melihat saya. Saya turun dari mobil sambil menurunkan barang-barang.

Kesan saya ketika melihat sekitar adalah sekolahnya luas sekali. Ada lapangan sepak bola. Gedung sekolahnya juga lumayan besar. Tapi ada beberapa gedung yang hanya berupa bangunan yang berjejer layaknya sekolah-sekolah di Indonesia.

Ada masjid yang cukup besar. Lebih besar dari masjid kampung tempat saya sholat barusan. Kebetulan bangunan tempat saya tinggal itu pas di samping masjid. Di belakang masjid dan belakang bangunan yang akan saya tinggali itu nampaknya seperti hutan, atau jurang. Entah, saya tidak tau pastinya saat itu. Yang jelas, banyak sekali pohon, juga gelap.

Turun dari mobil,saya diantar ke tempat saya. Awalnya saya agak ngeri jika harus tinggal sendiri di bangunan itu. Karena belakangnya itu hutan. Setelah masuk, ternyata di dalam ada cowok agak tinggi, berpenampilan rapi, anggap saja namanya mas A. Dia nampak sibuk di depan laptop. 

Tahu saya datang, dia langsung berdiri menyambut. Mas A nampaknya sosok yang baik hati. Saya kira dia juga murid di sana. Ternyata tiba-tiba dia berbicara dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Saya agak lupa apa dikatakan pertama kali. Tapi yang jelas dari sana saya tau bahwa dia berasal dari Pamulang. Dia lulusan salah satu kampus besar di Jogjakarta. Berada di sana sebagai guru internasional.

Saat itu saya bersyukur sekali. Ternyata saya tidak sendiri. Alhamdulillah. Ada orang Indonesia lagi di sekolah itu. Dan dari dia juga saya tahu bahwa ada orang Indonesia lagi bersama dia. Seorang cewek, mbak L, asli Jogja dengan program dan kampus yang sama dengan mas A. 

Mas A juga cerita kalo di sekolah itu juga ada orang Filipina yang juga mengajar di sana. Guru-guru juga banyak yang alumni Universitas di Indonesia. Jadi banyak yang sudah mengerti bahasa Indo. Dari situ saya sangat bersyukur karena bayangan bahwa saya akan sulit berkomunikasi dan hanya hidup sebagai orang Indonesia sendiri ternyata salah. Ada banyak orang Indonesia atau setidaknya yang bisa bahasa Indonesia.

Tiba di sana, ada seorang murid yang langsung mengantarkan kasur untuk saya tidur. Alhamdulilah. Badan saya yang capek pada saat itu rasanya memang sangat butuh sekali kasur. Tapi karena sudah melalui perjalanan yang agak panjang barusan, saya mandi dulu sebelum tidur.

Karena di kampung, nampak jelas air yang digunakan untuk mandi itu bukan kayak yang PDAM di Surabaya. Bukan pula seperti air sumur di Madura. Itu semacam air bor yang langsung ngambil dari tanah. Jadi semacam masih ada keruh-keruhnya. Tapi no problem yang penting air alami dan bisa diambil bersih-bersihnya.

Sekolah tempat saya ini adalah sekolah asrama. Para muridnya disediakan kamar khusus untuk menginap. Hampir semuanya memang wajib menginap, kecuali hari libur. Hari liburnya pun hari Jumat dan Sabtu. Karena memang sekolah itu sekolah swasta yang cenderung ke agama. Kalo di Indonesia mungkin mirip pondok pesantren. 

Muridnya cukup banyak. Jika berkumpul semua, isi masjid full. Jika negara, sekolah itu layakanya negara yang berkembang seperti Indonesia, Korea dll, bukan taraf negara maju sepeti Amerika, Jerman, dll.

*sekolah khampee dari arah timur. Di sebelah masjid itu adalah bangunan tempat saya menginap. Belakangnya hutan dan jurang.

*Sekolah khampee dari arah selatan.

*sekolah khampee tingkat Annuban (TK)

*Di belakang itu adalah bangunan tempat saya tinggal selama 4,5 bulan di sana

Sekolah khampe ini terdiri dari beberapa tingkatan. Mulai dari Annuban (TK), PRATHOM (SD) sampai MATAYUM (SMP-SMA). Hanya murid di tingkat MATAYUM saja yang diharuskan menginap. Sedangkan di tingkat di bawahnya biasanya mereka pulang pergi. Bahkan tingkat Annuban dan prathom ini makan siang juga disiapkan pihak sekolah. Sedangkan tingkat MATAYUM biasanya murid-murid beli. Jam sekolah ialah dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Kebetulan saya diberikan kesempatan mengajar di MATAYUM. Jadi Alhamdulillah. Karena saya tidak begitu telaten mengajar anak kecil. Di Atthohiriyah saja dulu, saya memang lebih nyaman ngajar bagian dewasa. Ya orang tentunya beda-beda.

Besok harinya saya tidak langsung mengajar. Kholi memberikan waktu saya untuk istirahat terlebih dahulu. Lumayan, meskipun sudah istirahat di resort sebelumnya, tapi badan masih agak capek naik bis setelah melalui perjalanan yang agak panjang. Saya gunakan waktu itu untuk bersosialisasi, berkenalan dengan orang-orang terdekat. Khususnya para guru.

Dari sana saya kenal Abah. Abah ini adalah pemilik sekolah yang besar ini. Beliau  pewaris dari Haji Romli. Haji Romli adalah pendiri awal sekolah. Awal mula bersalaman dengan Abah di masjid saya kira beliau adalah orang kampung biasa yang sedang sholat di majsid sekolah. Saya belum sadar kalo beliau adalah pemilik sekolah. Tapi lama-lama, saya baru tau, karena yang menjalankan roda kepemimpinan sekolah semuanya adalah putra-putri beliau.

Beliau sangat ramah dan sering main ke tempat saya. Beliau juga adalah lulusan Bandung. Saya lupa universitasnya. Istri beliau juga keturunan Minangkabau. Yang jelas, kebetulan Abah agak klop dengan saya. Sebab beliau sangat suka berbicara mengenai politik, khususnya politik Indonesia. 

Kebetulan pada saat itu sedang ramai masalah Ahok di Jakarta. Jika datang ke kamar, beliau biasanya langsung memancing saya berbicara mengenai politik. Berbeda dengan teman sekamar saya, mas A, yang tidak begitu tertarik dengan politik. Awalnya, saya agak bingung darimana Abah dapet informasi mengenai politik Indonesia. Apa dari medsos atau apa. Tapi lama-lama, setelah saya beberapa kali masuk ke rumahnya, ternyata beliau memang punya tv khusus yang memang selalu menonton channel Indonesia. 
*Abah berkoko putih yang berjenggot

Saya dikasih gaji dan dikasih beras setiap bulan. Itu memang jatah wajib sesuai MoU. Mas A ini mendapat gaji yang cukup besar. Karena statusnya guru profesional. Sedangkan saya hanya volunteer. Tapi tetap saya kasih join dia beras. 

Sayangnya, WiFi sekolah jaraknya tidak Sampai ke tempat saya. Tapi Alhamdulillah fasilitas yang saya dapat di sana cukup baik. Meskipun jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, pasti ada kekurangan. Khususnya masalah WiFi itu. 

Kebetulan, saat itu, kita 74 volunteer, hanya bisa komunikasi via wa grup. Kita sering sharing mengenai keseharian dan fasilitas yang kita dapat. Dari sana saya tahu bahwa ada teman yang ditempatkan di sekolah yang letaknya di kota, dimana mobilitas dan fasilitas oke. Ada yang ditempatkan di suatu pulau terpencil daerah Krabi. Ya Krabi, surga wisata Thailand yang mashur karena keindahan alamnya. Ada teman yang diletakkan di rumah khusus di suatu kompleks. Ada yang tinggal di kamarnya para muridnya sendiri. Macam-macam. 

Dari sana kadang saya merasa iri. Dalam hati saya, kenapa saya harus ditempatkan di desa seperti ini. Hampir semua dari mereka menikmati fasilitas wifi. Bagi yang cowok dapat fasilitas motor. Tapi saya tidak. Karena tidak ada motor, saya agak susah untuk mobilisasi. Jadinya setiap mau keluar harus pinjam sepeda motor salah seorang guru. Tapi entah kenapa, padahal saya tidak pernah mengeluh atau bebicara mengenai ini, beberapa lama kamudian saya diberikan fasilitas motor khusus.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi sadar bahwa bisa jadi mereka yang menurut saya nyaman, sebenarnya ada punya satu sisi ketidak-nyamanan yang tidak saya ketahui. Ternyata asumsi saya benar. Ada mereka yang ditempatkan sendiri di sekolah yang lokasinya agak ke utara Thailand. Hampir semua orang lokal berbahasa Thai. Tidak pakai bahasa Melayu. Biasanya mereka yang berlokasi ke provinsi yang agak ke Utara ini memang populasi orang Melayu tidak begitu banyak. Jadi sehari-hari dia memakai google translate yang pakai voice. Sampai mengajar pun harus pakai google translate. Jadi benar-benar terasingkan. 

Ada juga yang hanya tinggal sendiri. Tinggal di sekolah yang bukan sekolah asrama. Tidak ada murid yang menginap. Jadi dia layaknya penjaga sekolah. Untung saja dia pemberani orangnya. 

Ada juga seorang teman yang tinggal serumah dengan orang Budha. Dia tinggal layaknya anak angkat dari orang Budha tersebut. Untungnya, orang Budha ini sangat baik. Tetapi di suatu saat teman saya ini pernah sangat panik karena merasa telah memakan daging babi. Eh ternyata bukan. Cuma salah sangka. 

Pada akhirnya, dia dipindahkan ke salah satu asrama pondok yang ditempatinya hanya untuk menginap. Adapun mengajarnya, tetap di sekolah Budha. Pokoknya macam-macam lah keadaan kita waktu itu. Positif dan negatif. Dengan berkiblat ke sana, setidaknya saya jadi agak bersyukur.

Sampai tiba waktunya saya sudah dikasih jadwal mengajar di sekolah. Saya sampai di sekolah jam 07:40. Kebetulan setiap hari, pada jam 07:45, dilaksanakan upacara. Upacara layaknya di Indonesia. Berbaris sambil bernyanyi lagu khas sekolah. Lagu khas sekolah hampir mirip dengan lagu aktivis mahasiswa, buruh tani. Tapi beda lirik saja. 

Kemudian diteruskan dengan langsung kebangsaan Thailand sambil menaikkan bendera. Itu dilakukan setiap hari. Nampaknya itu memang kebijakan pemerintah Thailand. Setelah ada pengumuman dari pihak sekolah. Saat waktu pengumuman itu saya diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri. Ketika berkenalan saya pakai bahasa Indonesia biasa dengan sedikit logat Melayu. Saya tidak tau mereka paham atau tidak. Yang jelas saya tidak begitu banyak bicara karena takut mereka tidak paham. 

Setelah saya selesai, seperti biasanya, para murid berjalan berbaris sambil bersalaman ke para guru. Murid perempuan salaman ke guru perempuan, yang laki-laki ke guru laki-laki. Itu dilakukan setiap hari. Bagi murid yang telat, ada hukuman yang biasanya diberikan oleh OSIS atau guru. Biasanya hukumannya adalah push up.
*Suasana upacara yang dilakukan setiap pagi

*ketika pertama kali memperkenalkan diri

*murid dihukum push up karena telat

Di waktu itu saya banyak berkenalan dengan orang-orang, khususnya para guru. Dari sana memang ada beberapa guru lulusan Indonesia. Yang saya tahu ada 3. Kemudian ada juga lulusan negara lain seperti Mesir, dan sebagainya. Saya punya jam mengajar hampir setiap hari. Tapi tidak full seharian. Disela-sela senggang itu biasanya saya gunakan untuk ke kantor bagian atas. Tempat saya dan guru-guru nongkrong. Atau jika malas, saya kembali ke bangunan tempat saya tinggal.
Share:

Pengalaman Menjadi Volunteer di Negeri Gajah Putih (Part 1)

Entah kenapa akhir-akhir ini saya ingin menceritakan kisah-kisah masa lalu. Meskipun saya sadar bahwa dalam bercerita mengenai kisah yang dialami sendiri, seharusnya saya bisa menuliskan waktu itu juga. Ini agar pembaca bisa merasakan euforianya secara langsung. Karena akan ada banyak tragedi dan feeling-feeling yang akan masuk dalam tulisan, yang apabila ditunda, bisa jadi tragedi dan feeling tersebut akan terlupakan. 

Tapi seenggaknya tujuan saya menulis agar saya bisa mengingat kisah-kisah yang saya alami 3 tahun yang lalu. Walaupun mungkin tidak akan begitu detail layaknya ketika saya langsung menuliskannya.

Kali ini saya tertarik untuk bercerita pengalaman saya ketika menjadi volunteer di salah satu daerah yang belum saya tahu sebelumnya, bahkan saya tidak pernah mendengar kalo ada komunitas dan daerah seperti ini.

Kisah berawak ketika saya masih di program sarjana. Saat itu masih semester 5,  ada pengumuman bahwa kampus sedang melaksanakan program KKN Internasional. 

Dalam program ini mahasiswa akan ditugaskan ke dua negara, Thailand dan Malaysia. Saya yang memang sangat senang berpetualang tentu tertaik dengan program ini. Sejujurnya, saya bukan tertarik untuk mengabdi dan lain-lain, saya hanya ingin mencari pengalaman baru dan berpetualang.

Pihak kampus nampaknya cukup serius dalam menjaring mahasiswa yang akan dinyatakan lolos ke program ini. Karena cukup banyak proses dan langkah yang harus dilalui. Mulai dari tes pemberkasan dan motivation letter, tes praktek dan wawancara, kemudian tes psikologi. Peminatnya pun cukup banyak. 

Saya  lupa berapa peminat awal yang mendaftar. Yang jelas, saat tes wawancara, saya melihat cukup banyak peserta yang menjalani tes, pengujinya pun cukup banyak.

Pada saat itu, saya tidak terlalu menggebu-gebu bagaimana caranya saya bisa lolos. Sebenarnya ikut itu pun saya cuman penasaran, walaupun dalam hati saya ingin berpetualang. 

Itulah yang membuat saya nampaknya tidak percaya saat saya benar-benar sampai di Thailand nantinya. Agak kaget pada saat saya harus tinggal selama 4,5 bulan lebih sendirian. 

Ketika tes administrasi dan motivation letter, saya mengirim berkas seadanya. Di motivation letter saya juga hanya bercerita mengenai pengalaman saya sebagai pengajar dulu di Ath-thohiriyyah. Selebihnya, hanya keinginan biasa. 

Namun ternyata saya lulus pemberkasan, sampai akhirnya tes wawancara. Di tes wawancara, penguji saya waktu itu adalah seorang Dosen yang saya tidak kenal tapi familiar. Karena beliau biasa sholat di masjid kampus. 

Di tes, saya ditanya banyak hal tentang agama, disuruh menulis kalimat dalam Al-Qur'an yang beliau bacakan. Agak banyak pertanyaannya. Yang terakhir yang saya ingat sampai sekarang adalah pertanyaan mengenai politik. Lebih tepatnya bagaimana pandangan kita tentang situasi politik di negara tujuan. Saya jawab dengan simpel pada saat itu bahwa kita sebagai WNA tidak berhak untuk ikut campur dalam kemelut politik negara manapun, sambil saya sebutkan pasalnya.

Singkat cerita, ternyata saya dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya. Tahap tersebut adalah assasement, tes psikologi. Tes tersebut kita hanya perlu menjawab pertanyaan sederhana, berkaitan kegiatan kita sehari-hari. Tapi pertanyaannya cukup banyak dengan waktu yang singkat. 

Tujuan tes itu adalah untuk mengetahui karakter kita. Di tes tersebut sebenarnya cukup mudah. Kita hanya perlu menyesuaikan visi misi kita terlebih dahulu sebagaimana visi misi organisasi penyelenggara. Kemudian tinggal menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Tes itu tidak lebih hanya ingin mengetahui apakah karakter kita sesuai dengan sosok yang ingin direkrut di program tersebut. 

Karena memang pihak penyelenggara menginginkan sosok yang nantinya akan berangkat adalah mereka yang sesuai dengan visi misinya. Untungnya, tes psikologinya cuman itu. Bukan tes psikologi yang harus mengisi angka dengan cepat, tes menggambar, dll. Pada akhirnya, di kampus saya, dipilihlah 5 Orang untuk  berangkat ke Thailand.

Akhirnya Alhamdulillah saya dinyatakan lolos. Saya tidak tau ada pengaruhnya apa tidak dengan nilai, tapi saat itu nama saya ada di urutan teratas. 

Kemudian secara mendadak pihak kampus (internasional office) meminta saya untuk sesegera mungkin melengkapi dokumen. Pada saat itu saya langsung mengajak Khoirul menuju Madura. Untung saja saya sudah punya passport, jadi saya tidak begitu repot mengenai dokumen pribadi.

Masalah dokumen pemberangkatan ternyata yang agak rumit.  Sebenarnya jika tinggal di Thailand kurang dari sebulan, kita tidak perlu repot-repot urus visa, karena sesama negara ASEAN tidak perlu mengurus visa jika kunjungan hanya kurang dari sebulan. 

Karena kita 4 bulan lebih di Thailand, maka kita harus urus visa. Pengurusan visa itu butuh kesabaran. Karena tujuannnya harus jelas.  Jika kita bekerja di sana, maka ada visa khusus. 

Sedangkan kita di sana adalah pengabdian. Ada beberapa pihak penyelenggara yang bertanggung jawab, termasuk kementerian pendidikan Thailand, pihak perbatasan selatan Thailand, pihak konsulat Thailand dan Indonesia, pihak kampus, dll. Maka pihak konsulat Thailand yang di Surabaya harus menunggu terlebih dahulu surat keterangan dari beberapa pihak tersebut. Sementara itu, sesuai schedule, sebentar lagi kita harus berangkat. 

Akhirnya, kita putuskan untuk berangkat terlebih dahulu meskipun belum mengantongi visa yang resmi. Hanya berbekal passport 

Tibalah hari dimana saya harus berangkat ke bandara. Saya berangkat bersama keluarga. Ternyata di bandara ada beberapa teman Arrisalah yang rela meluangkan waktunya ikut mengantar saya. Padahal pada saat itu jadwal berangkat adalah subuh. Di bandara, saya bertemu dengan calon volunteer teman-teman sekampus dan calon volunteer lain dari beberapa kampus di Jawa timur yang kebetulan satu flight. 

Flight kita langsung menuju ke bandara Kuala Lumpur di Malaysia. Dipilihnya Malaysia karena memang sangat cocok, sebab kita volunteer dari seluruh Indonesia dijadwalkan bertemu di sana.

*saya dan teman-teman sekampus saya saat pemberangkatan di bandara

Ketika di bandara, sempat ada masalah di imigrasi (engkapnya baca di sini).
Tapi kita bisa mengatasi. Tiba di sana sekitar pukul 9 pagi dan kita harus menunggu kawan-kawan dari seluruh Indonesia sampai sore. Sore baru kita berangkat untuk menjelajahi sebelah selatan semenanjujg Malaysia dari Kuala lumpur sampai ke perbatasan sebelah Utara Malaysia. Tapi sebelumnya, kita sempat berhenti di masjid Putrajaya. Sekedar untuk foto-foto.

*di masjid Putrajaya, Malaysia.

Kita baru sampai di perbatasan antara Malaysia dan Thailand besok harinya, sekitar jam 12 siang. Saat itu beruntung tidak begitu ramai pelancong, sehingga proses di imigrasi agak lancar. Selepas dari imigrasi,  kita langsung berhenti di warung dan menikmati masakan Thailand untuk pertama kalinya. Tepatnya di daerah Sadao.

*berhenti makan di salah satu warung di Sadao, Thailand

Sadao ini masih mayoritas Melayu, tapi semua tulisan dan bahasa yang dipakai sudah berbahasa Thailand. 

Makannya saya sudah merasakan situasi yang berbeda ketika melangkah melewati imigrasi. Sebab, meskipun wajahnya Melayu dan wanitanya kebanyakan memaki hijab, tapi tulisan yang tertempel di dinding semuanya berbahasa Thailand. Di sana saya juga melihat ada banyak anak kecil Sadao yang sekolah di Malaysia. Menarik, sejak SD sudah sekolah di luar negeri. Hehe

*Pada ladies berfoto ria di perbatasan

Di sana kita cuma sebentar, setelah makan dan sebagian dari kita membeli SIM-card, bis kembali bergegas. 

Kali ini saya tidak tau akan menuju kemana. Sepanjang jalan saya hanya mengamati sekitar. Nampak wajah-wajah masih dipenuhi wajah Melayu layaknya orang Malaysia. Tapi banyak bangunan-bangunan Budha berupa patung, dll. 

Saat itu kita masih berada di wilayah provinsi songkhla. Bis terus melaju, agak lama, saya sudah jarang melihat bangunan ibadah orang Budha. Saya malah banyak melihat orang berjilbab dan laki-laki berjubah dan berkopyah putih, sebagian memakai sarung. 

Agak heran, serasa bukan di Thailand. Karena Thailand pikir saya kayak yang di film-film itu. Muka agak kecina-cinaan, putih, dll. Sampai akhirnya bis berhenti di salah satu minimarket untuk sekedar istirahat. Saat itulah saya baru melihat dengan jelas memang orang-orang di daerah ini banyak sekali memakai pakaian islami. Yang cowok bersarung atau berjubah, yang cewek berjilbab dengan rapi.

Cuaca di sana agak panas. Bis kembali melanjutkan perjalan. Agak lama kamudian bis berhenti di suatu resort. Saya baru tau kalo wilayah itu bernama provinsi Patani. Orang Melayu menyebutnya Fathoni. Orang Thai menyebutnya Pattani.

Di resort, kita menginap sekitar semalam. Hari pertama kita sekedar berkenalan dengan teman seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 74. Kebetulan saya sekamar dengan teman-teman sekampus yang cowok, dan ketambahan satu anak Aceh. 

Saya sudah merasa klop dengan teman saya ini karena kebetulan sama-sama perokok dan suka kopi. Kita ngobrol di celah samping kamar. Keluar lewat jendela. Kebetulan resort itu hanya satu lantai. Teman saya ini juga memberi saya satu sachet besar kopi Gayo, kopi khas Aceh.

Malam harinya hanya cara seremonial biasa, sekaligus sebenarnya itu adalah malam perpisahan kita sebelum kita akan berangkat ke wilayah masing-masing. Kami berlima yang dari UINSA banyak menghabiskan waktu bersama. 

Kita adalah 3 cowok dan 2 cewek.  Kebetulan kita ditempatkan di provinsi yang berbeda, kecuali yang cewek, mereka satu provinsi. Saya di provinsi Yala, teman saya yang cowok di provinsi Naratiwat, cowok yang satunya agak jauh di Pattalung. Kemudian yang cewek sama-sama di Songkhla, tapi beda sekolah.

Singkat cerita, besoknya adalah acara seremonial di mana kita akan dipertemukan dengan perwakilan pihak sekolah yang akan membawa kita ke sekolahnya masing-masing.

Saya tidak tau sekolah saya itu akan seperti apa. Karena ketika saya seacrh di internet sekolah di wilayah Yala, keluarnya adalah sekolah dengan bangunan bambu yang sangat tradisional. Tapi saya sudah siap akan ditempatkan di mana pun. Karena semakin dipelosok, akan semakin memberikan pelajaran berarti bagi saya. Pikir say seperti itu. 

Tapi yang saya tau, nama sekolahan adalah Khampee Wityha School. Salah seorang pihak penyelenggara memberitahu saya bahwa arti dari Khampee itu Al-Qur'an. Dari sana saya berasumsi bahwa sekolah tempat saya adalah sekolah yang islami.

*acara seremonial di resort pattani

Pada saat acara seremonial. Saya  dipertemukan dengan perwakilan sekolah tempat saya. Orangnya ramah, berkopyah putih, muka Melayu. Belakangan saya tahu bahwa beliau adalah mudir di sekolah tersebut. 

Awalnya saya menyebutnya dengan Buya. Dia lancar berbahasa Melayu Malaysia. Sebab dia lulusan Pakistan dan punya banyak teman Melayu di sana. Saya tidak tau tempat sekolah saya ini di mana, saya hanya ikut saja. Selesai acara, Buya ini nampak agak terburu-buru, dia ingin langsung beranjak pulang. Sehingga saya langsung memasukkan koper saya ke mobil dan tidak sempat bersalaman ke teman-teman.

Sepanjang perjalanan, kita banyak mengobrol. Buya ini membawa salah seorang pelajar. Untungnya pelajar ini juga fasih berbahasa Melayu Malaysia. Katanya, dia pernah tinggal di Malaysia sebelumnya. 

Oh iya bahasa Thailand selatan itu sebenarnya juga bahasa Melayu. Tapi bahasa Melayu Utara. Agak berbeda dengan Melayu Malaysia. Ibarat bahasa Jawa mereka itu ngapak. Logatnya juga berbeda. Jadi agak sulit dimengerti.

Jalanan di Thailand cukup bagus. Jalanannya besar dengan sedikit kendaraan. Maklum populasi Indonesia dan Thailand agak jauh. Menyadari perjalanan sudah agak panjang dan tidak kunjung sampai. Saya coba bertanya ke Buya ini. Saya penasaran apakah sekolah tempat saya ini nantinya di desa atau di kota. Saya berbasa-basi hingga saya sudah tau bahwa sekolah ini letaknya di desa dan perjalanan masih agak jauh.

Mobil berhenti di suatu tempat. Saya kira bangunan itu tidak berbentuk sekolah. Tidak mungkin kalo sudah sampai. Ternyata iya. Kita berhenti di supermarket yang cukup besar. Saya diajak masuk. Di dalam, agak berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia tempat sebagus ini biasanya dipenuhi orang-orang necis dan berpenampilan menarik. Ternyata di sana saya melihat orang berjubah dan bersarung. Saya jadi teringat di Madura. Dimana jika ke mall di Madura, pasti akan banyak orang bersarung seperti ini.

Buya ini ternyata membelikan saya beberapa  barang. Sembari menunggu di Buya ini selesai belanja, saya keluar mengajak si murid. Saat itu saya langsung memesan kopi. Kesan saya, kopi di sana cukup enak. Ketika Buya sudah selesai belanja. Baru kita melanjutkan perjalanan. Setelah itu saya baru tau kalo kita baru sampai di ibu kota provinsi. Kita masih harus melanjutkan perjalanan ke desanya.

Mobil terus melaju. Ketika Maghrib kita berhenti sholat di masjid pinggir jalan. Saya agak heran ketika melihat tempat wudhu-nya yang serupa dengan tempat wudhu di pondok saya. Tempatnya seperti bak mandi terbuka. Tempat wudhu seperti ini mungkin sudah tidak ada di masjid-masjid Indonesia. Adanya mungkin di pondok-pondok salaf yang masih konservatif. Di sana saya sadar kalo saya memang akan ditempatkan di kampung.

Setelah isya' kita baru sampai di sekolah. Saat itu saya agak capek, jadi cuma melihat sekolah dengan sekilas saja. Yang jelas, sekolahnya agak besar. Tapi di kampung. Saya dibawa ke suatu tempat di mana di sana ada bangunan. Saya baru tau kalo itu bangunan khusus guru. Di sana ada dua bangunan. Satu bangunan untuk guru di sana. Bersambung......
Share:

Dialog Tanpa Emosi

Dialog adalah proses penting dalam hubungan antar manusia. Hubungan antar manusia, bahkan antar negara sekalipun, bisa dibangun dan runtuh karena dialog. 

Manusia yang lebih cakap dalam berdialog akan lebih mudah bahagia dan sukses di masa depan. 

Networking sebagai salah satu media untuk menggapai kesuksesan sangat sulit tercapai tanpa teknik dialog yang baik. Perjodohan, bisnis, bahkan hubungan buruk atau tidaknya suatu negara bisa tergantung dari bagaimana mereka berdialog. 

Dialog akan menjadi kunci hidup manusia ke depannya. Sukses atau tidak. Bahagia atau tidak. Kaya atau miskin. Sangat tergantung dari bagaimana caranya berdialog. Sedangkan emosi adalah ruang dalam hidup berupa perasaan yang muncul karena suatu kejadian. 

Emosi dalam diri manusia bisa berbentuk senang, marah, takut dan lain sebagainya. Emosi dalam hubungan antar manusia seperti ketika seseorang berkata kasar pada orang lain maka dia akan marah.

Salah satu rupa dialog yang tidak baik adalah dialog yang tidak fokus pada subtansi permasalahan. Mereka terlalu melibatkan emosi dalam dialog. Seperti contoh, Ratna adalah teman dekat Rika untuk mengerjakan tugas bersama. Tatkala Ratna sedang nugas, Rika membuat kopi untuknya. Ternyata kopinya terlalu pahit. Dengan emosi Ratna protes. "Rik, kopinya kok agak pahit ya", dengan sedikit bercanda. 

Rika menimbali Ratna dengan emosi, “Rat, kalo kamu gak suka kopi yang saya buat, kamu buat aja sendiri. Aku udah susah-susah buatin kamu kopi. Tapi malah kayak gitu.“ akhirnya permasalahan semakin panjang, Rika ngambek dan agenda nugas bersama gagal. Dalam percakapan tersebut, ada pergeseran pokok topik antara si Ratna dan si Rika, yang awalnya protes mengenai kopi yang pahit menuju subjek pembuat kopi yakni Rika. Subtansinya dalah kopi yang pahit. Sering kali topik dialog manusia, tidak fokus pada subtansi melainkan subjek. 

Inilah yang kemudian banyak menimbulkan konflik di antara manusia dan menghambat peluang networking. Seandainya Rika sadar bahwa memang kopinya terlalu pahit, kemudian tanpa melibatkan emosi dia mencari tau kenapa kopinya pahit, itu akan menyelesaikan permasalahan saat itu juga. Bahkan si Ratna akan lebih menghargai Rika karena ketulusannya. 

Atau jika Rika memang merasa tidak setuju dengan sikap Ratna, maka dia bisa berdialog dengan baik yang tidak menunjukkan ekspresi emosi marahnya, semisal dia minta maaf dan Ratna bisa mengambil gulanya sendiri atau dengan kalimat lain yang tidak menunjukkan emosinya. 

Atau seandainya Ratna mengekspresikan emosi ketika tau bahwa kopinya pahit, bisa jadi Rika tidak akan marah. Semisal Ratna mengatakan pada Rika bahwa seleranya adalah kopi manis dan dia akan mengambil sendiri gulanya. Maka konflik tidak akan terjadi.

Melibatkan emosi dalam dialog seperti inilah yang kemudian meruntuhkan jejaring dan menghambat peluang-peluang antar manusia. Bisa jadi kelak Ratna atau Rika menjadi HRD di perusahaan yang diimpikan salah satu di antara mereka, atau sebelumnya mereka berdua adalah sosok yang saling membantu ketika yang lain ada masalah, karena emosi dalam dialog kopi, hal-hal tersebut hilang dengan seketika.

Contoh lain seperti pada saat perjalannya ke tempat kerja, mobil A tidak sengaja menyenggol mobil si B. Dari peristiwa itu, kemudian si B turun dari mobil, dia emosi dan memaki-maki si A, bahkan si B sampai memukul si A beberapa kali. 

Padahal, si A sudah mengakui kesalahannya dan bersedia mengganti rugi. Atas ulahnya itu si A akhirnya tidak terima kemudian melaporkan apa yang dilakukan si B ke pihak yang berwajib. Tingkah si B ini tentu sangat disayangkan, padahal seandainya si B mau berdialog dengan damai tanpa emosi, dia akan mendapatkan ganti rugi, bahkan bisa jadi dia juga akan mendapatkan laba dari asuransi. Tapi karena terlalu melibatkan dan mengekspresikan emosi marahnya, dia yang seharusnya beruntung malah merugi. Bahkan harus mendekam di penjara selama beberapa tahun.

Contoh-contoh di atas adalah contoh bagaimana dialog yang terlalu melibatkan emosi marah itu tidak baik. Kemudian bagaimana dengan emosi senang dan takut? Sejatinya sama saja. Terlau melibatkan emosi senang dalam dialog akan menjadikan pergeseran pokok topik dari subtansi dialog, apalagi emosi takut. Perasaab takut akan menyebabkan banyak problem tidak selesai. 

Masalah yang secara efisien teratasi dengan sangat mudah dengan dialog, karena ada perasaan takut akhirnya tak kunjung selesai. Padahal emosi takut dalam diri manusia tidak datang dari apapun kecuali pikirannya. Takut dan berani berada dalam posisi berdampingan yang dipisahkan oleh garis lurus. Garis lurus itu akan hilang dengan sendirinya dalam kondisi emergency. 

Contoh kecil bagaimana mahasiswa yang takut bersuara untuk menyuarakan pendapat ketika dosen bertanya kepada seluruh mahasiswa di kelas, tapi suara itu otomatis keluar ketika dosen menunjuknya, meskipun dengan gemetar. Artinya emosi takut memang datang dari diri sendiri yang tanpa bantuan siapapun manusia bisa mengatasinya sendiri. Emosi ini banyak menghambat kesuksesan sebagaimana mahasiswa yang takut menghadap seorang dekan karena suatu probelm. Padahal seandainya dia datang kemudian berdialog tanpa melibatkan emosi takut selayaknya dengan teman biasa, problem itu bisa jadi selesai seketika itu juga.

Hendaknya dalam dialog manusia tidak terlalu mengedepankan emosi. Fokus pada subtansi dan pokok permasalahan yang dituju. Jika kemudian pokok topiknya adalah kopi yang pahit, maka fokusnya adalah bagaimana menjadikan kopi itu tidak pahit, apakah dengan menambahkan gula atau menggantinya dengan kopi baru. Atau jika topiknya adalah mobil yang rusak dan harus ada uang ganti rugi karena kerusakan, seharusnya fokus dialog harus tertuju ke sana, dengan tanpa terlalu melibatkan emosi marah yang kerap kali hanya akan menjadikan permasalahan semakin runyam. Atau jika pokok masalahnya adalah dia punya problem di perkualiahan dan solusinya harus menemui dekan, maka dia harus berdialog dan menyingkirkan rasa takutnya, maka problem akan selesai.

Dengan contoh-contoh di atas bukan berarti emosi itu dilarang dalam dialog. Emosi dibutuhkan karena tanpa emosi manusia akan kaku. Emosi tidak akan pernah luput dalam diri manusia, namun yang terpenting bagaimana manusia bisa menakar dan mengekspresikan emosi itu di waktu dan tempat yang tepat. Seperti meluapkan emosi kesedihan dengan curhat dan menangis kepada teman dekat ketika sedang menghadapi masalah, karena hal itu akan membuang sampah-sampah emosi di alam bawah sadar yang jika dibiarkan akan meledak. Atau emosi rasa takut ketika manusia tau bahwa harus berhadapan dengan hal yang sudah terjadi secara ril. Karena emosi itu akan menjadi bahan pertimbangan objektif dalam membuat keputusan.
 
Fokus pada subtansi dan pokok topik permasalahan bukan berarti manusia harus berfikir sangat panjang. Ada suatu cerita, ada seorang anak muda yang kebetulan tempat duduknya berdampingan di kereta. Karena tidak punya jam tangan kahirnya dia bertanya kepada seorang bapak-bapak di sebelahnya. “Bapak sekarang jam berapa?” si bapak tersebut hanya diam. Pemuda itu bertanya lagi. “Bapak sekarang jam berapa?” sampai beberapa kali pertanyaan, si bapak masih diam hanya fokus pada korannya. Akhirnya si anak muda itu memukul korannya dan menegur si bapak. “Bapak ini sombong sekali ya. Saya cuman tanya jam malah gak dijawab.” 

Dengan emosi bapak itu menjawab, kalo saya menjawab pertanyaanmu sekarang jam berapa, kamu pasti akan melanjutkan dengan pertanyaan, saya mau kemana, dan itu terpaksa harus saya jawab. Kemudian kamu akan bertanya lagi saya namanya siapa, tepaksa harus saya jawab. Kamu tanya lagi saya rumahnya dimana, terpaksa harus saya jawab. Sampai kemudian kita akan mengobrol mengenai keluarga, kamu bercerita tentang keluargamu dan saya terpaksa harus bercerita mengenai keluargaku. Kemudian kamu akan tau jika aku punya anak perempuan yang cantik, kamu akan tertarik, lalu pacaran dengannya. Padahal saya tidak akan pernah memberikan puteri saya kepada pemuda yang bahkan jam pun tidak punya.

Dialog adalah media yang sangat penting untuk memperoleh kebahagiaan hidup, yang bisa jadi bentuknya adalah kesuksesan, kaya raya, jabatan dan yang lainnya. Dialog dapat menjadi kunci dalam menggapai hal tersebut. Oleh sebab itu diperlukan kiat-kiat yang baik dalam berdialog, salah satu caranya adalah dengan tidak begitu melibatkan emosi. Biarkan dialog mengalir begitu saja sebagai kedudukannya media yang menghubungkan antar manusia. Bukan sebagai media mengekspresikan emosi yang ada di dalam diri. Emosi punya tempat dan waktu sendiri untuk diekspresikan.

correct me if I have some mistakes!

Share:

The best Car Insurance in USA


The best car insurance is not always the cheapest. Buying a new insurance policy based on price alone is attractive, but you need a company to help you file a claim. After all, you don't want to pick the cheapest auto insurance deal only to find out it doesn't offer the protection you need.

Our ranking of the best car insurance companies will help you find the best car insurance for you based on pricing data and real customer feedback.

What is the best car insurance?
USAA is the best auto insurance company, but you need military affiliation to get one. If you don't qualify for USAA, State Farm is the second best auto insurance company on the data.

We asked real customers from nine major auto insurance companies across the country about their experiences. Your feedback provides valuable insights into how well these companies are serving their customers and will help you decide which insurance company is best for your business.

We used this survey to identify the best insurance companies in the country and the best in customer service, billing, and customer retention. It also identifies the insurance companies most likely to renew and is recommended by policyholders.

Best car insurance
1. United States

USAA is the best car insurance we have found. In our research, USAA's customers said they were very pleased with the customer service of this insurance company. They also like the company's easy billing process and frequent billing status updates.

The only downside we found in this company is its limited availability. USAA only serves veterans, military personnel and their families. As a result, many consumers are not covered by USAA insurance.

2. State Ranch

State Farm is easy to bill, according to most survey respondents. Many of the respondents plan to update their policies. If you don't have a military affiliation, State Farm is also the best car insurance company.

State Farm received a slightly lower rating when it asked customers if they were happy with updating the company's status during the billing process. State Farm insured drivers report that the company is offering value for money overall.

3. Geisha

Geico is the third best car insurance company in the ranking. Consumers who claim generally agree that Geico facilitates the process. Most survey respondents also report that they plan to update their policies and are likely to recommend Geico to family and friends. However, Geico outperforms its competitors in terms of value, despite its overall low price and excellent customer service.

4. Nationwide

It has consistently and generally scored good scores nationwide, but has not proven to be significantly better than any field of competition. Nationally, there are some drawbacks that prevent it from becoming the top three car insurance companies in our ranking. Some respondents said they were dissatisfied with updating their national status during the billing process or in the way the bill was resolved.

5. Farmer

The farmer landed in the middle of our ranking. Survey respondents appreciated the insurance company's satisfaction with claim processing, customer service, and value. However, when the driver asked his friends and family if he would recommend the company, the Farmers score was slightly lower and overall satisfaction was mediocre.

6. American family
When it comes to examining respondents' satisfaction with complaint resolution, American families are at the bottom of the list. Nevertheless, American families enjoy customer loyalty. The company is at the top of the list for customers who say they are likely to update their policies. American Family policyholders can also recommend the company to friends and family.

7. Progressive
Energetic advertiser Progressive Flo may be the number one advertiser hub, but Progressive is the number seven insurance company on our list. This insurance company has the highest score for ease of billing and filing with customer service. However, Progressive still lags behind most of its competitors in this area. Many competitors achieve higher satisfaction in terms of value and plan to have a higher percentage of advanced customers with fewer updates than any other company.

8. Travelers
As would be expected from a lower-rated insurer, Travelers customers do not report high levels of satisfaction in most areas measured in our survey.

Drivers who make complaints to Travelers are not happy with how it was resolved, and many don't believe Travelers is offering a fair price. Interestingly, travelers received a decent score when asked if they would recommend it to friends and family, but received a low rating when asked if they would update their policy.

9. All States
The majority of respondents who complained to Allstate indicated that they were satisfied with the simplicity of the process but were dissatisfied in most other areas. Allstate ranks higher than any other company in the ranking, so it has a lower perceived value. In addition, Allstate customers are less likely to renew their insurance policies than competitors' customers.

Who has the best car insurance?
In addition to identifying the best car insurance companies overall, our research has helped determine how these companies work in five key areas. We identify companies with the best customer service, complaint handling, and customer loyalty. Other companies are more likely to renew their policyholders or recommend them to friends.

USAA has swept these five sub-rankings and has taken the top spot in the overall ranking of the best car insurance companies. However, not all policyholders meet USAA membership requirements. Therefore, we have identified runner-ups in each category so that all consumers can seek out the best options in each of these areas.

We asked policyholders to rate their experience at an insurance company on a five-point scale and explain why. Respondents were divided into two groups: the group that signed insurance contracts over the last five years and the group that filed claims. The last group received additional questions about their satisfaction with the process during and after filing the claim, and their satisfaction with the processing of the claim.

This information is aggregated into the following sub-rankings to identify the companies with the highest customer satisfaction in a particular area.

Great for customer service: State Farm
If you're not USAA qualified, but customer service is your number one priority, check out State Farm. According to our research, State Farm customers are generally more satisfied than their competitors.

One of the unique advantages of State Farm is that it has local offices in many areas. This provides a more personalized customer service experience compared to insurance companies that offer phone and web-based interactions. "If you have a problem, you can go to their office and talk to real people who are members and supporters of our community," said one respondent.

Ideal for processing complaints: national
The best result with car insurance is that you don't have to use car insurance, which is unlikely. When it comes time to file a complaint, Nationwide is the best choice for consumers who want the complaint process to be as easy as possible. Of the survey respondents who made accusations nationwide, 76% were completely satisfied with the allegation reduction, 62% were very satisfied with the extension of the charge status, and 74% were very satisfied with the settlement of the allegation.

Great for customer loyalty: State Farm
Our survey scoring methodology measures customer loyalty based on responses to various questions. According to the USAA, State Farm enjoys the highest customer loyalty in the rankings, usually with high scores and positive customer feedback. Respondents cited competitive prices and excellent customer service as highlights of the State Farm experience.

Most likely to recommend: Geico
According to our research, Geico customers are more likely to recommend the company to friends and family. This is a good measure of overall customer satisfaction. About 41% of respondents who did not file a complaint said they would be highly likely to recommend Geico, and around 41% of respondents who only made a complaint accounted for 49%.

Most likely updated: State Farm
If auto insurance companies retain most of their customers when they renew their insurance policies, they are doing the right thing. According to our research, with the exception of USAA, State Farm is ideal for customer retention, indicating a high level of satisfaction. About 61% of State Farm customers who have filed a complaint are likely to renew their policy, and another 20% are more likely to renew.







Share:

Logika, Etika dan Estetika Dalam Beragama


Logika, etika dan estetika adalah bagian dari filsafat yang berhubungan dengan pola pikir dan prilaku manusia. Dalam bahasa yang lebih mudah, logika adalah cara berpikir manusia mengenai benar dan salah; etika, mengenai baik dan buruk;  dan estetika, mengenai indah dan jelek.

Tiga sudut pandang tersebut akan berdampak pada prilaku manusia di kehidupan nyata, pun aktivitas beragamanya. Untuk mencapai esensi agama yang sebenarnya, manusia harus bisa meletakkan ketiganya sebagai sesuatu yang imperatif, namun tetap dalam porsi dan herarki yang dibutuhkan.
Logika atau cara berfikir yang bertumpu pada benar dan salah dalam beragama mencerminkan bagaimana upaya manusia agar praktek ubudiyyah dan amaliyahnya dapat sesuai dengan tuntunan. Dalam Islam, ini adalah bentuk ijtihad dan ikhtiyar supaya seorang muslim bisa mengimplementasikan keyakinannya dalam beragama berdasarkan petunjuk dan nilai-nilai keislaman yang dibawa oleh Rasul.

Seorang muslim harus meraih nilai-nilai tersebut melalui ilmu agama yang dicari secara intensif, kontinuitas dan bersanad serta digali dari berbagai perspektif. Hal ini dikarenakan nilai-nilai logika yang terkadang kontradiktif antara saintifik dan normatif maupun progresif dan konservatif. Tanpanya, nilai-nilai logika dalam beragama bisa jadi malah berdampak pada dzillun mudzillun(sesat dan menyesatkan).

Dalam Islam, ada dua sumber utama dalam menggali nilai-nilai kebenaran: al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan dalil al-Qur’an dan as-Sunah yang memuat aturan hukum ahli ushul membaginya menjadi 2 bagian: dalil qoth’i (jelas) dan dalil dzonni (multi tafsir). Dalil qoth’i sebagaimana contoh kewajiban melakukan wudlu sebelum sholat. Di dalam Surat al-Maidah:6 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka cucilah muka-muka kalian dan tangan-tangan kalian sampai ke siku, usaplah kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki”. Dalil tersebut mempunyai arti bahwa muslim yang ingin melakukan sholat, dia harus melakukan wudlu’ terlebih dahulu. Semua ulama sepakat mengenai hal itu.

Sedangkan dalil dzanny seperti tatacara pelaksanaan wudlu’ secara rinci. Sebagaimana di dalam a-Qur’an pada ayat yang sama, yang hanya menyebut wamsahu biruusikum atau “usaplah kepala kalian”. Sebagian ahli fiqh berbeda pendapat mengenai hal ini. Ulama Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa dengan mengusap sebagian kepala, bahkan hanya beberapa helai rambut sudah mencakup dari apa yang dimaksudkan ayat tersebut, Madzhab Maliki dan dan Hambali mewajibkan mengusap seluruh kepala, sedangkan Madzhab Hanafi seperempat kepala. Ini berarti nilai-nilai logika yang mencerminkan kebenaran dalam Islam sangat luas cakupannya. Bisa jadi satu realita terdiri dari beberapa logika yang berbeda, namun pada dasarnya tetap mencerminkan nilai-nilai kebenaran yang sama.

Etika sebagai realisasi dari pandangan manusia mengenai baik dan buruk juga merupakan faktor imperatif dalam beragama. Secara herarkis nilai-nilai dalam etika juga harus disetarakan dengan logika. Banyak hadis Nabi yang berbicara mengenai urgensi etika, yang paling mashur sebagaimana hadis Nabi “Sesungguhnya saya (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik” (H.R. Ahmad), dan hadis yang lain ketika Rasul ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” (H.R. Tirmidzi).

Kedua hadis di atas memperjelas bahwa posisi etika dalam agama Islam juga tidak boleh dinomerduakan. Artinya, ketika manusia berbicara mengenai Islam, dia tidak hanya berbicara mengenai tatanan hukum yang mengatur benar dan salah, tetapi juga tatanan etika: baik dan buruk.

Problematika dewasa ini adalah sudut pandang yang dipakai dalam beragama hanya bertumpu pada nilai-nilai logika yang cenderung subjektif dan kontradiktif, kemudian melupakan etika. Maka yang terjadi adalah manusia saling serang dan masing-masing mengklaim bahwa nilai-nilai kebenaran yang ada di dalam pikirannya merupakan kebenaran sejati. Padahal hakikat kebenaran sejati hanya bisa dilihat ketika di surga. Sejalan dengan pendapat Jalaluddin ar-Rumi: “Kebenaran bagaikan selembar cermin di tangan tuhan. Jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, lalu berpikir telah memiliki seluruh kebenaran”.

Oleh sebab itu peran etika sangat penting. Karena dengan dibarengi etika, logika yang berpotensi menimbulkan konflik akan dapat dikikis dengan nilai-nilainya yang santun dan mendamaikan. Dalam contoh amaliyyah, ketika seseorang menyampaikan pendapat mengenai apa yang berdasar logikanya salah, dia juga harus menjaga perasaan orang lain yang menganggap bahwa itu sesuatu yang benar. Sinergi dari dua sudut pandang tersebut kemudian akan melahirkan estetika. Estetika merupakan puncak dari seluruh nilai yang harus dicapai dalam beragama. Meskipun sifatnya abstrak, estetika dalam beragama merupakan hal yang cukup sulit dicapai. Karena banyak manusia yang masih sulit menyinergikan logika dan etika.

Sedangkan dalam ubudiyyah, contoh kecilnya adalah ketika seseorang melaksanakan sholat. Orang yang sedang sholat, secara logika atau ketentuan hukum, dia yang hanya memakai celana sepertiga, asalkan di atas pusar dan di bawah lutut, sudah dihukumi sah. Namun tentunya itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai etika seorang hamba terhadap tuhannya. Hamba yang menghadap tuhannya dengan busana seperti itu tentu bukan hamba yang baik. Oleh sebab itu dia harus memakai pakaian yang lebih tertutup dan sopan. Setelah dua sudut pandang tersebut dilakukan dengan sempurna, baru kemudian dia bisa mencapai nilai-nilai estetika. Nilai esetetikanya adalah ketika dia bisa menjalankan sholatnya dengan penuh ketenangan dan kedamaian sebagaimana dalam hadis: “An ta’budallah ka annaka tarahu, faillam takun tarahu, fainnahu yaraka” (Engkau menyembah kepada Allah, seperti engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya tuhanmu melihatmu). (H.R. Muslim).  

Share:

G30S/PKI dalam Pandangan Prof. Salim Said

Gstapu Adalah Daulat

1965, di tengah situasi politik yang lebih menguntungkan PKI, beberapa pihak yang tidak menginginkan komunis berkuasa di Asia Tenggara mencoba untuk memainkan teori domino. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum terjadinya gestapu, DN Aidit sempat berkunjung ke Rusia. Pada kunjunganya sempat terjadi perdebatan sengit antara Aidit dan salah satu pembesar Komunis Rusia. Mereka membicarakan perbedaan pendapat mengenai komunisme antara Rusia dan China, namun ternyata Aidit lebih memihak ke China sehingga menyulut amarah pembesar komunis Rusia tersebut. Dia berkata bahwa suatu saat akan menghancurkan komunis Indonesia. Tak heran jika setelah terjadinya gestapu, banyak pihak menuding pemrakarsa manipulasi dokumen gilkrift adalah GKB (Badan intelijen Rusia).

Gestapu merupakan salah satu operasi militer yang mayoritas eksekutornya adalah pasukan cakrabirawa (paspmapres). Bisa jadi gestapu adalah operasi yang gagal total sesuai dengan rencana awalnya, atau bahkan memang sengaja digagalkan oleh salah satu pihak yang mempunyai kepentingan.

Sebagaimana history revolusi bangsa Indonesia yang tidak lepas dari pendaulatan (penculikan tokoh agar dia mau melakukan sesuatu), seperti yang dilakukan oleh para pemuda terhadap Soekarno-Hatta agar secepat mungkin meproklamirkan kemerdekaan, atau penculikan terhadap Syahrir sebagai perdana mentri waktu itu dengan maksud pemberhentian perundingan dengan pemerintahan kolonial. Semua proses penculikan terlaksana dengan sukses tanpa melukai tokoh tersebut sedikit pun. Gestapu juga merupakan salah satu upaya pendaulatan dengan melakukan operasi penculikan terhadap tujuh jenderal. Hal ini ditenggarai ditemukannya dokumen glkrfit yang dibawa oleh duta besar Inggris di Jakarta kepada para jenderal tersebut.

Namun pada saat gerakan pendaulatan, operasi yang dituding Soekarno juga terlibat didalamnya itu disusupi oleh beberapa pihak yang mempunyai agenda politik khusus, seperti Syam Qamaruz Zaman dan beberapa biro khusus PKI yang lain. Tidak heran jika kemudian banyak kesaksian eksekutor gestapu bahwa mereka tidak tahu menahu secara rinci apa tugas yang harus dilakukan, karna memang perintah yang di berikan bersifat general.

Dalam hal ini ada bebera pihak yang di tenggarai terlibat kasus tersebut:

1. Soekarno
Soekarno. Semenjak dilantik jadi presiden pada 1945, hubungan Soekarno dengan tentara memang penuh dengan dinamika. Hal ini disebabkan oleh peristiwa agresi militer 2 Belanda ketika akan memasuki daerah Jogjakarta. Pada saat itu, jenderal Sudirman yang sedang sakit mengajak Sukarno untuk turut bergrilya masuk ke hutan sampai Indonesia benar-benar memperoleh kemenanangan. Namun Soekarno menolak dan mengajak Sudirman untuk menetap di Jogja saja, dan berjanji akan memanggil dokter Belanda agar dia diberikan perawatan. Namun bagi Soedirman, sebagai tentara yang mengadopsi kuat sumpah jabatan, hal seperti itu adalah sebuah penghianatan. Soekarno sebagai sipil dan politisi ulung, tentunya mempunyai pandangan yang berbeda, setiap sesuatu tidak harus diselesaikan dengan perang, kadang peluang kemenangan bisa terbuka dengan beberapa konsipirasi selimut dalam ruang.

Pada tahun 1965, yang menjadi Pangab (Panglima ABRI) adalah Ahmad Yhani. Dia berhasil menjadi penglima setelah Soekarno melengserkan Nasution, hal ini terjadi karna Nasution cukup radikal dalam menentang NASAKOM, ideologi yang di elu-elukan Soekarno pada dunia. Yhani yang cukup pintar, pura-pura mendukung NASAKOM agar Soekarno tidak begitu berpihak ada komunis. Maka tak heran jika Yhani cukup dipercaya oleh Soekarno. Meskipun beberapa waktu setelahnya, hal itu tdak terjadi lagi karna Soekarno mendengar cerita bahwa akibat radikalisme pandangan Nasution tentang Soekarno dan NASAKOM, Yhani akan melakukan serangan terhadap Nasution.

Hal lain yang juga membuat Soekarno kehilangan dukungan tentara salah satunya semenjak Inggris memberikan kemerdekaannya terhadap Malaysia. Soekarno sangat menentang karena menanggap bahwa negara tersebut hanya sebagian dari neokolonialisme yang akan mengancam Indonesia terhimpit dari dua arah. Malaysia bagian utara dan Australia di bagian selatan.

Soekarno geram karna merasa dikhianati oleh pemimpin Malaysia waktu itu yang telah melanggar perjanjian Manila. Perjanjian yang dihadiri oleh Soekarno, PM Malaysia dan Presiden Philipines. Hasil dari pertemuan tersebut ialah menyerahkan kedaulatan masyarakat di Kalimantan utara terhadap mereka sendiri dengan cara referendum. Namun ternyata PM Malaysia melalui koloninya langsung memproklamirkan bahwa kalimantan utara dibagian Sabah dan Serawak adalah negara bagiannya. Dengan beberapa upaya Soekarno mencoba mengirim pasukan ke perbatasan untuk melakukan propaganda, sementara sebagian tentara yang lain sudah melakukan kontak fisik dengan tentara Inggris.

Kesalahan Soekarno pada saat itu karna yang ditunjuk sebagai komandan perang adalah seorang KSAU yang masih Junior, Omar Dhani. Hal ini menimbulkan kecemburuan di kalangan para senior tentara, lebih-lebih Soeharto, Panglima kostrad yang ditunjuk sebagai wakil komandan perang di bawah juniornya. Lagi pula, para senior tentara menganggap bahwa Omar Dhani tidak mempunyai pengalaman perang yang mumpuni.

Maka ketika dokumen gilkrift tersebar dan disadari oleh Presiden, ada semacam ketakutan bahwa dirinya benar-benar akan dikudeta oleh para Jenderal. Oleh sebab itu ada asumsi bahwa gestapu memang diperintahkan oleh Presiden. Namun bukan untuk pembantaian, melainkan pendaulatan, dengan menculik tanpa menyakiti. Meskipun kenyataan yang terjadi berbeda, karna mungkin perintah tersebut sudah disusupi oleh beberapa kepentingan.

2. Internal angkatan darat
Di samping karena bentuk kekecewaan tentara terhadap Soekarno karna kesalahan memilih komandan perang, Krisis ekonomi yang sangat parah saat itu juga membuat masyarkat kecewa terhadap 20 tahun pemerintahan Soekarno, tidak terkecuali tentara. Tentara sebagai basis terdepan yang menolak PKI menganggap bahwa PKI adalah salah satu elemen yang mengancam keutuhan NKRI kelak, karena terbukti bahwa sepenjang sejarah PKI memang sering melakukan pemberontakan, termasuk di Madiun pada 1948 dan beberapa peristiwa di luar negeri.

Hal lain yang membuat hubungan PKI dan tentara memanas adalah karna pada saat itu PKI yang mempunyai basis kekuatan cukup banyak tersebar di beberapa sektor pemerintahan, mencoba meyakinkan Presiden dengan program angkatan lima, sebuah program yang mendorong agar rakyat sipil juga di persenjatai oleh negara.

Bisa dikatakan bahwa tentara pada masa itu dibagi menjadi 3 bagian: pertama, ialah pasukan Nasution. Nasution sebagai Jenderal senior sangat antipati terhadap Soekarno. Hal ini juga yang membuat dia pernah mengarahkan moncong meriam ke istana untuk memaksa Soekarno agar membubarkan perlemen pada tahun 1953. Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh Soekarno dengan membantah bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Nasution juga bersebrangan dengan Presiden mengenai NASAKOM karena memang Nasution sangat alergi terhadap komunisme.

Kedua, A Yhani. Yhani yang cenderung moderat mencoba merangkul semua elemen NASAKOM. Ini dilakukan agar Soekarno tidak terlalu dekat dengan PKI. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan Nasution yang radikal dan antipati, sehingga Yhani pernah mengusulkan untuk menyingkirkan Nasution, meskipun ide itu ditolak oleh senor tentara yang lain.

Ketiga, Soeharto. Soeharto yang sudah aktif sebagai tentara pada masa revolusi, pada saat itu sudah menjabat sebagai panglima kostrad. Dia merasa bahwa kolega-koleganya yang berbasis di Jakarta sudah sangat hedonis dan feodal terhadap dirinya. Hal ini bisa dilihat dari pola dan cara hidup bagaimana tentara dibawah resimen Nasution dan Yhani hidup cukup megah, dan bagaimana tentara kostrad hidup sederhana. Itu terbukti dengan cerita bahwa Soeharto dulu pernah mengajukan surat pemunduran diri kepada Nasution, dia ingin mencari pekerjaan baru karena menganggap gaji penglima kostrad masih belum cukup untuk memenuhi kehidupannya, namun hal tersebut tidak pernah terjadi, karena surat yang ditunjukkan ke Nasution tidak pernah sampai.

Beberapa konflik internal di tentara dan dendam lama terhadap komunisme yang sudah sangat menjalar, maka tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa gestapu adalah salah satu bagian dari konspirasi pihak yang berkepentingan dalam ABRI untuk melakukan revolusi besar-besaran, baik dalam internal ABRI maupun di Indonesia. Dengan cara menculik dan membantai para jenderal lewat biro-biro khusus PKI di tentara sehingga mereka bisa menyebut bahwa PKI-lah pelakunya.

3. Pihak lain
Pihak lain yang berkepentingan ialah CIA, KGB, M-16 ataupun inteljen China. Soekarno sebagai tokoh galanggang penentang utama imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh inggris dan sekutunya pasti akan menghadapi banyak anacaman. Inggris yang pada waktu itu sukses membentuk negara bonekanya disebelah utara Indonesia merasa tidak nyaman dengan negara tetangganya. Maka pada saat itu Rodman Rodeway, salah satu agen inggris lewat pengakuannya diberi anggaran beberapa ribu poundsterling untuk operasi propaganda melengserkan Soekarno.

Perang dingin yang sedang berkecamuk antara kubu barat dan timur juga sangat berpengaruh. Amerika sebagai basis kapitalisme tidak menginginkan Indonesia jatuh menjadi negara Komunisme, karna dikhawatirkan jepang juga akan jatuh menjadi negara komunisme dan mendukung perang dingin yang sedang berlangsung dalam manivestasi perang Vietnam. Salah satu cara untuk membendung hal tersebut adalah mencari tentara anti komunis untuk diajak bekerja sama melakukan tipu muslihat menghancurkan Soekarno dan Komunis di Indonesia. Adapaun tudingan terlibatnya KGB adalah banyak pihak mengatakan bahwa yang membuat dokumen gilkrift adalah seorang agen KGB berketurunan cekoslovakia.

4. PKI
Partai komunis terbesar ketiga didunia tersebut besar kemungkinan adalah dalang dibalik gestapu. Hal ini dikarenakan memang pelaku gestapu adalah biro-biro khusus PKI yang berada dalam ABRI. PKI sangat kuat dikaitkan dengan peristiwa gestapu karena sejarah mencatat PKI dan ideologi revolusioner yang digagasnya memang sangat kental dengan pemberontakan, termasuk yang dituduhkan terhadapnya dalam kasus pembunuhan 7 Jenderal.

Catatan ini diambil dari memoar Prof. Salim Said, “Dari Gestapu ke Reformasi”. Said salim adalah guru besar bidang pertahanan. Beliau termasuk yang mengusulkan bintang 5 terhadap 3 Jendral yakni Soedirman, Soeharto dan Nasution. Dia juga yang mengusulkan bahwa pimpinan negara hanya boleh memimpin selama 2 periode saja, sebenarnya hal ini pernah dikemukakan oleh politisi PDIP pada sekitar tahun 1993, namun tentu saja hal itu dibendung oleh Soeharto.

Share:

Icon Display

Dahulukan Idealisme Sebelum Fanatisme

Popular Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Recent Posts

Kunci Kesuksesan

  • Semangat Beraktifitas.
  • Berfikir Sebelum Bertindak.
  • Utamakan Akhirat daripada Dunia.

Pages

Quote

San Mesan Acabbur Pas Mandih Pas Berseh Sekaleh