Akibat Passport Rusak


Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi guys. Baca sampai selesai biar tau klimaksnya.. hehe

Alkisah pada saat itu kebetulan saya mendapatkan keberuntungan sebagai perwakilan kampus UINSA bersama 4 teman lain dari berbagai Fakultas untuk menjadi volunteer di Thailand. Program tersebut merupakan salah satu kerja sama antara pihak kampus, Abroad Alumni Association of Southern Provinces Thailand (Badan Alumni),  SBPAC Thailand (Southern Border Province Administration Center Thailand) dan juga Konsulat Republik Indonesia di Songhka.

Salah satu bentuk kerja sama ini bertujuan untuk memberikan manfaat pendidikan terhadap beberapa daerah tertinggal di Thailand, khususnya di bagian selatan yang mayoritas ditempati oleh Bangsa Melayu (di Thailand kurang lebih ada 3 etnis: etnis Siam, Melayu dan China. Etnis Siam adalah etnis mayoritas dan beragama budha, wajahnya seperti di film-film Thailand. Sedangkan etnis Melayu wajahnya sebagaimana orang Melayu pada umumnya, kebanyakan beragama Islam dan bertempat di bagian selatan Thailand, khusunya 3 daerah: Naratiwat, Pattani dan Yala, sebagian juga banyak berada di sekitar Bangkok. Bahasa mereka berbeda dengan bahasa Melayu Malaysia seperti di film kartun Upin Ipin, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Utara yang sangat susah dimengerti. Mungkin kalau di Jawa mereka disebut dengan “ngapak”, sebagaimana orang Brebes, Tegal, Cirebon dan lain-lain. Sedangkan etnis China tidak begitu banyak dan cukup susah membedakannya dengan etnis Siam).

Badan Alumni adalah alumni luar negeri Thailand Selatan. Seluruh pengurusnya merupakan orang Melayu yang merasa memiliki tanggung jawab untuk memajukan dan mempertahankan budaya dan etnis kemelayuannya, mengingat mereka merasa bahwa kebudayaan Siam dan Budha telah banyak merasuk melalui kurikulum dan beberapa pola lain, di samping karena pendidikan di Thailand bagian selatan juga termasuk yang tertinggal. Oleh sebab itu mereka melakukan MoU dengan beberapa kampus di Indonesia dengan tujuan agar mahasiswa Indonesia dapat menyebarkan nilai-nilai keilmuan dan juga nilai-nilai ras melayu yang menurut mereka mulai ditinggalkan. Dengan mengirimkan mahasiswanya, kampus di Indonesia berharap bisa menaikkan kelas kampusnya agar dapat bertaraf Internasional, mengingat ini merupakan program yang melibatkan 2 negara, kemudian nantinya mereka juga akan mendapat jatah mahasiswa asal Thailand yang akan dikuliahkan di sana. Sedangkan pihak badan alumni juga mendapatkan timbal balik, mereka dapat mengirimkan siswa-siswi berbangsa Melayu untuk dikuliahkan di Indonesia secara gratis (menurut yang telah disampaikan oleh Kepala Konsulat Songhkla Bpk. Triyogo Jatmiko, setiap tahun, hampir 6000 muda-mudi asal Thailand Selatan yang berniat untuk belajar di Indonesia setiap tahunnya, baik di pondok-pondok pesantren atau di kampus-kampus).

Saya dipercaya bersama sekitar 84 mahasiswa lain dari seluruh Indonesia untuk menyebarkan ilmu di sana (Dari seluruh mahasiswa, kita disebar ke beberapa sekolah di penjuru Thailand Selatan, mulai dari Provinsi Naratiwat sampai Provinsi Krabi. Masing-masing sekolah dijatah 1 anak atau maksimal 2 anak. Tahun ini memang hanya diprioritaskan di sekolah yang berada di bagian Selatan Thailand saja, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang katanya ada juga yang ditempatkan di sekitar Bangkok, atau sampai di Thailand bagian tengah). Dikarenakan pengumuman kelulusan seleksi dan proses pemberangkatan yang cukup mepet, malam itu juga saya berangkat ke rumah di Madura untuk melengkapi syarat-syarat pemberangkatan. Kemudian setelah semuanya beres, saya langsung menyerahkannya ke pihak International Office (IO) UINSA.

Saya baru sadar bahwa ada yang janggal ketika melihat di pasport saya ada sedikit sobekan (hanya seujung jempol) di halaman tempat kolom tanda tangan, tepatnya di pojok atas sebelah kanan, cukup jauh dari kolom tanda tangan pihak yang mengeluarkan passport. Sayangnya, saya baru sadar ketika proses penyerah terimaan berkas ke pihak IO, mau diperbaiki terlebih dahulu rasanya waktunya tidak akan cukup. Saya anggap ini bukan dan tidak akan jadi masalah. (Kebetulan saat itu saya belum sadar bahwa passport robek akan menjadi masalah. Seingat saya terakhir kali bepergian, passport tersebut masih dalam kondisi baik. Kemudian passport saya lama dipegang salah satu pihak travel. Namun sampai saat ini saya tidak tau apa penyebab robeknya).

Singkat cerita tibalah pagi itu, pagi dimana saya akan meninggalkan tanah air selama 4,5 bulan. Saya benar-benar tidak merasa cemas mengenai passport, karena saya anggap posisi robeknya tidak berada di tempat yang vital. Ketika mulai melewati imigrasi Juanda, sebelum memberikan setempel tanda keluar, petugas tersebut memberikan saran, agar kalau ada waktu sebaiknya passport saya segera diperbaiki, karena untuk desnitasi negara-negara maju, passport seperti itu tidak akan diperbolehkan masuk. Saya anggap itu hanya anjuran biasa, saat itu saya hanya mangguk-mangguk.

Kemudian setelah tiba di Kuala Lumpur Airport terminal 2 (KL 2), ketika pemeriksaan imigrasi, saya bersama iring-iringan teman lainnya memilih berada di posisi paling belakang untuk mengantisipasi bahwa semua teman saya lolos (karena yang saya dengar, meskipun antar negara Asean bebas visa masuk dan tinggal selama 1 bulan, namun untuk rakyat Indonesia, imigrasi Malaysia agak memperketat, karena banyak kasus masyarakat Indonesia yang overstay di Malaysia dan bekerja secara ilegal. Artinya sebelum memberikan setempel masuk, pihak imigrasi akan melihat terebih dahulu penampilan atau barang bawaan bagi orang yang di passportnya tidak ada setempel visa, jika penampilan dan barang bawaannya meyakinkan berarti dia terindikasi hanya akan liburan atau keperluan lain dan tidak akan menjadi TKI ilegal). Kebetulan 2 teman di depan saya digiring ke tempat pemeriksaan khusus, giliran saya, dengan nada agak tinggi petugas tersebut bertanya kenapa passport saya robek, saya jawab bahwa itu sudah lama sekali, ternyata dia tidak mempermasalahkan. Kemudian dia bertanya hendak kemana saya? “saya hendak ke Thailand”,. “kenapa tidak langsung flight yang Thailand?” terinsipasri dari film India saya jawab“saya nak menghabiskan beberapa ringgit dulu untuk liburan di Malaysia”. Kemudian saya diberikan setempel masuk Malaysia. Mengenai 2 teman saya yang digiring ke temapt khsusus tadi, kemudian mereka juga diberikan setempel masuk seteleh menunjukkan surat tugas dari Badan Alumni dan pihak kampus.

Setelah berkiling sebentar di daerah Kuala lumpur dan Putra Jaya, kemudian kita melanjutkan perjalanan via bus ke perbatasan Malaysia dan Thailand di Kedah dan Songhka. Berangkat dari Putra Jaya sebelum maghrib kita baru bisa masuk ke border pagi hari. Guidenya mengatakan bahwa kita agak beruntung saat itu, terkadang di perbatasan tersebut kita harus antri berjam-jam karena banyaknya turis yang ingin menyebrang dari Malaysia ke Thailand. Sewaktu pemeriksaan imigrasi Malaysia untuk memperoleh setempel keluar, saya masih merasa biasa, ketika tiba giliran saya, petugasnya ternyata bapak-bapak berumur sekitar 50 tahun ke-atas. Dia membolak balik passport saya dan sama sekali tidak bertanya mengenai passport saya yang robek, dia hanya bertanya apakah saya pernah belajar di Arab? kenapa di passport saya banyak visa bertuliskan Arab, saya hanya menggelengkan kepala. Kemudian setempel keluar diberikan.

Selesai pemeriksaan imigrasi Malaysia, beberapa kilo meter setelahnya kita sampai sampai di imigrasi Sadao, Songhkla, Thailand, untuk mendapat setempel masuk. Antara kedah dan Sadao sebenanrya sama-sama etnis Melayu, namun ketika sudah sampai di Sadao, hawanya sudah beda, mungkin karena bahasa dan tulisan-tulisan di segala penjuru sudah memakai bahasa dan tulisan Thailand. Ketika giliran saya untuk diperiksa petugas imigrasi, kebetulan petugasnya perempuan, dia menunjuk pas di tempat passport saya yang robek, sebelum sempat menjawab isyaratnya saya diarahkan ke ruang pemeriksaan khusus yang berada di sebelahnya. Di dalamnya ada seorang laki-laki etnis Siam, di situ saya mulai sedikit bertanya-tanya, saya bukan takut bahwa saya tidak akan diperbolehkan masuk ke Thailand, saya hanya takut proses pemeriksaan akan memakan waktu lama, yang akan membuat rombongan lain harus menunggu, tidak enak hati rasanya jika karena saya mereka harus tertahan di imigrasi. Tenryata perkiraan saya salah, petugas imigrasi tersebut hanya membolak-balik passport kemudian menyuruh saya tegak untuk difoto, lalu setempel masuk diberikan.

Setelah opening ceremony di salah satu resort di Pattani, kita dijemput oleh kepala sekolah masing-masing dan di sanalah kita harus berpisah dengan teman-teman. Karena saya dan teman-teman UINSA tidak sempat mengurus visa ijin tinggal di Thailand di Konsulat Thailand Surabaya (sebenanrya kita sudah mengurus, tapi ternyata belum clear. Akhirnya saya masuk ke Thailand tanpa visa, kemudian sebelum satu bulan tinggal di sana saya harus menyeberang ke Malaysia, tepatnya ke Konsulat Thailand di Kelantan, untuk memeproleh visa tinggal sebagai selama 2 bulan lagi).

Ketika harus mengurus perpanjangan visa saya kembali harus menyeberang ke Malaysia, namun via border Naratiwat-Kelantan. Pada saat melewati proses imigrasi Naratiwat di Thailand untuk mendapatkan setempel keluar saya merasa aman-aman saja, demikian juga ketika mau masuk ke Malaysia. Perkiraan saya benar, petugas imigrasi tidak mempermasalahkan passport saya yang rusak. Setelah proses pengurusan visa di Malaysia selesai, kita kembali lagi ke Thaland via border yang sama, namun masalah ada ketika saya akan melewati imirgrasi Malaysi untuk mendapatkan setempel keluar. Petugas imigrasi perempuan berjilbab bertanya ke saya mengenai passport saya yang rusak, saya menjawab sama dengan jawaban saya di bandara KL 2, bahwa itu sudah rusak sejak lama, tetapi dia tetap mempermasalhakan dan membawa saya ruang pemeriksaan khusus, di sana ada bapak-bapak berkepala botak.

Ketika saya masuk, dia langsung marah-marah ke saya, bahwa passport saya tidak sah dan dia tidak akan memberikan setempel keluar, kebetulan karena dia langsung bernada tinggi saya juga agak emosi, saya katakan bahwa jika bandara KL 2 Malaysia yang merupakan border highclass-nya mau memberikan setempel terhadap passport saya ini, kenapa boder sini tidak mau? (saya belum merasa bersalah karena belum browsing mengenai regulasi passport rusak) Kebetulan saya juga dibantu pihak Badan Alumni. Kemudian setelah sekitar 20 menit kita sama-sama bernada agak tinggi, barulah si petugas botak tersebut mengatakan “oke karena ini setempel keluar tidak apa-apa saya beri setempel, tapi kalo setempel masuk tidak akan sama sekali”, kurang lebih seperti itu dengan logat Melayunya.

Setelah selesai pemeriksaan, pada saat berjalan keki ke border Thailand, petugas Badan Alumni tersebut mengatakan kepada saya bahwa memang terkadang petugas imigrasi di Kelantan itu sering menyulitkan orang-orang yang mau menyeberang, tapi ujung-unjungnya dia ingin dikasih uang jaminan. Saya tidak tau itu benar apa tidak, yang jelas petugas badan Alumni tersebut juga menceritakan bahwa ada temennya yang pernah mengalami hal serupa, dari gaya bicaranya dia terlihat sangat tidak suka dengan petugas imigrasi di Kelantan itu. Konsekuensi apabila saya tidak diberikan setempel masuk, maka saya harus mengunjungi Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur untuk membuat passport baru (padahal jarak Kelantan dan Kuala Lumpur sangat jauh), baru kemudian bisa kembali lagi ke Thailand. Kemudian setelah kejadian itu saya mulai brwosing mengenai regulasi passport yang rusak, saya sadar bahwa memang yang saya lakukan salah, dan yang saya ngototkan ketika berdebat dengan petugas imigrasi Malaysia itu adalah hal yang salah.

Kebetulan tempat saya bertugas berada di Yala, Banang Sata. Banang Sata merupakan daerah pegunungan yang banyak pohon duriannya, makan durian gratis di sana sudah bagaikan saling berbagi rokok ketika berkumpul dengan teman-teman di tanah air. Banang sata merupakan salah satu red zone, dikatakan red zone karena di sana banyak para pejuang Melayu yang merasa tertindas oleh pemerintahan Thailand (mereka menyebutnya dengan Budha Siam). Mereka sering melakukan teror terhadap pemerintah atau ke etnis Siam yang berada di sana (hal ini disebabkan karena mereka dulunya adalah bangsa berdaulat dengan kerajaan yang sejahtera, sebelum akhirnya kerajaan Thailand datang menyerbu). Daerahnya sekitar 100 KM dengan perbatasan Betong, tempat wisata daerah atas awan Thailand dan Pangkalan Hulu, sebelah utara Malaysia. Tidak heran jika 80% masyarakat Yala adalah etnis Melayu, sisanya etnis Siam dan China. Banang Sata masih sangat kampung tapi cukup sejahtera, dikatakan sejahtera karena hampir di setiap rumah mempunyai mobil pribadi.

Ketika itu, ada undangan untuk berbuka bersama di Konsulat Songhkla. Perjalanan saya dari Banang Sata menuju kota Songhka berjarak sekitar 170 KM atau sekitar Surabaya-Madiun. Namun bisa ditempuh dengan perjalanan transporatsi umum (sejenis van) sekitar 2,5-3 jam, maklum di sana jalan cukup luas dan kendaraan tidak sepadat di Indonesia, atau bisa ditempuh dengan 3 jam versi kereta api gratisan. Kebetulan di sana naik kereta api untuk kelas ekonomi adalah gratis untuk penduduk asli, dan bayar (murah) untuk pendatang. Namun terkadang saya dikasih pinjam KTP oleh kepala sekolah saat memesan tiket, sehingga naik keretanya juga gratis.

Saat sampai di Konsulat untuk berbuka bersama, saya segera menghampiri ibu Wenny, salah satu diplomat Konsulat, untuk menanyakan perihal pembuatan passport. Ibu Wenny menjawab bahwa passport bisa langsung diproses tapi kalau mau menunggu nanti sekitar tanggal 26 Agustus pembuatan passport di Konsulat akan dimutaakhirkan, yakni memakai cip elektronik, sedangkan yang sekarang adalah passport jenis lama, yang tidak ada scan mata atau sidik jari, hanya foto tempelan biasa. Akhirnya saya memutuskan akan membuat passport saat bulan Agustus saja, ketika passport cip di konsluat sudah rampung. Meskipun saya sudah tau bahwa ijin tinggal saya akan habis di awal agustus.

Setelah ijin tinggal mau habis, otomatis saya hatus pergi ke Malaysia lagi dan keluar masuk border lagi dalam keadaan passport saya masih rusak. Saya sadar akan resiko yang akan saya tanggung, namun tetap yakin bisa lolos. Kebetulan kita juga diantar oleh petugas Badan Alumni, tapi bukan yang mengantar saya di periode perpanjangan visa yang pertama. Saat keluar Thailand seperti biasa, sebagaimana yang saya yakini border Thailand itu ramah dan tidak begitu mempersulit, ternyata prosesnya memang lancar.

Masuk malaysia saya mulai berfikir takut terjadi apa-apa dan menghambat perjalanan teman-teman, ternyata border masuk ke Malaysia juga aman. Setelah urus visa, hendak keluar malaysia saya sudah mempersiapkan argumen dan alasan ketika akan bertemu petugas imigrasi botak yang marah-marah dan sempat tidak memberikan setempel keluar dulu. Ternyata semuanya lancar. Saya bisa keluar dari Malaysia dengan tangan melenggang. Ketika itu saya sudah merasa bahwa saya lolos, karena imigrasi Naratiwat untuk masuk ke Thailand biasanya sangat ramah.
Ternyata masalah ada di sana, sampai di imigrasi Thailand ketika maghrib, kita mulai mengantri. Ketika tiba giliran saya, petugas imigrasi Thailand yang saya lihat berasal dari etnis Siam, marah-marah ke saya dengan bahasa Siam sambil menunjuk passport saya yang rusak. Kemudian dia memanggil petugas yang berdiri di luar, petugas itu pun juga marah-marah ke saya dengan bahasa Siam. Ini menjadikan kita pusat perhatian, saya tidak paham apa yang dikatakannya, saya hanya mencoba tenang dan menjawab bahwa saya akan memperbaiki passport saya di Konsulat Indonesia ketika tanggal 26 Agustus dalam bahasa inggris, dia tetap ngoceh dan mengembalikan passport saya. Ini menunjukkan bahwa saya tidak diberikan setempel masuk. Kemudian saya mencoba mencari cara lain, kebetulan melihat salah seorang petugas yang sepertinya beretnis Melayu, dia duduk di dalam ruang tempat petugas-petugas imigrasi tersebut bertugas, entah posisinya sebagai apa, saya menghampiri dia kemudian mencoba berkomunikasi dan menjelaskan, tapi dia malah menyuruh saya balik ke Malaysia untuk membuat passport. Petugas imigrasi yang lain fokus ke tugasnya dan acuh tak acuh.

Petugas Badan Alumni yang mengantar kita saat itu ternyata juga marah ke saya, mungkin dianggap saya adalah hambatan. Di sana saya mulai merasa sedih. Konsekuensinya saya tidak tau pasti, tapi yang jelas saya harus kembali ke Malaysia, jika tetap masuk atau berdiam diri di Thailand saya bisa di penjara dan dideportasi. Namun salah satu petugas badan alumni mengatakan salah satu solusinya kita harus menghubungi Konsulat Indonesia dan berdiam diri menunggu di border agar Konsulat Indonesia yang mengurus nasib saya. Saya tetap berusaha untuk tenang, saya ingin semua selesai sekarang dan tidak ingin menunggu sampai besok.

Kekawatiran saya bahwa saya akan jadi penghampat perjalanan teman-teman ternyata tidak terjadi, salah satu petugas badan alumni langsung mengarahkan peserta volunteer agar cepat-cepat masuk ke mobil untuk segera menuju ke penginapan di Naratiwat, mengingat waktu sudah malam, mereka pergi setelah menghampiri dan memberikan semangat terhadap saya. Tinggal beberapa teman-teman lelaki saya yang memilih bertahan sampai urusan saya selesai. Ketika itu ada salah satu teman dari Jember yang memberikan nomor petugas imigrasi Sadao, Songhkla, dia mendapatkan nomornya dari staf konsultat ketika dia mengurus visa pergi ke Malaysia saat lebaran. Saya mencoba menghubunginya, ternyata dia lancar berbahasa Indonesia, dari logatnya dia dari etnis Siam. Saya tidak tau tapi memang katanya petugas imigrasi Sadao Songhkla mempunyai hubungan erat dengan konsulat Indonesia (mungkin ini salah satu hasil dari diplomasi orang-orang konsulat agar imigrasi Sadao selalu membantu orang Indonesia). Setelah berbicara dengannya beberapa saat dia mengarahkan saya agar menemui langsung Kepala Imigrasi Naratiwat di ruangannya, lalu katakan bahwa saya orangnya dia (kira-kira seperti itu). Saya mencoba masuk sendiri ke ruangannya yang berada di antara petugas imigrasi yang lain, ternyata dia sedang makan tomyam, parahnya dia hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Siam. Saya serahkan telpon yang masih menyambung ke Kepala imigrasi tadi, ternyata setelah saya serahkan panggilannya mati, kemungkinan kehabisan pulsa. Setelah itu saya keluar dari ruangan dan mencari petugas Badan Alumni yang marah-marah tadi, karena hanya dia yang bisa berkomunikasi dengan bahwa Siam.

Seingat saya, saya juga meminjam hp anak Jember untuk menelpon kembali petugas imigrasi Sadao yang sebelumnya mencarikan jalan terhadap saya. Setelah panggilan tersambung, saya kasih ke petugas Badan Alumni, mereka berkomunikasi agak lama, lalu saya ajak petugas badan alumni masuk ke ruang Kepala Imigrasi. Di dalam dia masih sibuk makan tomyam, akhirnya petugas badan alumni menjelaskan apa yang disampaikan petugas imigrasi Sadao ke Kepala Imigrasi Naratiwat tersebut. Kemudian passport saya diminta dan dicoret-coret memakai bahasa Thailand (setelah saya tanya ke petugas badan Alumni, ternyata artinya adalah bahwa passport saya sudah tidak bisa digunakan lagi di Thailand, kecuali ada surat keterangan dari pihak Konsulat atau kedutaan) dan kemudian kepala imigrasi sendiri yang memberikan setempel.

Akhirnyaa.....Keluar dari ruang kepala imigrasi dengan perasaan penuh kemenangan dengan berjalan lenggak lenggok melewati beberapa petugas imigrasi yang tadinya marah-marah ke saya. Hehe tapi pada akhirnya saya sadar juga dan sebelum meninggalkan gedung imigrasi saya bersalaman ke mereka.
Setelah kejadian dengan konsekuensi yang besar tersebut saya langsung sadar dan insaf diri. Ketika kebetulan tanggal 17 Agustus saya ditugaskan untuk menjadi salah satu petugas upacara bagian paduan suara, kemudian memutuskan untuk mengurus pembuatan passport baru meskipun bukan passport cip (hal ini karena jarak dari domisili saya dan Konsulat Indonesia cukup jauh dan saya males untuk bolak balik, jadi sekalian saya buat pas ada tugas di sana). Saya langsung menghampiri pak Arif (diplomat senior Konsulat) beliau menunjuk saya agar datang ke bagian pembuatan passport dan visa. Tanggal 18 Agustus, saya menghampiri bagian pembuatan passport dan visa dan diterima staff lokal, dia mengatakan bahwa minimal passport akan jadi dalam waktu 3 hari. Nanti akan dikirimkan via pos ke alamat tertera secara gratis. Saya agak risau sebenarnya, karena nanti proses pulang dari Konsulat ke domisili saya di Yala, passport tersebut akan digunakan untuk pesan tiket kereta api, atau meskipun saya memutuskan untuk naik van (sejenis mini bus) yang tidak perlu memakai passport, tetap saja khawatir karena terkadang ada pemeriksaan identitas oleh tentara. Toh saya tidak mungkin menunggu tiga hari ke depan di konsulat karena harus cepat-cepat kembali ke Yala.

Saya menanyakan apakah prosesnya tidak bisa dipercepat? ternyata staff lokal tersebut mengatakan tidak bisa. Oke akhirnya saya terima dan saya tinggalkan untuk menghadiri undangan Kepala Konsulat kepada para petugas Upacara untuk bakar-bakar dan makan bersama di Wisma Republik Indoensia, kediaman bapak Kepala Konsulat.
Malam hari ketika pulang dari acara, kita menuju konsulat untuk beristirahat, ternyata passport dan surat pergantian passport sudah berada di atas kasur salah satu kamar cowok di Konsulat. Saya heran dan menanyakan ke pak Arif, pak Arif kemudian tidak berkata apa-apa dan mengecek passport saya, kemudian menyarankan agar saya datang ke staff lokal bagian visa dan passport lagi karena ada kolom yang belum disetempel. Setelah saya datang, petugas tersebut langsung mengeluh kurang lebihnya begini,“ya gini ini mas jadi bawahan, harus rela ngelembur malam-malam demi tugas, kalo tidak, nanti bisa dimaraihn atasan”.

Saya merasa tersindir dan merasa bersalah, karen mungkin dia harus ngelembur sampai malam demi mengurus passport saya, namun saya cukup bersyukur karena saya sudah punya passport baru meskipun hanya passport jenis lama. Kemudian saya baru bisa menuturkan terima kasih secara resmi lewat utusan Konsulat yang kebetulan diberikan tugas untuk menjenguk kita-kita yang berada di Provinsi Yala. Akhirnya semuanya berjalan lancar. Saya bisa pulang dengan lancar tanpa halangan apapun.

Share:

Supremasi Interventif External atas Internal

Manusia tidak akan pernah lepas dari masalah. Baik masalah yang solusinya sudah di depan mata, atau  mungkin yang masih harus diterka-terka. Apapun masalahnya, suatu solusi akan sangat sulit ditemukan jika setiap individu tidak berjalan beriringan, atau jika masing-masing manusianya hanya berkata “aku ya aku dan kamu ya kamu” tanpa adanya suatu keinginan untuk saling bahu membahu.

Maka diperlukan suatu wadah yang diharapkan bisa menjadi pemersatu antar para individu sehingga bisa bertransformasi menjadi golongan, atau wadah yang bisa menampung individu-individu yang memiliki orientasi serupa. Hal ini dimaksudkan supaya beberapa masalah yang dihadapi bisa teratasi dengan efisien dan optimal. Karna walau bagaimanapun, suatu proses akan lebih cepat teratasi oleh sedikit tenaga yang dilakukan bersama, dari pada besarnya kekuatan yang dilakukan sendirian.
Dalam prakteknya memang manusia selalu hidup berdampingan. Banyak golongan dan kelompok yang membentuk suatu lembaga ataupun organisasi yang di dalamnya berisi beberapa aktifitas dengan orientasi dan tujuan yang sama. Lembaga maupun organisasi itupun berdiri dengan manajemen yang beraturan, bertingkat sesuai jabatan dengan fungsi berbeda. Individu-individu tersebut ditempatkan pada posisi masing-masing sesuai dengan tugasnya.

Ketika individu-individu manusia bersatu menjadi golongan baik dalam bingkai organisasi, lembaga, atau apapun, dan telah memiliki manajemen yang sempurna. Apabila di masa depan kemudian ditemukan masalah yang bersifat internal, maka setiap tingkat sudah dibekali dengan rumusan pemecahan permasalahannya. Secara tidak langsung manajemen telah menjadi solusi sebelum adanya masalah itu sendiri.

Namun tidak sampai disitu, suatu organisasi bukan hanya butuh terhindar dari masalah. Hal paling urgen lainnya adalah, dibutuhkan aplikasi aktif untuk mengembangkan dinamisme kemajuan. Hal ini di tunjukkan agar organisasi ataupun lembaga tersebut tidak hanya statis, namun bisa bergerak semakin dekat atau bahkan bisa melampaui esensi dan cita-cita mendasar. Salah satu caranya adalah dengan mengkrucutkan visi dan misi menjadi orientasi prioritas bersama dan tidak mengaitkan kepentingan pribadi dan golongan dengan kepentingan organisasi atau lembaga.

Realitasnya, banyak sekali kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspetasi bersama. Beberapa oknum dan golongan seringkali mengaitkan kepentingan pribadinya menjadi kebijakan organisasi. Hal ini tentunya akan menjadi sebab utama terhambatnya efisiensi tercapainya visi dan misi organisasi. Sebagaimana Indonesia di jaman orde baru, di era itu banyak sekali kebijakan manipulatif dan elitis yang hanya dirancang demi suksesnya tujuan beberapa individu tertentu atau suatu golongan saja. Bahkan parahnya, manajemen organisasi yang seharusnya menjadi faktor urgen dan prioritas utama, seakan sudah didesign sejitu mungkin agar orientasinya bisa sesuai dengan keinginan pribadi dan golongan tertentu, sehingga berakibat pada stagnasi dan banyaknya kemunduran dalam berbagai aspek di masa itu.

Dalam sekala kecil banyak sekali ditemukan permasalahan yang senada, baik yang  terjadi pada lembaga, komunitas, atau beberapa organisasi di tingkat mahasiswa, baik internal maupun external. Secara struktural, keorganisasian tertinggi tingkat mahasiswa adalah di bawah lingkup DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) dan SEMA (Senat Mahasiswa). Sebagaimana diketahui, bahwa keorganisasian DEMA dan SEMA adalah organisasi intern kampus, yang setiap keputusan dan kebijakannya akan timbul dan berakibat pada kampus, khususnya mahasiswa secara umum. Oleh karena itu seharusnya DEMA atau SEMA bisa bertindak dengan objektif dan tidak menyangkut pautkan kepentingan pribadi dan  golongannya.

Real mengatakan, DEMA atau SEMA terindikasi telah diintervensi dan kuasasi oleh suatu organisasi lain non intern. Sehingga sebagaimana di era orde baru, setiap arah kebijakannya banyak sekali yang mengundang kontroversi, mulai dari kebijakan yang tidak berdasarkan kemaslahatan mahasiswa secara umum, sampai keputusan yang diskriminatif terhadap beberapa golongan. Seharusnya sebagai insan intelek, hal tersebut tidak boleh terjadi. Demokrasi sebagaimana dalam Pancasila, bukan hanya harus direalisasikan dalam keorganisasian negara, namun ditingkat keorganisasian mahasiswa sekalipun harus diterapkan.

Di samping itu, dengan beberapa design politik yang diterapkan, pola politik yang ada hanya memberikan kesempatan terhadap mahasiswa dalam lingkaran organisasi external tertentu saja yang berhak berkelut dalam kepengurusan DEMA dan SEMA yang bersifat intern. Sehingga keinginan memimpin terhadap mahasiswa yang bukan dari golongan tersebut hanyalah nonsens. Padalam dalam UUD RI 1945 pasal 28D ayat ke 3 dijelaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Pasal ini  sangat eksplisit menyatakan bahwa setiap warga indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk maju atau melenggang menuju lembaga atau keorganisasian dalam pemerintahan, hal tersebut tentunya bukan hanya berobjek di tingkat pemerintahan atau dalam negara, namun bisa juga mempunyai tendensi pada pemerintahan bertaraf kecil di tingkat mahasiswa.

Seharusnya tiap individu di lingkup keorganisasian DEMA dan SEMA harus diisi oleh mahasiswa yang independen yang terdiri dari semua golongan dan berbagai macam organisasi external, hal ini dimaksudkan agar DEMA dan SEMA benar-benar fokus pada visi dan misi dan tidak mencampur adukkan kepentingan pribadi dan golongan menjadi kepentingan organisasi.
Jika diamati secara seksama antara rezim orde baru dengan rezim DEMA dan SEMA, secara esensial apakah terdapat suatu perbedaan? lalu apakah tujuan mahasiswa menentang rezim tertentu dengan berbagai tuduhan, jika rezim busuknya tanpa rasa malu dibangga-banggakan. Apa tujuan mahasiswa selalu mencari celah akan kelemahan pemerintahan, jika sobekan besar dalam dirinya mereka biarkan. Memang benar idealisme akan sangat mudah di agungkan jika tidak ada yang dipertaruhkan, tapi apa mungkin kekuasaanlah yang telah membuat buta terhadap daya intelektualitas dan penalaran akan kebenaran yang mereka kaji hampir setiap hari.

Apabila hal tersebut tetap dibiarkan, beberapa dampak yang sudah terjadi akan semakin menghancurkan. Sulit untuk mencapai perubahan. Bahkan sedikit demi sedikit, hal itu akan membuat efek-efek baru yang semakin lama semakin membesar. Seyogyanya organisasi adalah salah satu cara untuk memberikan dampak kemajuan, baik secara objektif pada dunia dan sekitar, atau secara subjektif pada manusia itu sendiri. Namun hal itu bisa terjadi jika manusia yang ada dalam organisasi tersebut fokus pada visi misi dan tidak memprioritaskan kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan organisasi.

#Tulisan semester III

Share:

Mahasiswa Adalah Membaca, Menulis dan Bergerak

Membaca adalah jendela dunia dari masa ke masa

Membaca adalah salah satu proses untuk mengetahui, memahami dan mengamati segala sesuatu. Manusia ibarat terkurung dalam ruang sempit tanpa cahaya, dan membaca adalah jendela wawasan, gagasan, ide dan ilmu pengetahuan yang akan mengantarkannya menuju terbukanya tabir kegelapan. Dengan membaca manusia akan  mengetahui sebelum mengalami, mengerti sebelum diajari, dan menyadari apa yang belum terjadi. Membaca juga akan menjadi mesin waktu, yang akan mengantarkan manusia menuju masa dan ruang, dimanapun dan kemanapun ia mengkehendaki.

Membaca akan menuntun manusia bertemu dengan orang-orang besar. Dia bisa bertemu dengan Soekarno dan mendengarkan cerita dan curhatan pribadinya dalam beberapa  karyanya. Dia bisa bertanya langsung kepada Karl Max dan Friedrich Engel seputar ideologinya yang kontroversial. Dia bisa mengikuti kajian-kajian Tan Malaka dan menggorek pemikiran-pemikirannya. Manusia akan tersangkut secara emosional dengan penulisnya dalam aliran kebatinan, bahkan manusia akan merasakan betapa emosi mereka yang meletup-letup, betapa air matanya yang menetes karna kepedihan, dan betapa sebuah gagasan penting harus di perjuangkan di masa depan. Dampaknya, membaca akan melahirkan banyak gagasan dan wawasan baru dalam pemikirannya secara personal, karna dalam otaknya terdiri dari akumulasi pemikiran dari berbagai tokoh penting, dia akan memadukan pemikiran berlian tokoh satu dengan yang lain, menyatukan gagasan penting satu dengan yang lain. Maka tidak heran jika Al-Quran memerintah untuk membaca ketika awal pertama kali di turunkan.

Tanpa membaca manusia hanya akan terkurung dalam ruang kosong tanpa cahaya. Dia hanya akan mengetahui sejauh langkah kaki, seluas apa yang ia lihat, dan sebanyak apa yang ia dengar. Pada akhirnya dia akan mudah terpengaruh oleh bayang semu dan terhanyut dalam halusinanasi kosong penuh asumsi. Perkembangan informasi yang selalu berkembang dinamis dan pesat menuntut manusia untuk bergerak cepat dalam menggalinya, manusia yang hanya statis diam tanpa membaca hanya akan menjadi manusia primitif dalam dunia yang modernis. Dia hanya akan terombang ambing oleh fanatisme buta, yang bahkan tidak tau kebenarannya.
Sudah seharusnya seorang mahasiswa banyak membaca, karna di posisi inilah dia akan membentuk karakter dan membangun jati dirinya sebagai manusia sejati. Maka dengan banyak membaca dia akan mempunyai banyak pandangan yang lebih kompleks akan kehidupan seperti apa yang akan ia jalankan nantinya.

Dalam perjalanan kuliahnya, mahasiswa yang tidak mencari, dia hanya akan cenderung  menemukan apa yang dilihat, dengar dan temui di pinggiran jalan sepanjang jalur yang ia lalui. Namun tidak bagi mahasiswa aktif mencari, dia akan menemukan banyak hal, pengalaman, wawasan yang mungkin tidak pernah terjadi jika dia hanya mengikuti alur yang ada, bahkan bisa jadi dia akan menemukan rute-rute baru yang lebih efisien dan lebih efektif, yang mungkin akan menjadi referensi bagi orang lain di masa yang akan datang. Adapun proses pencarian tersebut salah satunya adalah dengan banyak membaca, bukan hanya aktif mengikuti alur perkuliahan yang ada, dan tersesat hanyalah bagi mereka yang malu untuk bertanya.

Di samping itu, mengingat sistem pembelajaran dalam perkulihan yang cenderung aktif dalam dialog, maka kiranya disinilah peranan membaca menjadi wajib hukumnya, karna untuk menjadi mahasiswa yang aktif memerlukan bahan-bahan kajian yang pernah ia ketahui, dan hal tersebut tidak mungkin dia paparkan berdasarkan apa yang orang katakan, melainkan dari referensi apa yang ia baca dan ketahui langsung dari sumbernya. Hal ini juga menampik adanya diskusi yang hanya besifat asumtif dan spekulatif karna sebelumnya mahasiswa sudah berdiskusi langsung bersama sang ahli dengan perantara bukunya.

Mahasiswa adalah menulis

Menulis adalah sarana menuju keabadian. Seorang yang menggoreskan penanya untuk menulis sebuah coretan, secara tidak langsung telah melangkah untuk memperpanjang umurnya.  Tidak dapat dipungkiri kelak dia akan akan mati dan bersemayam di dalam perut bumi. Tapi tidak demikian dengan tulisannya. Tulisannya akan tetap hidup berkembang bersama kemajuan dan bernostalgia bersama masa.

Manusia yang mempunyai banyak gagasan, ide-ide, suatu keahlian, hukum, ekonomi dan lain-lain, selagi dia tidak menuliskannya, dia hanya akan dikenal di masanya, dan mungkin gagasan, ide dan keahliannnya akan turut terkubur mati bersamanya. Namun tidak bagi mereka yang menuliskannya, boleh jadi kelak dia akan mati meninggalkan dunia, tapi gagasannya akan tetap bersemayam menjadi pacuan, bacaan, bahkan referensi setiap orang, dan namanya pun akan kekal dalam keabadian. Seperti yang telah dikatakan Pramoedya Ananta Toer “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.
Bagaimana manusia bisa mengenal dan memperdalam pemikiran Al-Gazali yang sudah wafat beratus tahun yang lalu? Bagaimana manusia mengetahui bahwa dahulu ada seorang cendekia seperti Ibn Arabi? Bagaimana ilmu bisa berkembang dinamis dan tak pernah ada habisnya? atau bagaimana manusia bisa mendapatkan sebuah pacuan yang jelas dan terlihat oleh mata dari Al-Quran dan hadisnya? Maka jelas jawabannya semuanya adalah karna tulisan.

Siapa yang tidak kenal sosok Soe Hok Gie, seorang aktivis idealis angkatan 66 yang namanya melegenda sampai sekarang. Soe Hok Gie adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang tercatat sebagai aktivis anti penindasan. Dia cukup andil dalam menyampaikan asipirasi rakyat bersama mahasiswa yang lain. Hok Gie tewas ketika melakukan pendakian di gunung semeru pada saat umurnya masih 26 tahun. Bisa jadi di zamannya banyak mahasiswa yang dedikasi dan pemikirannya melebihi Hok Gie. Mungkin masih banyak mahasiswa yang hidup lebih panjang dan terus berjuang. Tapi nama Soe Hok Gie-lah yang selalu dikenang di ambang zaman. Hok Gie boleh mati muda, tapi tulisannya kekal sepanjang masa. Perjuangan Hoek Gie boleh berhenti di kawah semeru, tapi tulisannya telah banyak menginpirasi generasi setelahnya, sehingga banyak melahirkan perjuangan-perjuangan baru untuk meneruskan visinya.

Mahasiswa adalah bergerak

Merupakan sebuah keniscayaan Indonesia bisa sampai saat ini jika tanpa perjuangan elemen mahasiswa. Di balik tanggal-tanggal penting Indonesia menuju perubahan yang lebih baik, nama mahasiswa selalu menjadi penggerak dan aktor utama.

Di zaman pra kemerdekaan, dari pemikiran dan semangat para mahasiswa aktivis pergerakan-lah bibit-bibit anti kolonialisme bermunculan, sehingga juga memicu semangat dan kesadaran segenap bangsa Indonesia untuk terus berjuang memperoleh kemerdekaan, maka jadilah Indonesia negara yang merdeka. Siapa yang tau apa yang akan terjadi sekarang andai para aktivis perjuangan tidak mempropagandakan kemerdekaan. Tidak ada yang tau.

Demikian juga pada kisaran tahun 60-an, saat Indonesia bergejolak karna paham komunisme yang di anggap mengancam nilai-nilai luhur pancasila. Para mahasiswa duduk semeja bersama bersama tentara nasional Indonesia untuk memberantas paham tersebut, maka jadilah Indonesia terbebas dari komunisme. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi pada negara ketimuran yang agamis ini andai komunisme masih tetap berjaya sampai sekarang. Tidak ada yang tau.

Sampai pada rezim orde baru, Presiden Soeharto sang diktator penindas kehidupan demokarsi bersembunyi di balik tirai kekuasaannya yang sudah berjaya selama 32 tahun, akhirnya juga tumbang oleh pergerakan mahasiswa. Siapa yang tau apa yang akan terjadi pada Indonesia andai para mahasiswa tidak turun ke jalan dan berteriak lantang, bisa jadi sampai sekarang Indonesia masih terbelenggu dalam kekuasaan rezimnya melalui politik dinasti, bisa jadi presidennya sekarang adalah bu Tutut, atau mungkin Tommy Soeharto. Bisa jadi. Tidak ada yang tau.

Maka sudah sewajarnya mahasiswa sebagai agen perubahan, selalu dituntut kritis dan observatif. Mahasiswa harus bisa turut andil menjadi pembela dan penyambung lidah rakyat. Maka dari itu mahasiswa harus aktif bergerak, tidak hanya menunggu perkuliahan dimulai lalu pulang membawa segenggam teori tentang perubahan. Hanya teori. Bergerak juga bisa dilakukan dengan gerilya melalui pemikiran, bukan hanya menentang kebijakan yang menyimpang, tapi juga mewarkan solusi yang brilian. Bergerak bukan berarti beraksi tanpa regulasi. Bergerak tidak harus dengan melakukan demonstrasi yang  anarki. Demonstarsi di terapkan ketika diskusi dan negoisasi gagal di lakukan. Merubah dengan otak pasti tidak lebih melelahkan dari pada harus memakai urat tanpa pertimbangan. 

Makna bergerak juga dapat diartikan agar mahasiswa melakukan banyak hal yang bermanfaat, baik untuk pribadi ataupun lingkungan. Bergerak untuk diri sendiri bisa jadi dengan aktif berdiskusi dalam suatu forum, sehingga akan banyak melatih diri, mengasah pemikiran, menempa mental dan yang paling penting adalah saling bertukar pikiran dengan sesama. Bergerak untuk lingkungan mempunyai cakupan implementasi yang sangat luas, salah satu contohnya adalah dengan aktif berorganisasi dalam komunitas sesuai dengan yang diinginkan, karena kemudian  komunitas tersebut dapat dijadikan sebagai alat perjuangan, sehingga akan bermanfaat untuk sekitar, khususnya juga diri sendiri. Kemudian juga bisa dengan menjadi volunteer untuk beberapa golongan masyarakat yang kurang beruntung, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Share:

Hukum di Indonesia dan Jaring Laba-Laba

Indonesia adalah negara hukum, hal itu secara eksplisit di jelaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 3. Undang-Undang dasar sebagai manifestasi konstitusi kenegaraan merupakan suatu landasan utuh dan utama dalam mengawal proses yang meliputi tatanan sistem dan aturan dengan realitas yang terus melaju dinamis.

Di masa awal kemerdekaan, Indonesia sebagai negara yang baru lahir kala itu, dengan keberagamannya menuntut para tokoh pendiri bangsa merumuskan suatu konsep dasar yang bersifat konservatif sekaligus progresif.

Konsep yang di harapkan bisa memberikan harapan lebih bagi kesejahteraan bangsa Indonesia, sekaligus yang dapat meredupkan aura kuat fanatisme antar suku, golongan, ras dan agama di bawah pondasi kokoh satu atap. Maka pastinya di perlukan suatu rumusan objektif, detail dan legal untuk mengendalikan kemungkinan-kemungkinan yang tidak di harapakan nantinya. Alasan-alasan itulah yang kemudian menjadi salah satu faktor mengapa hukum kukuh bertengger di urutan ke-3 pasal UUD 1945, mengungguli ekonomi, politik dan lain-lain di bawahnya.

Di zaman dahulu, ajaran tentang negara hukum terbilang sangat sempit ruang lingkupnya, dimana titik tekan tujuan hukum dalam suatu pemerintahan hanya di kenal dengan istilah penjaga malam (legal state). Seiring berjalannya waktu, dinamisme perkembangan dunia dari beberapa lini yang melaju sangat pesat telah melesatkan pula paradigma berfikir manusia tentang ajaran mengenai tujuan negara hukum, manusia mulai memasukan pertimbangan-pertimbangan lain yang dirasa relevan dan esensial, maka tergeserlah pula ajaran tujuan negara hukum dari legal state menjadi welfare state (negara kesejahteraan) (Ridwan HR. 2012. 14).

Sebenarnya konsep mengenai pemberlakuan hukum sebagai hal yang paling urgen dalam kehidupan bernegara sudah banyak di berlakukan semenjak berabad-abad yang lalu, catatan sejarah tentang peradaban-peradaban mashur seperti Romawi, Mesir dan China sudah mengindikasikan bahwa hukum memang seharusnya berada di kancah prioritas. Meskipun dalam implementasinya, tingkat kompleksitas hukum di masa lampau tidak begitu konkret seperti sekarang. Sehingga dapat dikatakan bahwa hukum yang ada pada saat ini adalah salah satu pennyempurnaan dari beberapa hukum yang telah di adopsi di masa lampau, tentunya dengan dimasukkannya  ketentuan-ketentuan yang disesuaikan dengan perkembangan jaman dan pertimbangan yang lebih kompleks.

Hukum di Indonesia dewasa ini ialah menganut sistem hukum campuran, dengan hukum eropa kontinental sebagai sistem hukum utama, lingkup hukum yang cukup populer di daratan eropa sebagai civil law. Belanda sebagai pengekspor hukum tersebut cukup bertanggung jawab terhadap system yang banyak dipakai dalam dinamika hukum di Indonesia, meskipun beberapa cakupannya telah banyak di lakukan perubahan, baik dari sisi formiil maupun materiilnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun hukum selalu menuntut kepastian, namun hukum tidak bisa hanya statis dan langgeng. Hukum akan terus berkembang dinamis sesuai perkembangan jaman dimana hukum tersebut diberlakukan. Dalam kenyataannya, nilai keadilan tidak selalu beriringan dengan apa yang dihasilkan dan tercantum dalam kodifikasi hukum yang notabene menjadi acuan dari kepastian hukum. ini berarti bahwa untuk menerapkan hukum agar sesuai dengan esensi keberadaanya tidak pembuat dan penegak hukum tidak hanya dituntut agar menggali nilai-nilai dinamisme melalui pembaharuan hukum namun juga menggali nilai-nilai keadilan dalam sanubari paling dalam.  

Kemudian, berbicara mengenai hukum dalam tataran negara berdemokrasi, maka tidak mungkin dapat menghindari kata politik. Hukum selalu berkaitan erat dengan politik. Bahkan tidak dapat dipungkiri hukum adalah produk politik. Politik yang selalu identik dengan kepentingan, secara logika tentunya agak bertolak belaka dengan tujuan negara hukum dalam sebuah negara yang bertumpu pada kesejahteraan. Banyak celah-celah yang bisa di gunakan untuk mematahkan supremasi hukum melalui lobi politik. Dimana para politikus melalui muslihat politiknya, dapat dengan serta merta memasukkan kepentingan pribadi maupun golongannya menjadi produk hukum yang legal. Hal ini tentunya menjadi pengaruh yang sangat kuat mengapa dinamika perkembangan hukum yang seharusnya semakin lama semakin kuat malah semakin tergeletak, tertindih oleh beberapa kepentingan politik yang bersembunyi di balik kata demokrasi.

Di samping itu, produk hukum yang berkualitas bukan hanya satu-satunya jurus yang  tinggal selobang semut, penegakan hukum sebagai aplikasi aktif dalam supremasi hukum juga tercakup di dalamnya. Secara umum penegakan hukum dikawal oleh hakim, jaksa, polisi, dan advokat. Sebagai senjata utama dalam penegakan hukum, lembaga maupun provesi tersebut mempunyai tugas sesuai porsi yang telah ditentukan dalam Undang-undang. Dari penegak hukum pula tersimpan banyak ruang untuk memajukan posisi hukum sebagai mahkota utama dalam pemerintahan sebagaimana yang dicita-citakan.

Oleh karna itu, seharusnya penegak hukum dapat mengendalikan keinginannya hanya pada satu tujuan, yakni menerapkan keadilan dan terwujudnya kesejahteraan. Penegak hukum juga adalah salah satu unsur penting yang diharapkan menjadi lembaga yang tak terkontaminasi oleh kepentingan yang bersifat personal. yakni dengan merealisasikan penegakan hukum yang tegas, adil dan sesuai undang-undang.

Meski dapat disadari bersama, cita-cita yang diharapkan agaknya cukup jauh dari kenyataan. Penegak hukum yang kompetensinya berpotensi memiliki ruang yang sangat besar dalam mewujudkan kesejahteraan sesuai tujuan negara hukum, kenyataannya, terindikasi sama dengan para pembuat hukum.

Beberapa Hakim di Pengadilan hanya  memutuskan perkara sesuai mahar, yang lebih banyak uangnya lebih ringan hukumannya. Polisi yang dianggap sebagai super power yang tidak diragukan eksistensinya, masih sulit memulihkan citranya. Kompetensi yang cukup besar dimiliki Polisi membuat beberapa oknum dengan mudah mengambil kesempatan, akhirnya meskipun produk hukum yang dihasilkan baik, karena organ vital dalam penegakannya yang tidak baik, maka esensi keberadaan hukum juga semakin jauh. Masih banyak diantara oknum-oknum polisi yang hanya giat dan semangat menangkap penjahat buritan dan melempem ketika menghadapi manusia bernama. Tidak ada kata HAM untuk maling teri, menebar senyuman mengawal maling berdasi. Penebang sebatang akar pohon diisolasi sementara pembakar hukan dibebaskan. Pengedar barang haram di tembak mati, sementara pabrik dan aparat pembacking dibiarkan  Maka sangatlah relevan apa yang dikatakan oleh Pluto, hukum bagaikan jaring laba-laba, hanya kuat terhadap yang lemah, namun rapuh terhadap yang kuat.
Tulisan jaman biyen

Share:

Asumsi Nabi dan Orang-orang Besar

Ada suatu dalil di dalam AL-Qur'an yakni

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“Aku tidak akan memberi siksaan, sampai Aku mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Allah berfirman:

وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Tidak ada satupun umat, melainkan di lingkungan mereka telah ada sang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24)

Kemudian hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, berapakah jumlah rasul?” Beliau menjawab:

ثلاثمائة وبضعة عشر جمّاً غفيرا

“Sekitar tiga ratus belasan orang. Banyak sekali.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 129 dan). Dalam riwayat lain ditegaskan: “315 orang.”

Sedangkan dalam riwayat Abu Umamah, bahwa Abu Dzar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berapa jumlah persis para nabi?” Beliau menjawab:

مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا

“Jumlah para nabi 124.000 orang, 315 diantara mereka adalah rasul. Banyak sekali.” (HR. Ahmad no. 22288 dan sanadnya dinilai shahih oleh al-Albani dalam al–Misykah).

Beberapa nash di atas menunjukkan bahwa di Jaman sebelum Nabi Muhammad di utus, masing-masing umat akan mendapat jatah seorang manusia yang bertugas sebagai pemberi peringatan. Ini yang kemudian dalam Islam disebut dengan Nabi atau Rosul. Banyak asumsi mengatakan bahwa Konfusius adalah salah seorang Nabi yang diutus untuk bangsa China. Asumsi ini sebenarnya hampir sama dengan asumsi lain yang mengatakan bahwa Socrates dan Sidharta Budha Gautama (Budha) juga adalah seorang Nabi.Bahkan ada asumsi yang mengatakan bahwa sebelum bangsa lain masuk ke Jawa dengan membawa agama Hindhu dan Budha di masa awal masehi, dikisahkan bahwa ternyata sudah ada utusan yang membawa silsilah tauhid ke pulau Jawa.

Mengenai Konfusius, apabila mencermati kisah-kisah kebijaksanaannya di atas, bisa jadi asumsi bahwa dia seorang Nabi adalah benar, tapi bisa juga tidak. Alasan mengapa dia dapat dikatakan seorang Nabi adalah karena ajarannya yang sangat mengandung nilai-nilai ilahiyyah. Dia hidup dalam keadaan yatim sebagaimana kisah banyak Nabi dan orang Sholeh, mengajarkan kebaikan-kebaikan yang didasarkan pada persamaan hak, dan berkelana dalam menyebarkannya sebagai indikasi bahwa dia adalah orang yang sedang diutus.
Hal ini diperkuat dengan pernyataannya sendiri bahwa dewa lah yang telah mempercayakan peradaban saat itu kepadanya. Kemudian setelah beberapa waktu ditanggapi muridnya dengan perkataan “Memang ajarannya adalah kebenaran. Oleh sebab itu, banyak juga orang yang tidak dapat menerimanya.” Kata “Dewa” bisa jadi berubah karena proses renkarnasi sejarah yang sangat panjang, sehingga ia berubah dari makna aslinya. Mengenai tanggapan muridnya, ini juga semakin memperkuat asumsi mengenai kenabiannya, mengingat Nabi-Nabi terdahulu juga banyak yang ditolak oleh umatnya.

Mengenai pendapat yang meragukan bahwa ia adalah seorang Nabi, hal ini berdasar karena banyak sejarah yang mencatat Konfusius tidak pernah membahas dan mengajarkan mengenai ketuhanan. Itulah sebabnya ia lebih terkenal dengan sebutan filsuf. Namun hal ini agak kontradiktif dengan cerita Michael C. Tang tentang seruan Konfusius bahwa dia adalah kepecayaan Dewa untuk memperbaiki peradaban masa itu.

Selanjutnya Socrates, ia juga diasumsikan sebagai seorang Nabi. Socrates meyakini bahwa dalam diri manusia terdapat dua hal: kebaikan dan keburukan. Dalam hal kebaikan Socrates sangat menjunjung perspektif paradoksal. Di usianya yang ke-70, Socrates didakwa oleh pengadilan karena menentang ajaran mengenai Dewa-dewa yang banyak disembah pada saat itu. Ia banyak memberikan pembelaan mengenai sifat ketuhanan dengan beranggapan bahwa tuhan itu monotheisme, sedangkan ajaran bahwa tuhan politheisme adalah ajaran yang salah. Hal ini tentunya memperkuat asumsi bahwa dia memang seorang utusan. Di samping ajarannya mengenai kebaikan-kebaikan, Socartes juga mengajarkan Yunani Kuno mengenai keesaan Tuhan.

Adapun Budha, banyak pakar mempercayai bahwa ia adalah Nabi Dzul Kifli. Di samping mengenai ajaranya untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksaan selayaknya Konfusius dan Socrates, asumsi bahwa Budha adalah Nabi diperkuat dengan tafsir Surat At-thin Ayat 1. Di sana disebutkan “Demi buah Tin dan buah Zaitun, dan demi bukit Sinai dan kota Mekkah ini yang aman.” Beberapa pakar menjelaskan bahwa buah Zaitun terindikasi ke Yarussalem, Nabi Isa a.s. Bukit Sinai ke Nabi Musa a.s. dan Yahudi. Kota Mekkah menandakan Nabi Muhammad Saw. sedangkan pohon Tin? Ini yang menjadikan para ahli sejarah yakin mengenai asumsi tersebut. karena buah tin sendiri adalah pohon Bodhi. Pohon Bodhi merupakan tempat Budah mendapat pencerahannya. Di samping itu kata “Kifli” dalam Dzul Kifli mempunyai makna Kalavastu (Kapil), tempat kelahiran Budha.

Mengenai asumsi adanya utusan di pulau Jawa, mungkin hanya sekedar asumsi biasa. Dasar dari asumsi ini adalah bahwa sebelum adanya agama-agama yang dibawa orang luar pulau Jawa, mereka sudah memiliki agama Kapitayan. Menurut kisah kuno, agama ini dianut oleh orang Jawa berkulit hitam (ras poto Melanesia keturunan homo wajakensis). Leluhur yang dipercaya penganjur ajaran ini adalah tokoh mitologis Dahyang Semar. Secara sederhana, kapitayan adalah ajaran yang memuja sembahan utama yang disebut dengan Sanghyang Taya. Yang bermakna Hampa atau kosong. Taya bermakna yang abslout, tidak bisa dipikir dan di bayang-bayangkan. Tidak bisa didekati dengan pancra indera. Orang Jawa kuno mengenal dengan devinisi “Tan Kena Kinaya Ngapa” yang bermakna tidak bisa diapa-apakan keberadaannya. SangHyang taya juga dinisbatkan dengan Sanghyang Tunggal.

Sembahyang yang dilakukan para ruhaniawan Kapitayan berlangsung khusus di tempat yang disebut dengan sanggar (bangunan bersegi empat beratap tumpang dengan lubang ceruk di dinding sebagai lambang kehampaan Sang Hyang Taya). Dalam bersembahyang menyembah Sang Hyang Taya, mereka mengikuti gerakan tertentu: mulanya sang ruhaniawan Kapitayan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sang Hyang Taya di dalam tutu-d (hati), lalu kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Setelah Tu-lajeg ini kemudian dilanjutkan dengan proses tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) lumayan lama, lalu prosesi tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir adalah to-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut).

Asumsi mengenai diutusnya Nabi di pulau Jawa sebelum agama-agama masuk memang tidak begitu terbukti, sejauh yang penulis ketahui hanya pada dasar nilai-nilai ilahiyyah dan proses ubudiyyah yang hampir sama dengan Islam (mungkin banyak dasar lain tapi penulis tidak tau). Persamaan-persamaan ini dapat dilihat di buku Prof. Agus Sunyoto, Atlas Walisongo. Meskipun beliau sama sekali tidak menyebut bahkan menyinggung bahwa ada asumsi di Jawa pernah diutus seorang Nabi. 

Sekian, wallahu a’lam bi al-Showab.

Share:

Manaqib Syekh Muhammad Usman al-Ishaqy

اللؤلؤ والمرجان
AL-LU'LU'U WAL-MARJAN

(Cerita Syekh Muhammad Usman Al-Ishaqy )

Tulisan ini sengaja saya post di blog saya hanya ingin menyebarkan syiar kecintaan kita terhadap para wali Allah, wabil khusus Yai Muhammad Usman Al-Ishaqy.  Adapun sumber asli berasal dari kitab lu'lu'u wal marjan yang pernah dipost di salah satu blog (ini blognya)
__________________________________________
KATA PENGANTAR

Dengan pertolongan Alloh swt. ada barokah Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi R.A. kami berusaha untuk menerbitkan Manaqib Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi untuk pertama kali dengan bahasa Indonesia, dengan harapan akan mudah difahami oleh kaum muslimin yang mencintai beliau khususnya para muridin dan muridat beliau untuk lebih memantapkan Robithoh kepada beliau sewaktu akan melakukan dzikir serta agar selalu mendapatkan barokah apa saja dari beliau baik di dunia maupun di akhirat nanti khususnya dalam menghadapi sakarotul maut.
Karena dengan selalu dekat kepada guru rahmat Alloh akan selalu mengalir terus kepada murid yang selalu dekat kepada guru tersebut.
Manaqib ini kami bagi menjadi tiga Bab dengan Penjelasan sebagai berikut :

BAB I : Menceritakan tentang biografi beliau sejak di dalam rahim ibu sampai beliau menetap kembali di Surabaya untuk membuka Pesantren dan memimpin Thoriqoh QODIRIYYAH dan NAQSYABANDIYYAH.

BAB II : Menjelaskan tentang keistimewaan dan keluhuran beliau disisi Alloh seperti yang diungkap¬kan oleh para Habaib dan para Auliya' yang sudah terkenal akan kewaliannya.

BAB III : Membicarakan tentang kekeramatan beliau yang tiada habis-habisnya sampai beliau pulang ke Rahmatulloh.

Demikian manaqib ringkas ini kami sampaikan mudah-madahan ada guna dan manfaatnya untuk kita semua Amin.

Gresik, 20 Syawal 1404 H

Penyusun

H. ABDUL GHOFFAR UMAR

BAB I ------

Dibawah ini kami murid Hadrotus-Syaikh Al-Arif Billah K.H. MUHAMMAD UTSMAN AL-ISHAQI R.A. bernama H. ABDUL GHOFFAR UMAR Tenger Manyar Gresik, dengan rendah hati menyampaikan sekelumit Manaqib (Biografi) Hadrotus-Syaikh guru Toriqoh AL-QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH.

Manaqib ini dikumpulkan dari pengakuan dan pernyataan para Habib serta para Ulama yang mengenal Hadrotus-Syaikh baik secara lahir maupun secara batin. Diantaranya pengakuan dan pernyataan dari Habib Alie bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta. Habib Abdul Qodir Bilfaqih Malang, Habib Abdulloh Al-Haddad, Habib Zasssin Al-Jufri. Kyai Hamid Karang Binangun Lamongan, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Nyai Khodijah dan lain lain. Juga dari Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. sendiri sebagai Attahaddus bin-Ni’mah atas dasar Firman Allah :
واما بنعمة ربك فحدث
Juga untuk menjaga jangan sampai ada orang yang mengingkari atau menentangnya atau mencelanya. Juga terhadap Masyayikh yang lain, menyebut manaqib sendiri semacam ini pernah dilakukan oleh Ulama’ terdahulu untuk memperkenalkan hal ihwal mereka kepada orang lain agar ditiru seperti Syaikh Abdul Ghofir Al-Farisi Syaikh Al Asfahany, Syaikh Yaqut Al-Hamawy, Syaikh Abu Al-Robi’ Al-¬Maliki, Syaikh Shofiyuddin Al-Manshur serta Syaikh Jala¬luddin Al-Suyuti, Imam Suyuti umpamanya telah menyebut¬kan Manaqib dirinya dalam kita-kitab Thobaqoh yaitu Thobaqoh Al-Fuqoha' Thobaqoh Al-Muhadditsin Thobaqoh Al-¬Mufassirin Thobaqoh Al-Nuhaat, Thobaqoh Al-Sufiyah dan Thobaqah Al-Muqriin.

Kata Imam Suyuti : Saya menyebutkan manaqib saya hanyalah mengikuti perbuatan orang-orang salaf yang sholeh-sholeh, dan untuk memperkenalkan hal ihwal saya dalam bidang ilmu agar orang lain menirunya, juga untuk Attahadduts bin ni’mah.
Adapun manaqib Hadrotus-Syaikh yang terperinci dan mendetail ada di dalam kitab "SYIFAUL QULUB LIQOUL MAHBUB" yang disusun oleh Kyai Haji Abdulloh Faqih suci Gresik. dan kemudian kami susun kembali kedalam bahasa Arab secara sistematis dan praktis dalam kitab "AL-LU'LU' WALMARJAN FI MANIQIBI SYAIKH MUHAMMAD UTSMAN R.A.
Dengan membaca Bismillahirrohmanirrohim kami mulai menyampaikan manaqib (biografi) Hadrotus-Syaikh sebagai berikut :
Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman adalah seorang sayyid dan seorang habib, sebab itu yang mengandung beliau adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin Al-mulaqqob bi Sunan Giri bin Maulana Ishaq Al-Husaini dan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati juga Al-husaini. dengan demikian hadrotus-syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi anak cucu Rosululloh saw.

Hadrotus-Syaikh dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhiroh tahun 1334 H. setelah beliau bertapa selama 16 bulan di dalam rahim ibu beliau dan selama di dalam rahim ibu beliau sering bersin, di dalam bahasa Arab di sebut Al-Atthos, dan sejak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak setelah Hadrotus-Syaikh sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada dirumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam badan beliau penuh dengan lumpur. Ternyata setelah diselidiki, beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.

Setiap malam Hadrotus-Syaikh selalu tidur di surau (langgar) bersama nenek beliau Kyai Abdulloh, selain nenek beliau tidak ada seorangpun yang berani mendapingi sewaktu beliau tidur, karena dari mata beliau memancarkan sinar terang seakan-akan mau menembus Iangit bagaikan lampu sorot (battery).
Ketika beliau berumur 6 sampai 7 tahun, pada suatu malam nampak bulan-bulan yang banyak turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Hadrotus-Syaikh dan mengitari beliau dari segala arah.

Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada Jam 3.00. Istiwa' beliau keluar rumah menuju Masjid Jami' Ampel Surabaya diantar oleh kakak perempuan beliau Nyai Khodijah untuk membaca tarhim (memanggil-manggil sholat fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.

Setiap kali beliau sampai dipintu gerbang Ampel beliau selalu disambut anak-anak kecil yang banyak se¬kali memakai kopyah putih semua, setelah beliau sampai di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah kemana. Dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali, demikian cerita Nyai Khodijah dan Kyai Anwar.

Ketika beliau umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan Al-Qur'an 3 kali dibawah asuhan nenek beliau Kyai Abdullah. Kemudian beliau di khitan (sunat). Barulah beliau berpindah mengaiji ke Kyai Adro'i Nyamplungan, sejak itu sepulangnya beliau dari Ampel, beliau terus menuju ke Nyamplungan untuk mengaji Al-Qur'an, setelah itu beliau menuju ke madrosah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji agama, dan baru pulang setelah jam 10.0 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu 5 Sen yang berlobang tengah yang beliau tempelkan di kancing baju.

Pernah selama 4 talaun Hadrotus-Syaikh tidak makan kecuali daun-daunan dan buah-buahan dan hanya minum air masak saja. Pada waktu itu beliau tentukan belanja beliau hanya 1/2 Sen. Beliau mengatakan, pada waktu saya masih kecil pada suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan, maka sayapun makan sekenyang kenyangnya, tetapi sebagai dendanya Saya harus mengkhatamkan Al-Qur'an satu kali duduk. Dan beliau mengatakan : Pada suatu hari saya menangisi diri saya karena ketika saya sholat saya ingat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun, berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan Mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat ?!
Kyai Ahmad Asrori Kholifatus Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi mengatakan kepada kami, bahwa ayah beliau pernah mengatakan : Ketika saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka'bah di Makkah secara rel dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali (saya ucek-ucek), tetapi tetap saja yang nampak hanyalah Ka'bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya sudah rusak, dan saya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat, akan tetapi hasilnya sama saja. Ka'bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata saya, Kata Kyai Asrori : Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu kata Hadrotus-Syaikh saya melihat orang dengan segala kepribadiannya, ada yang menyerupai Srigala ada yang seperti Truwelu, ada yang seperti Babi, seperti Ayam, Kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan nafsunya masing-masing, tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab itu adalah rahasia seseorang.

Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh sampai larut malam tidak pulang dari Madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, maka ributlah orang-orang tua mengkhawatir¬kan beliau. Maka imam Roudloh Kyai Nur atas izin orang tua beliau berangkat mencari beliau, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadrotus-Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji, Hadrotus-Syaikh sudah Pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura.

Setelah orang tua beliau mendengar demikian itu, beliau mengatakan : tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat. Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang kerumah. Dan setelah berobat Al-hamdulillah beliau sembuh kembali. Kemudian Hadrotus-Syaikh dipondokkan ke Kyai Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadrotus-Syaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan : sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya kepondok, sarung saya hanya satu lembar, apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk sholat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya di marahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan : Kalau kau tinggal dipondok. untuk makan dan mimurn. Lebih baik tinggal dirumah saja.

Ketika Hadrotus-Syaikh pulang dari pondok, pada suatu hari beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari disamping musholla di muka rumah beliau, maka beliau melihat hal yang tidak senonoh ini akhirnya beliau adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan : yai ! saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya) ? Kyai Romli menjawab : Entaslah wahai Utsman ! dengan syarat hatimu tidak ber¬paling kepadanya, kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kau tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar. Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang 14 orang itu dirumah beliau setiap malam, beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuk-masukkan (sesel-seselkan) urusan keagamaan mereka, dan beliau peringatkan tentang siksa Alloh ta’ala. sampai akhirnya taubat dengan taubat nasuha (taubat yang pokok).

Hadrotus-Syaikh pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kyai Romli karena beliau mengadu ayam, Kyai Romli menjawab : Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak usah meniru mengadu ayam. Kawan dekat Hadrotus-Syaikh bernama Kyai Haji Hasyim Bawean menceritakan kepada kami bahwa Hadrotus-Syaikh dibai'at oleh Kyai Romli pada hari Rabu 16 Sya’ban tahun 1361 H atau 1941 M. Setelah beliau dibai'at selama satu minggu heliau menyusun silsilah Thoriqoh Qodiriyah dan Naqsyabandiyyah atas perintah Kyai Romli di namakan "TSAMROTUL FIKRIYYAH" .

Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya dibai'at oleh Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan kekamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan, karena sudah menjadi Tradisi, setiap kali saya masuk kerumah Kyai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demkian, sebelum saya jadi murid saya adalah Murod dan sebelum saya menjadi tholib saya adalah Mathlub. Dalam kesempatan lain Hadrotus-Syaikh mengatakan untuk menghadiri Majlis Khusus atau wirid Khataman selama 4 tahun saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya. ke Paterongan, barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy'ari di Mojoagung dan beliau mengatakan : jangan jalan kaki terus-menerus Utsman. Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan pada adik waktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadrotus-Syaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan, kalau siang hari berada di dalam pondok.

Pada suatu hari, hari Selasa beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, Hadrotus-Syaikh waktu itu mengatakan "tidak kuat Kyai" tetapi Kyai Romli tet'ap melaksanakan perintah Alloh kemudian mengusapkan tangannya diatas kepala Kyai Utsman r.a. seketika itu pula Hadrotus-Syaikh jatuh tidak sadarkan diri dan langsung jadzab Selama satu minggu Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak sholat, wajah beliau cantik sekali bagaikan Bulan Purnama, tidak seorang pun yang berani melihat wajah beliau yang Cantik itu.

Setelah Hadrotus-Syaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasir Bawean : nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman, maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadrotus-Syaikh sudah siap menerima tamu dikamar, dan menghadap kepintu, tidah lama kemudian beliau mengucapkan : Waalaikumussalam, Walaikumussalam. selama kurang lebih lima menit, dan nampak seakan-akan. Hadrotus-Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala, kemudian beliau mengatakan : Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan Nabiyulloh Khidir r.a. Serta oleh sejumlah Masyayikh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah, dan sejak sekarang saya di izinkan untuk membai’at. sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim.

Kemudian Hadrotus-Syaikh menghadap kebarat sekali lagi dan mengucapkan na’am na’am tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu Hadrotus-Syaikh berdiri menuju kepintu, setelah diam sejenak beliau mengucapkan wa'alaikumussalan, wa'alaiku¬mussalam, kemudian oleh Kyai Hasyim, Khadrottus Syaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi dan ketika itulah Kyai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi, dan Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan : Ada apa ? ada apa ? ada apa ? Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya : Alham¬dulillah sekarang saya punya anak yang bisa mengganti¬kan saya (sampai 3 kali).
Orang tua Hadrotus-Syaikh juga pernah menyatakan hal-hal kepada salah seorang habib bahwa Hadrotus-Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir Jailanil r.a, untuk berdakwah dan diangkat sebagai kholifahnya tanpa perantara, pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.

Pada waktu Hadrotus-Syaikh tinggal di Rejoso ada seorang tukang adu ayam kawa'an yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud dia memiliki jago-jago yang khusus untuk di adu, Hadrotus-Syaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam, maka beliau membawa ayam beliau ke Wak Sud dan dia menjawab ajakan Hadrotus-Syaikh dengan mengatakan : Apa bila jago¬mu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu, sebaliknya apa bila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu, maka Hadrotus-Syaikh menjawab : Apa bila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut, dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu sama sekali, Pokoknya begini Apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh dibawah perintahku, dan wak Sud setuju. Dengan kekuasaan Alloh swt. menanglah jago Hadrotus-Syaikh sekalipun kurus kecil dan lemah sekali sangat kontras dengan jagonya wak Sud yang kekar dan gagah itu, maka waktu Kyai Romli melihat wak Sud melakuka'n sholat. Kyai Romli memegang pundak Hadrotus-Syaikh dari belakang seraya mengatakan : Apa yang kamu lakukan terhadap wak Sud wahai Utsman sehingga dia mendatangi sholat Jum’at, pada hal saya tidak mampu menundukkannya ? Dipeterongan Hadrotus-Syaikh tinggal di desa Nge¬lunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar beliau menjadi Imam di Ngelunggih, akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang pindah he Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Hadrotus-Syaikh serta ilmu beliau.

Akhirnya Hadrotus-Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi. Ketika Hadrotus-Syaikh sampai dilereng Gunung Lawu sangu beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter, maka untuk mendapatkan rizqi yang samar, beliau Setiap hari : mengunjungi pesarean yang paling di kenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobby melakukan ziarah akhirnya atas kemurahan Alloh beliau sekeluarga mendapatkan rizgi yang tidak diduga sebelumnya, diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan ada yang minta barokah do’a, ada yang minta fatwa, sampai akhirnya Hadrotus-Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.

Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh di desa tersebut, beliau bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari Tebu Ireng berpamitan kepada beliau dengan mengatakan : Saya duluan Utsman. tahu-tahu pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah) .

Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M Hadrotus-Syaikh berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasinya tidak mungkin aman di daerah itu. Mendengar pulangnya Hadrotus-Syaikh ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan Hadrotus-Syaikh ; karena mereka memerlukan do’a, ilmu, serta barokah dari beliau bahkan ada yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadrotus-Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikhoroh akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.

BAB II ---

Ketika Hadrotus-Syaikh menjadi santri di pondok Rejoso beliau masih muda belia, sering di jumpai oleh Nabi Khidir a.s. sehingga beliau laporkan kepada Kyai Romly dan dijawab oleh Kyai : Mengapa tidak kau minta datang kemari wahai Utsman.

Hadrotus-Syaikh sejak kecil sampai akan pulang kerahmatulloh selalu istiqomah dalam segala prilaku, perbuatan, serta ucapan yang beliau tiru dari Rosululloh saw. Kita tidak pernah melihat beliau hadats dan kita semua menyaksikan bahwa keseluruhan waktunya hanyalah untuk mnemgabdi kepada Alloh swt. maka pantaslah kalau beliau dipilih oleh Kyai Romly sebagai Kholifahnya. Dalam hubungan ini Kyai Romly pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus mene¬rus berproduksi di bawah pimpinan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. Itulah Thoriqoh Al-Qodiriyah Wan Naqsyabandiyyah yang beliau asuh.

Sebelumnya Kyai Romly sering menampakkan dan melahirkan ridlonya kepada Hadrotus-Syaikh, sampai beliau mengatakan : Alangkah besar ridlo saya kepadamu wahai Utsman. Dan Hadrotus-Syaikh meminta pendapat tentang Kholifah Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. Kyai Romly tersenyum-senyum sambil melihat dan menunjuk pada Hadrotus-Syaikh. sebaliknya Hadrotus-Syaikh kepada Kyai Romly juga fanatik dan sering merindukannya apabila berpisah agak lama. Pada suatu hari putra beliau Abu Luqmanul Hakim sewaktu masih kecil jatuh dan terbentur pada tepi meja di rumahnya sehingga dari kepalanya mengalir darah yang banyak sekali yang cukup meributkan keluarga beliau. Maka oleh keluarga beliau supaya beliau mengantarkan putranya ke rumah sakit Karang Tembok dan kalau tidak berhasil terus ke Simpang, padahal Hadrotus-Syaikh ketika itu akan pergi ke Rejoso karena sangat rindu kepada Kyai Romly, maka beliau berkata dalam hatinya : saya harus pergi ke Rejoso, tentang nasib anak saya, saya pasrahkan kepada Alloh.

Ketika beliau berjumpa dengan Kyai Romly di Rejoso, guru beliau mengatakan : Anakmu tidak apa-apa. Dan benar kata kyai romly bahwa Abu Luqmanul Hakim dalam keadaan sehat wal afiyat, bahkan sedang memakan nasi goreng sekembalinya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso berkat ketaatan serta kecintaan beliau kepada guru beliau Kyai Romly Attamimy r.a. juga pada suatu hari ketika akan menyelenggarakan walimah dirumah setelah maghrib, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada Kyai Romly dan sampai di Rejoso tepat pada waktu sholat Dzuhur, se¬sudah sholat berjama'ah di masjid guru beliau Kyai Romly mengatakan kepada beliau : sekiranya kau tinggal di pondok seperti yang lalu, maka malam ini saya ajak memenuhi undangan Manaqiban di Jombang.

Maka Hadrotus-Syaikh bimbang antara mendampingi gurunya memenuhi undangan Manaqiban di Jombang dan pulang kerumah untuk mengharapkan tamu-tamu yang beliau undang Kerumah beliau pada malam itu juga. Akhirnya beliau memantapkan pendirian beliau pada alternatilf pertama dan berkata dalam diri sendiri : saya pasrah kepada Alloh toh nasi-nasi yang telah masak di rumah ada orang-orang yang memakannya, sedang menyertai guru adalah lebih utama. ketika Kyai Romly mengetahui beliau masih ada di masjid setelah sholat Asar berkatalah beliau kepada Hadrotus-syaikh : murid yang terdekat kepada gurunya adalah murid yang tahu akan rahasia-rahasia gurunya.
Kegemaran Hadrotus-Syaikh adalah berziaroh kepada wali-wali Alloh baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan beliau mengenal mereka secara dekat. Bukan hanya nama-nama mereka bahkan nasab mereka dan hubungan mereka satu sama lain. Sampai-sampai beliau hidup-hidupkan dan beliau semarakkan peringatan hari wafat mereka, terutama wafatnya Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. sehingga hampir tiada hari yang lewat di kota maupun desa terutama di Jawa Timur, kecuali ter¬dapat disitu majlis manaqib.

Dalam hubungannya ini Hadrotus-Syaikh mentafsirkan qolbunsalim dalam ayat :
يوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم
Sebagai hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh rasa cinta kepada Alloh, Rosulnya, dan para wali-walinya. sebab kata beliau tanpa wali-wali kita tidak mungkin dapat mengabdi kepada Alloh s.w.t dengan benar, maka banyak-banyaklah tawasul kepada Auliya' insya Alloh hati kita akan menjadi khusu'. Yang mula pertama kali menyelenggarakan Managib adalah Hadrotus-Syaikh dan kemudian direstui oleh Kyai Romly At-tamimi dengan menyatakan : "baik Man, teruskan Man !"

Mula-mula yang hadir pada majlisan Managib di Jatipurwo selama 4 tahun hanyalah 7 orang 3 orang diantaranya pada musim panas udzur karna mengidap penyakit paru-paru. Pada suatu hari ditengah-tengah Hadrotus-Syaikh memimpin Istighotsah, datanglah orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba dan langsung menelentangkan beliau dan melingkarkan pedangnya pada leher beliau yang terlentang dibawah itu. Peristiwa yang tragis ini diceritakan kepada Kyai Romly, dan beliau hanya men¬jawab : Teruskan apa yang telah kamu amalkan, orang ter¬sebut tidak berani menancapkan pedangnya pada lehermu, bahkan dalam waktu dekat ini tidak akan berpisah denganmu sejengkalpun. Dan kenyataannya seperti apa yang dinyatakan oleh Kyai Romly.

Tentang keutamaan menaqiban ini Hadrotus-Syaikh mengatakan : Tidak ada ibadah kepada Alloh dimuka bumi ini yang lebih utama dari pada mencintai wali-wali Alloh, dan beliau mengatakan pula : mencintai para wali termasuk ketaatan yang terbesar, dan mereka yang menghadiri majlis managib adalah orang-orang yang cinta kepada mereka dan mencintai mereka adalah bukti akan adanya rasa cinta kepada Alloh s.w.t. Berkah cintanya Hadrotus-Syaikh kepada para Auliya' maka beliau sangat dicintai oleh para habaib dan para 'Ulama' akhirat, diantaranya Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi, Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos, Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf dan Hadrotus-Syaikh sering berziaroh kepada mereka dan menghadiri haul mereka.

Pada suatu hari Hadrotus-Syaikh bermaksud untuk berziaroh ke Habib Abu Bakar Muhammad Al-Segaf di Gresik sewaktu Habib masih hidup, beliau berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik di tengah-tengah hujan lebat ditambah suara petir dan guruh yang saling sambar menyambar di tengah malam yang gelap gempita, ditambah angin kencang yang dapat menerbangkan atap rumah, sehingga Hadrotus-Syaikh sewaktu sampai di Gresik waktu sudah larut malam dan dalam keadaan basah kuyup tetapi Habib Abu Bakar nampak masih membuka pintunya lebar-lebar dan penjaga pintu masih berdiri. Ketika Hadrotus-Syaikh melewati pintu pagar, penjaga pintu mengatakan bahwa sejak tadi sore Habib menunggu kedatangan Hadrotus-Syaikh dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika beliau menghadap habib semua jama'ahnya yang mengelilingi habib semua ta’zhim kepada beliau dan mengeluh-eluhkan kehadiran beliau.

Akhirnya Habib Abu Bakar bertanya tentang apa yang beliau mohon kepada Alloh dengan perantara Habib, yang kemudian dijawab oleh Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Nadil Ishaqi r.a "Minta Khusnul Khotimah" habib termenung lama me¬mikirkan betapa luhurnya permohonan Hadrotus-Syaikh. Sebelumnya, Hadrotus-Syaikh sudah mempunyai hubungan khusus dengan Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi Kwitang Jakarta, seperti pernyataan habib Hasyim bin Sholeh bin Abdurrohman Al-Habsyi bahwa Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a. telah mendapatkan futuh melalui Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi r.a. pada suatu hari Kamis tahun 1964. Dan pernyataan Kyai Hasyim Bawean bahwa dia pernah mengantarkan Hadrotus-Syaikh Utsman r.a. ke Habib Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi di Jakarta ditengah-tengah hidup yang mengelilingi beliau, Habib Ali menjabat tangan Hadrotus-Syaikh seraya mengatakan : Kunci kutup saya serahkan kepadamu wahai Syaikh Utsman.
Dan pernyataan putra Habib Ali sendiri yaitu Habi Muhammad bin Ali bin Abdurrohman Al-Habsy pada waktu memberikan sambutan atas wafatnva Hadrotus-Syaikh yang ke 40 harinya bahwa setiap kali Hadrotus-Syaikh menemui kesulitan apa saja beliau selalu pergi ke Jakarta untuk menjumpai Habib Ali Al-Habsy untuk kemudian dapat her¬hubungan dengan Rosulullah s.a.w akan tetapi karena jarak Jakarta Surabaya begitu jauh maka akhirnya hahib Ali Al-Habsy menyuruh menjumpai Habib Abu Bakar Muhammad Assagaf di Gresik saja, sama-sama Wali Kutup. Selanjutnya Habib Muhammad bin Ali Habsyi menyatakan dalam sambutannya bahwa Hadrotus-Syaikh akhirnya berhubungan langsung sendiri dengan Rosulullah saw tanpa perantara sewaktu mengalami kesulitan.

Hadrotus-Syaikh juga sangat dekat dengan Habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos Bungur Besar Jakarta sehingga waktu beliau membaca Khususiyyah Wakalimatul Akha’ Syaikh Utsman yang disusun oleh Habib Hasan Al-Jufri Bangil beliau menangis terisak-isak, kemudian beliau gantungkan di atas pintu rumah seraya mengatan : Saya letakkan nadzoman ini di sini agar saya dapat melihat Syaikh Utsman setiap saat Kemudian beliau mendoakan Hadrotus-Syaikh semoga panjang umur, kalau tidak (kata habib Ali Al-Atthos) siapakah yang menggantikan kedudukannya ? demikian pernyataan menantu Hadrotus-Syaikh Abu Lu'lu' sekembalinya dari Jakarta dan habib Ali bin Husain bin Muhammad Al-Atthos pernah menyatakan dimuka kami sesungguhnya Syaikh Utsman tiada duanya pada masa sekarang dan pada waktu Hadrotus-Syaikh berziarah kesana dihadapan para hadirin beliau menyatakan wahai Syaikh Utsman engkau dari keluarga Nabi.

Kekholifahan Syaikh Abdul Qadir Jailani ditanganmu wahai Utsman. dan dalam kesempatan lain, beliau menyatakan : Saya mendengar dengan kedua telinga saya Paman saya Ali bin Abdur Rohman Al-Habsyi mengatakan : sungguh Utsman di Mahsyar nanti sangat dekat dengan Nabi Muhammad s.a.w. seperti dikemukakan pada Bab I yang lalu bahwa Hadrotus-Syaikh mempunyai hubungan istimewa dengan Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. bahkan dengan Rosulullah s.a.w seperti dikemukakan diatas dan seperti pernyataan Habib Muhammad Al-Habsy pada 40 hari wafatnya Hadrotus-Syaikh bahwa Habib Ali Al-Habsy, Habib Ahmad bin Kholid Al-Hamid, Habib Umar Al-Idrus dan lain-lainnya, menyatakan bahwa Hadrotus-Syaikh Utsman adalah tergolong Ahlul bait Rosulillah s.a.w.

Habib Ahmad bin Hamid Al-Habsyi pernah bertanya pada Habib Salim bin Jundan waktu beliau masih hidup, apa yang menyebabkan para Habib senang pada Kyai Utsman ? Habib Salim bin Jundan menjawab : Syaikh Utsman termasuk keluarga Rosulullah s.a.w, darahnya adalah darah saya ini maka ciumlah tangannya apabila kau ketemu dengannya walaupun banyak orang mendenkinya toh dia tidak pernah susah akibat didengki orang, mereka yang mendengkinya hanyalah rumput-rumput sedangkan Syaikh Utsman adalah pohon besar yang rindang.

Ketika Kyai Ahmad Asrori kholifatus Syaikh Muhammad Utsman masih kecil, pernah diajak oleh pengasuhnya yang bernama Abdul Hakim Bawean untuk berkunjung ke Habib Alie bin Muhummad bin Alwi As-shodiq Al-Habsyi cucunya habib Syaikh Bafaqih Boto Putih Surabaya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Dalam kesempatan itu Habib mengatakan kepadanya : jangan kau risaukan haliyah orang tuamu, beliau bagaikan Matahari, apabila sangat dekat dengan kita manusia banyak yang tidak tahan karena saking panasnya, tetapi ketika jauh dari kita sinarnya akan membahagiakan kita semua.

Demikianlah keadaan orang tuammu Syaikh Utsman r.a. Seorang Kyai belum dinamakan Kyai sempurna sehelum ia diingkari oleh orang-orang yang dekat kepadanya dan sebaliknya dia dicintai oleh orang-orang yang jauh dari padanya.
Tentang hubungan Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman r.a dengan Kyai Hamid Pasuruan, Hadrotus-Syaikh pernah bercerita setelah walimatul haul Habib Syaikh Bafagih Boto Putih Surabaya : saya keluar ke teras cungkup di dampingi oleh Kyai Abdul Hamid Pasuruan duduk ditangga cungkup. Pada waktu itu Kyai Abdul Hamid bercerita : tadi sebelum kesini saya tidur dirumah salah seorang teman di Surabaya Ketika saya bangun, dihadapan saya terlihat foto Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman, oleh karena saya tahu bahwa yang meletakkan adalah Agus Mas’ud Kedung Cangkring Sidoarjo, maka saya bertanya kepadanya tentang maksudnya, jawabannya hanya Wallohu A'lam. Kata Hadrotus-Syaikh : Saya pun diam mendengar cerita itu karera menyangkut masalah maqom (martabat). Tiba-tiba Kyai Hamid menjawab sendiri : untuk kepentingan hubungan di Mahsyar nanti.

Itulah sebabnya, maka dalam suatu walimah Kyai Abdul Hamid Pasuruan mengharap kepada Hadrotus-Syaikh agar ada hubungan yang dekat antara keduanya di Mahsyar nanti, dan Hadrotus-Syaikh menjawab : Kyai nanti bersama kami disisi Alloh Yang Maha Kuasa. Dan didalam walimah yang lalu ada orang meminta, barokah do’a kepada Kyai Hamid, sedangkan disisi beliau adalah Hadrotus-Syaikh. akhirnya Kyai Hamid memegang lutut Hadrotus-Syaikh Utsman dengan tangan kiri dan berdo’a untuk orang yang meminta doa tadi dengan tangan kanan. Adik kami Asfahani putra Kyai Abdullah Faqih yang mengaji di pondok Kyai Hamid Pasuruan mengatakan pada suatu ketika kami duduk bersama-sama Kyai Hamid di ruang tamu, tiba-tiba Kyai Hamid mengatakan kepada kami : di Pasuruan ini hanya ada kayu Garu, alangkah ni’matnya kalau ada pohonnya Asfahani ! tiba-tiba Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman datang bertamu ke ruang tamu dan spontan Kyai Hamid merangkulnya dan mergata¬kan : ini apa pohon garunya!

Inilah sebagian kecil yang nampak tentang kedudukan dan Manzilah Hadrotus-Syaikh Utsman Nadil Ishaqi r.a.

BAB III

Ketika haul akbar Syaikh Abdul Qodir Jailani r.a. tahun 1389 H. dalam sambutannya habib Muhammad bin Ali bin Abdurrohman AI-Habsyi menceritakan tentang perjalanan orang tuanya ketanah suci dan bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani r.a. yang menyatakan pada Habib : Kholifah saya adalah Utsman Surabaya.

Di antara kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain : kyai Muhammad Fagih Langitan berkata bahwa Kyai Maimun sarang diceritakan oleh bapaknya yang bernama kyai Zubair bahwa habib Abd Qodir Bilfaqih bermimpi berjumpa dengan Rosulullah s.a.w yang sedang menemui 2 orang lelaki dan Rosulullah menyatakan kepadanya : Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa. Diantaranya adalah dua orang ini yaitu Romly dan Utsman.

Kekeramatan Hadrotus-Syaikh yang lain adalah dari Kyai Faqih Amin Praban Surabaya (pernah menjadi guru dan kawan Hadrotus-Syaikh) beliau mengatakan pada pada suatu hari saya berkunjung kepada Kyai Utsman, dan dia meminta saya untuk menjadi muridnya dibawah naungan Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah setelah bertukar pikiran tentang thoriqoh sampai jam 2 malam. Saya kalah dan mau menyerah kepada ajakannya dengan syarat : tiga burung perkutut yang didalam sangkar masing-masing berkicau secara berturut-turut dengan komandonya, setelah dia komando, tiba-tiba tiga ekor burung itu berkicau berturut-turut dengan izin Alloh, maka terasalah dalam diri saya akan kebesaran Hadrotus-Syaikh, dan sejak itu saya memakai bahasa Jawa halus (Kromo) sebagai ganti bahasa Jawa kasar (ngoko), dan setelah tiga bulan minta di bai’at.

Di antara kekeramatan beliau, ketika pada suatu hari kami akan menghadap Hadrotus-Syaikh, berkata dalam diri sendiri : mengapa jauh-jauh kulangkahkan kakiku kepondok anu. Kemudian keperguruan tinggi anu, sampai akhirnya keluar negeri untuk mencari kebenaran dan keyakinan. padahal di Surabaya sini terdapat seorang Mursyid yang membimbing saya menempuh jalan akhirat dengan selamat. maka ketika kami duduk diruang tamu keluarlah Hadrotus-Syaikh dari dalam sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada (sanubari) seraya mengata¬kan : diantara guru saya juga ada yang bukan dari jam’iyyah kita. Tetapi Alhamdulillah saya belum pernah mengingkarinya sama sekali. Maka kami pun merasa malu dan menundukkan kepala.

Di antara kekeramatan beliau, pada tanggal 11 Syawal 1392 H. Hadrotus-Syaikh menjamu para tamu yang menghadiri majlis Manaqib di pondok Jatipurwo. Beliau mengatakan kepada kami : Wahai Abdul Ghoffar ! ketika kau tinggal di Mesir apakah kau pernah ketemu dengan Syaikh Hasan Ridwan seorang wali di Mesir yang dimintai barokah oleh orang Islam Mesir ? Ya, kami pernah menjumpainya pada suatu hari dalam rangka kuliah umum Tasawuf oleh Ir. Abdul Halim Mahmud yang dihadiri oleh para sufi dibalai pertemuan Al-Azhar. Selanjutnya Hadrotus-Syaikh berkata kepada para hadirin : Ketika salah seorang Habib Ampel berkunjung ke Mesir, dia menjumpai Syaikh Hasan Ridwan, dia ditanya tentang negerinya.

Ketika ia menjawab dari Indonesia dari Ampel, maka Syaikh Hasan Ridwan mengatakan : Jadi rumahmu dekat dengan Syaikh Utsman Al-Ishaqi ? Habib menjawab : Ya, akhirnya Syaikh Hasan Ridwan mengatakan kepadanya : Apabila kamu sampai di rumah, berkunjunglah ke Syaikh Utsman, dan sampaikanlah salamku kepadanya, ketahuilah bahwa saya sering berkunjung ke rumahnya.
Diantara kekeramatan beliau, pada suatu hari dibulan Maulid, Hadrotus-Syaikh pergi ke Jakarta naik kereta api untuk menghadiri Maulid Nabi Muhammad s.a.w dan haulnya Habib Alie Al-Habsyi di Kwitang Jakarta, ketika kereta api berada diantara Cirebon-Jakarta karcis Hadrotus-Syaikh diperiksa Polisi KA dengan ketat sekali termasuk kartu tanda pengenal beliau yang akhirnya polisi memaksa Hadrotus-Syaikh untuk menemuinya di restorasi, sehingga menimbulkan kemarahan beliau, maka seketika itu pula datanglah hal beliau dan mengatakan : Perbuatan ini menunda sampainya kereta api di Jakarta. Spontan kereta api itu berhenti tanpa sebab yang nyata, anehnya semua hubungan interlokal maupun bukan interlokal terputus sama sekali dengan Stasiun, kebetulan dibelakang gerbong Hadrotus-Syaikh terdapat Habib Abd Hadi bin Abdulloh Al-Haddar dari Banyuwangi.

Maka setelah kereta api macet selama 1 jam dia mengirim utusan ke Hadrotus-Syaikh seraya menga¬takan : jam berapa sekarang ! pergilah ke Kyai Utsman, dan mintalah barokah Fatihah kepadanya agar kita tidak terlambat. Akhirnya setelah beliau membaca Al-Fatihah barulah beliau sadar akan diri beliau, dan spontan kereta api berjalan kembali seusai pembacaan Al-Fatihah, demikian pula hubungan yang menyangkut per¬kerata apian sambung kembali.
Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.
Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh.

Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto.

Pada suatu hari di bulan Muharram Hadrotus-Syaikh pergi ke Ngroto menghadiri acara Haul, tetapi kendaraan beliau terhalang lumpur di Kemiri 4 km dari Ngroto, kalau mobil beliau diarahkan ke Ngroto mogok, kalau diarahkan ke Surabaya mobil beliau bisa berjalan, maka Hadrotus-Syaikh menetapkan untuk kembali ke Surabaya, yang menolong mengentas mobil beliau dari lumpur adalah masyarakat Kemiri maka Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya tidak dapat membalas sama sekali. hanya saya do'akan mudah-mudahan masyarakat disini selamat semua, maka barokah doa beliau setiap kampung dari Kemiri sampai Ngroto pasti ada Manaqiban dan ada murid-murid beliau, diantaranya desa Tembelingan yang asalnya tidak ada yang sholat bahkan tidak ada masjid dan musholla, tetapi berkat dilewati oleh Hadrotus-Syaikh, Islam tersebar di Tembelingan dan sekitarnya ada masjid dan banyak musholla dan Imammuddin serta sebagian kaum musimin disitu sudah menjadi murid beliau, sehingga Kyai Muslih Mranggen mengatakan : masuknya Hadrotus-Syaikh ke Ngroto sudah pas karena masyarakat Ngroto adalah masyarakat Madura, cocok dengan kata-kata Syaikh Utsman : Ngroto adalah bau Madura. dan Hadrotus-Syaikh pernah mengatakan : saya bermimpi di sebelah timur Semarang ada cahaya. apakah ada Waliyyulloh di sana ? ¬ternyata benar itulah Kyai Sirojuddin.
Selanjutnya Kyai Masduri mengatakan : sekembalinya saya dari Surabaya pada suatu hari saya sakit mata, walaupun sudah berobat tetap tidak mau sembuh kecuali hari Kamis dan Jum'at saja. Maka pada suatu malam Jum'at saya membaca Al-Fatihah kemudian membaca sil¬silah maka malam itu juga saya bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh, beliau menanyakan kepada saya : apakah matamu sakit ? Apakah yang sakit sebelah kanan? maka mata diobati oleh Hadrotus-Syaikh dengan jari-jarinya dan ternyata Alhamdulillah sembuh betul-betul, maka esok harinya hari Sabtu saya pergi ke Surabaya untuk menjumpai beliau. Beliau bertanya : Apakah matamu sudah sembuh ? saya menjawab : Ya. kemudian beliau menyatakan : Ya saya obati dari sini.

Selanjutnya Kyai Masduri menceritakan lagi : pada suatu hari sewaktu saya berkunjung ke Hadrotus-Syaikh saya disuruh ke Ampel seraya mengatakan : Pergilah ke Ampel, saya rindu Agus Mas’ud. Sesampai saya di lawang Agung saya bertemu dengan Agus Mas’ud, cepat-cepat turun dan minta gendong saya. Kyai Masduri menceritakan lagi bahwa Hadrotus-Syaikh menceritakan kepadanya sebagai berikut : Pada suatu hari Jum'at ada orang hendak menunaikan sholat Jum’at di masjid Ampel, kemudian saya panggil, saya ajak sholat Jum’at di Baitul Ma'mur. Setelah kita melangkah tiga langkah kita sudah sampai di Baitul Ma'mur, ini boleh kau ceritakan setelah saya meninggal.

Cerita lain dari Kyai Masduri adalah sebaga berikut : saya bermimpi sholat di musholla yang penuh dengan mushollun, karena mereka sholat semuanya saja, maka saya mengingkarinya dan Hadrotus-Syaikh menjadi ma'mum tidak tahu siapa yang menjadi imam dan beliau mengatakan kepada Saya : mereka adalah Wali-wali Alloh, dan saya bermimpi berjumpa dengan Nabi Khidir a.s. beliau mengajak saya ketepi sungai disana ada musholla yang bersinar terang, tahu-tahu disitu ada Hadrotus-Syaikh dan kita bertiga menjadi ma’mum tetapi saya tidak tahu siapa imamnya.
Habib Abdulloh bin Umar Al-Haddar mengatakan kepada kami : pada suatu hari Kamis dibulan Syawal Habib Abdul Hadi bin Abdulloh Al-Haddar ingin berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh Utsman sesudah masuk waktu sholat Ashar tetapi sesampai di pondok Jatipurwo beliau tidak menjumpai Hadrotus-Syaikh.

Setelah lama menunggu di pondok dan waktu sudah menjelang Maghrib maka Habib Abdul Hadi pun cepat-cepat meninggalkan pondok untuk menuju ke Ketapang karena setelah sholat Maghrib ada acara pem¬bacaan burdah di Ketapang, ketika sampai di Karang Tembok becak beliau berpapasan dengan mobil Hadrotus-Syaikh, maka beliau pun kembali lagi ke pondok Jatipurwo untuk menemui Hadrotus-Syaikh. Sesampai di Pondok Hadrotus-Syaikh sedang mengimami sholat Ashar dalam waktu Ashar yang paling akhir bahkan setelah Ashar sempat membaca semua wirid seperti biasanya sampai tuntas, kemudian Hadrotus-Syaikh menjumpai Habib Abdul Hadi bersama saya (Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar) diruang tamu. Diruang tamu Habib Abdul Hadi membaca Allohu Hu Iiy. Allohu Hu liy Fani'mal Wali, setelah dijamu secukupnya Habib Abdul Hadi mohon pamit kepada Hadrotus-Syaikh untuk pergi ke Ketapang, dalam hatinya waktu telah berlalu untuk mengikuti pembacaan burdah di Ketapang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kami sampai di Ketapang orang-orang masih melakukan sholat Maghrib
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh sopir Hadrotus-Syaikh, meski mengatakan kepada kami : pada suatu hari sepulangnya Hadrotus-Syaikh dari Rejoso, mobil di istirahatkan di Jombang agar kami makan minum dulu. Sedangkan Hadrotus-Syaikh menunggu disalah satu rumah dekat warung tersebut. Seusai makan minum kami menyatakan kepada Hadrotus-Syaikh bahwa bensin telah habis. Beliaupun terkejut dan menanyakan mengapa tidak bilang dari tadi sebelum semua uang yang ada di tangan beliau diserahkan ke pondok Rejoso dan beliau menanyakan sisa uang kami. Kami menjawab hanya tinggal beberapa puluh rupiah saja.

Secara spontan beliau menegaskan : kalau memang demikian baiklah isilah tangki mobil itu dengan air teh tanpa gula semampu uang yang ada padamu ! Kamipun percaya sepenuhnya kepada beliau dan membeli teh tawar beberapa ceret dari warung dan langsung kami isikan ke tangki mobil. Setelah itu kami melapor untuk pulang ke Surabaya. Beliau bertanya : sudah kau isi bensin ? Kami menjawab mobil kami isi dengan sesuai perintah Hadrotus-Syaikh dan karena terlanjur beliau pun akhirnya menyatakan : baiklah ! mari pulang ke Surabaya. Teh-teh juga bisa menjadi bensin. akhirnya betul, mobil berjalan terus sampai ke Surabaya memakai bahan bakar teh.
Sopir Hadrotus-Syaikh yang terakhir yaitu Abd Syakur juga mengalami peristiwa serupa yaitu dalam perjalanan antara Pasuruan Probolinggo mobil Khadrotus-Syaikh kehabisan bensin di tengah malam dan dia disuruh mencari warung untuk mendapatkan teh satu gelas, setelah di dapatkan tehpun di do'ai oleh Hadrotus-Syaikh dan menyatakan : sudahlah isilah dengan teh sama saja. Akhirnya mobil sampai di Probolinggo persis di garasi mobil bensin yang dari teh tadi habis sama sekali.

Cerita semacam ini terjadi pula pada waktu Hadrotus-Syaikh pulang dari Ngroto Semarang, di tengah perjalanan yang jauh dari keramaian Pir mobil putus tinggal satu Pir saja dan sekaligus Oli mobil habis kering sama sekali. Ini terjadi disekitar Caruban menuju Surabaya. Dan Hadrotus-Syaikh menyuruh mencari teh untuk mengantikan Oli yang sudah habis. Setelah diisi dengan teh mobilpun dapat di stater dengan hanya satu Pir saja dapat berjalan terus sampai diSurabaya dengan selamat bi iznillah.
Diantara kekeramatan Hadrotus-Syaikh, beliau menceritakan pengalaman beliau sewaktu ke Singapura. Melihat banyaknya orang-orang yang menjemput beliau di Airport. Ketua security seorang wanita berusaha ingin menyelamatkan beliau dari intervio para Inteljen yang lain. Maka dia pura-pura mengaku sebagai orang tuanya yang ada di Pontianak. Dan langsung di gandeng dari Airport menuju mobil dan diantar sekali menuju ketempat tujuan. Besoknya dia kembali lagi membawa 2 handuk mandi Hadrotus-Syaikh, tetapi setelah satu hari dipakai mandi dia minta kembali, demikian pula handuk yang satu lagi dan menyatakan bahwa handuk yang untuk dia pakai mandi sehari-hari, sedang yang satu lagi untuk dia pakai kain kafan waktu dia meninggal nanti dan seketika itu dia minta di bai’at oleh Hadrotus-Syaikh sebagai murid Thoriqoh Qodriyah Wan Nangsabandiyyah. Sejak itu Hadrotus-Syaikh selalu di kawal oleh ketua security perempuan itu pulang pergi ke singapura. Beliau menyatakan : Inilah berkat saya tidak pernah menyakitkan hati Ibu saya selama hidup beliau.

Inilah sekelumit biografi Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi r.a. dan masih banyak lagi yang belum sempat dimuat disini yang Insya Allah akan kami susulkan kemudian pada terbitan yang akan datang.

Share:

Icon Display

Dahulukan Idealisme Sebelum Fanatisme

Popular Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Recent Posts

Kunci Kesuksesan

  • Semangat Beraktifitas.
  • Berfikir Sebelum Bertindak.
  • Utamakan Akhirat daripada Dunia.

Pages

Quote

San Mesan Acabbur Pas Mandih Pas Berseh Sekaleh