Pengalaman menjadi Volunteer di Negeri Gajah Putih (PART 2)

Lanjutan....

Sehabis isya' kita baru sampai di sekolah. Saat itu saya agak capek, jadi cuma melihat sekolah dengan sekilas saja. Yang jelas, sekolahnya agak besar, tapi di kampung. Saya dibawa ke suatu tempat dimana di sana ada bangunan yang tidak begitu besar. Saya baru tau kalo itu bangunan khusus untuk guru. Di bangunan itu dibagi dua sekat. Satu bangunan untuk guru asli sana. Dan di sebelahnya khusus untuk saya, atau guru luar, katanya. 

Saat itu saya disambut banyak sekali murid. Mereka masih memakai jubah, sebagian memakai sarung dan berkopyah. Nampaknya baru selesai sholat isya'. Mereka melihat saya. Saya turun dari mobil sambil menurunkan barang-barang.

Kesan saya ketika melihat sekitar adalah sekolahnya luas sekali. Ada lapangan sepak bola. Gedung sekolahnya juga lumayan besar. Tapi ada beberapa gedung yang hanya berupa bangunan yang berjejer layaknya sekolah-sekolah di Indonesia.

Ada masjid yang cukup besar. Lebih besar dari masjid kampung tempat saya sholat barusan. Kebetulan bangunan tempat saya tinggal itu pas di samping masjid. Di belakang masjid dan belakang bangunan yang akan saya tinggali itu nampaknya seperti hutan, atau jurang. Entah, saya tidak tau pastinya saat itu. Yang jelas, banyak sekali pohon, juga gelap.

Turun dari mobil,saya diantar ke tempat saya. Awalnya saya agak ngeri jika harus tinggal sendiri di bangunan itu. Karena belakangnya itu hutan. Setelah masuk, ternyata di dalam ada cowok agak tinggi, berpenampilan rapi, anggap saja namanya mas A. Dia nampak sibuk di depan laptop. 

Tahu saya datang, dia langsung berdiri menyambut. Mas A nampaknya sosok yang baik hati. Saya kira dia juga murid di sana. Ternyata tiba-tiba dia berbicara dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Saya agak lupa apa dikatakan pertama kali. Tapi yang jelas dari sana saya tau bahwa dia berasal dari Pamulang. Dia lulusan salah satu kampus besar di Jogjakarta. Berada di sana sebagai guru internasional.

Saat itu saya bersyukur sekali. Ternyata saya tidak sendiri. Alhamdulillah. Ada orang Indonesia lagi di sekolah itu. Dan dari dia juga saya tahu bahwa ada orang Indonesia lagi bersama dia. Seorang cewek, mbak L, asli Jogja dengan program dan kampus yang sama dengan mas A. 

Mas A juga cerita kalo di sekolah itu juga ada orang Filipina yang juga mengajar di sana. Guru-guru juga banyak yang alumni Universitas di Indonesia. Jadi banyak yang sudah mengerti bahasa Indo. Dari situ saya sangat bersyukur karena bayangan bahwa saya akan sulit berkomunikasi dan hanya hidup sebagai orang Indonesia sendiri ternyata salah. Ada banyak orang Indonesia atau setidaknya yang bisa bahasa Indonesia.

Tiba di sana, ada seorang murid yang langsung mengantarkan kasur untuk saya tidur. Alhamdulilah. Badan saya yang capek pada saat itu rasanya memang sangat butuh sekali kasur. Tapi karena sudah melalui perjalanan yang agak panjang barusan, saya mandi dulu sebelum tidur.

Karena di kampung, nampak jelas air yang digunakan untuk mandi itu bukan kayak yang PDAM di Surabaya. Bukan pula seperti air sumur di Madura. Itu semacam air bor yang langsung ngambil dari tanah. Jadi semacam masih ada keruh-keruhnya. Tapi no problem yang penting air alami dan bisa diambil bersih-bersihnya.

Sekolah tempat saya ini adalah sekolah asrama. Para muridnya disediakan kamar khusus untuk menginap. Hampir semuanya memang wajib menginap, kecuali hari libur. Hari liburnya pun hari Jumat dan Sabtu. Karena memang sekolah itu sekolah swasta yang cenderung ke agama. Kalo di Indonesia mungkin mirip pondok pesantren. 

Muridnya cukup banyak. Jika berkumpul semua, isi masjid full. Jika negara, sekolah itu layakanya negara yang berkembang seperti Indonesia, Korea dll, bukan taraf negara maju sepeti Amerika, Jerman, dll.

*sekolah khampee dari arah timur. Di sebelah masjid itu adalah bangunan tempat saya menginap. Belakangnya hutan dan jurang.

*Sekolah khampee dari arah selatan.

*sekolah khampee tingkat Annuban (TK)

*Di belakang itu adalah bangunan tempat saya tinggal selama 4,5 bulan di sana

Sekolah khampe ini terdiri dari beberapa tingkatan. Mulai dari Annuban (TK), PRATHOM (SD) sampai MATAYUM (SMP-SMA). Hanya murid di tingkat MATAYUM saja yang diharuskan menginap. Sedangkan di tingkat di bawahnya biasanya mereka pulang pergi. Bahkan tingkat Annuban dan prathom ini makan siang juga disiapkan pihak sekolah. Sedangkan tingkat MATAYUM biasanya murid-murid beli. Jam sekolah ialah dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Kebetulan saya diberikan kesempatan mengajar di MATAYUM. Jadi Alhamdulillah. Karena saya tidak begitu telaten mengajar anak kecil. Di Atthohiriyah saja dulu, saya memang lebih nyaman ngajar bagian dewasa. Ya orang tentunya beda-beda.

Besok harinya saya tidak langsung mengajar. Kholi memberikan waktu saya untuk istirahat terlebih dahulu. Lumayan, meskipun sudah istirahat di resort sebelumnya, tapi badan masih agak capek naik bis setelah melalui perjalanan yang agak panjang. Saya gunakan waktu itu untuk bersosialisasi, berkenalan dengan orang-orang terdekat. Khususnya para guru.

Dari sana saya kenal Abah. Abah ini adalah pemilik sekolah yang besar ini. Beliau  pewaris dari Haji Romli. Haji Romli adalah pendiri awal sekolah. Awal mula bersalaman dengan Abah di masjid saya kira beliau adalah orang kampung biasa yang sedang sholat di majsid sekolah. Saya belum sadar kalo beliau adalah pemilik sekolah. Tapi lama-lama, saya baru tau, karena yang menjalankan roda kepemimpinan sekolah semuanya adalah putra-putri beliau.

Beliau sangat ramah dan sering main ke tempat saya. Beliau juga adalah lulusan Bandung. Saya lupa universitasnya. Istri beliau juga keturunan Minangkabau. Yang jelas, kebetulan Abah agak klop dengan saya. Sebab beliau sangat suka berbicara mengenai politik, khususnya politik Indonesia. 

Kebetulan pada saat itu sedang ramai masalah Ahok di Jakarta. Jika datang ke kamar, beliau biasanya langsung memancing saya berbicara mengenai politik. Berbeda dengan teman sekamar saya, mas A, yang tidak begitu tertarik dengan politik. Awalnya, saya agak bingung darimana Abah dapet informasi mengenai politik Indonesia. Apa dari medsos atau apa. Tapi lama-lama, setelah saya beberapa kali masuk ke rumahnya, ternyata beliau memang punya tv khusus yang memang selalu menonton channel Indonesia. 
*Abah berkoko putih yang berjenggot

Saya dikasih gaji dan dikasih beras setiap bulan. Itu memang jatah wajib sesuai MoU. Mas A ini mendapat gaji yang cukup besar. Karena statusnya guru profesional. Sedangkan saya hanya volunteer. Tapi tetap saya kasih join dia beras. 

Sayangnya, WiFi sekolah jaraknya tidak Sampai ke tempat saya. Tapi Alhamdulillah fasilitas yang saya dapat di sana cukup baik. Meskipun jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, pasti ada kekurangan. Khususnya masalah WiFi itu. 

Kebetulan, saat itu, kita 74 volunteer, hanya bisa komunikasi via wa grup. Kita sering sharing mengenai keseharian dan fasilitas yang kita dapat. Dari sana saya tahu bahwa ada teman yang ditempatkan di sekolah yang letaknya di kota, dimana mobilitas dan fasilitas oke. Ada yang ditempatkan di suatu pulau terpencil daerah Krabi. Ya Krabi, surga wisata Thailand yang mashur karena keindahan alamnya. Ada teman yang diletakkan di rumah khusus di suatu kompleks. Ada yang tinggal di kamarnya para muridnya sendiri. Macam-macam. 

Dari sana kadang saya merasa iri. Dalam hati saya, kenapa saya harus ditempatkan di desa seperti ini. Hampir semua dari mereka menikmati fasilitas wifi. Bagi yang cowok dapat fasilitas motor. Tapi saya tidak. Karena tidak ada motor, saya agak susah untuk mobilisasi. Jadinya setiap mau keluar harus pinjam sepeda motor salah seorang guru. Tapi entah kenapa, padahal saya tidak pernah mengeluh atau bebicara mengenai ini, beberapa lama kamudian saya diberikan fasilitas motor khusus.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi sadar bahwa bisa jadi mereka yang menurut saya nyaman, sebenarnya ada punya satu sisi ketidak-nyamanan yang tidak saya ketahui. Ternyata asumsi saya benar. Ada mereka yang ditempatkan sendiri di sekolah yang lokasinya agak ke utara Thailand. Hampir semua orang lokal berbahasa Thai. Tidak pakai bahasa Melayu. Biasanya mereka yang berlokasi ke provinsi yang agak ke Utara ini memang populasi orang Melayu tidak begitu banyak. Jadi sehari-hari dia memakai google translate yang pakai voice. Sampai mengajar pun harus pakai google translate. Jadi benar-benar terasingkan. 

Ada juga yang hanya tinggal sendiri. Tinggal di sekolah yang bukan sekolah asrama. Tidak ada murid yang menginap. Jadi dia layaknya penjaga sekolah. Untung saja dia pemberani orangnya. 

Ada juga seorang teman yang tinggal serumah dengan orang Budha. Dia tinggal layaknya anak angkat dari orang Budha tersebut. Untungnya, orang Budha ini sangat baik. Tetapi di suatu saat teman saya ini pernah sangat panik karena merasa telah memakan daging babi. Eh ternyata bukan. Cuma salah sangka. 

Pada akhirnya, dia dipindahkan ke salah satu asrama pondok yang ditempatinya hanya untuk menginap. Adapun mengajarnya, tetap di sekolah Budha. Pokoknya macam-macam lah keadaan kita waktu itu. Positif dan negatif. Dengan berkiblat ke sana, setidaknya saya jadi agak bersyukur.

Sampai tiba waktunya saya sudah dikasih jadwal mengajar di sekolah. Saya sampai di sekolah jam 07:40. Kebetulan setiap hari, pada jam 07:45, dilaksanakan upacara. Upacara layaknya di Indonesia. Berbaris sambil bernyanyi lagu khas sekolah. Lagu khas sekolah hampir mirip dengan lagu aktivis mahasiswa, buruh tani. Tapi beda lirik saja. 

Kemudian diteruskan dengan langsung kebangsaan Thailand sambil menaikkan bendera. Itu dilakukan setiap hari. Nampaknya itu memang kebijakan pemerintah Thailand. Setelah ada pengumuman dari pihak sekolah. Saat waktu pengumuman itu saya diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri. Ketika berkenalan saya pakai bahasa Indonesia biasa dengan sedikit logat Melayu. Saya tidak tau mereka paham atau tidak. Yang jelas saya tidak begitu banyak bicara karena takut mereka tidak paham. 

Setelah saya selesai, seperti biasanya, para murid berjalan berbaris sambil bersalaman ke para guru. Murid perempuan salaman ke guru perempuan, yang laki-laki ke guru laki-laki. Itu dilakukan setiap hari. Bagi murid yang telat, ada hukuman yang biasanya diberikan oleh OSIS atau guru. Biasanya hukumannya adalah push up.
*Suasana upacara yang dilakukan setiap pagi

*ketika pertama kali memperkenalkan diri

*murid dihukum push up karena telat

Di waktu itu saya banyak berkenalan dengan orang-orang, khususnya para guru. Dari sana memang ada beberapa guru lulusan Indonesia. Yang saya tahu ada 3. Kemudian ada juga lulusan negara lain seperti Mesir, dan sebagainya. Saya punya jam mengajar hampir setiap hari. Tapi tidak full seharian. Disela-sela senggang itu biasanya saya gunakan untuk ke kantor bagian atas. Tempat saya dan guru-guru nongkrong. Atau jika malas, saya kembali ke bangunan tempat saya tinggal.
Share:

Pengalaman Menjadi Volunteer di Negeri Gajah Putih (Part 1)

Entah kenapa akhir-akhir ini saya ingin menceritakan kisah-kisah masa lalu. Meskipun saya sadar bahwa dalam bercerita mengenai kisah yang dialami sendiri, seharusnya saya bisa menuliskan waktu itu juga. Ini agar pembaca bisa merasakan euforianya secara langsung. Karena akan ada banyak tragedi dan feeling-feeling yang akan masuk dalam tulisan, yang apabila ditunda, bisa jadi tragedi dan feeling tersebut akan terlupakan. 

Tapi seenggaknya tujuan saya menulis agar saya bisa mengingat kisah-kisah yang saya alami 3 tahun yang lalu. Walaupun mungkin tidak akan begitu detail layaknya ketika saya langsung menuliskannya.

Kali ini saya tertarik untuk bercerita pengalaman saya ketika menjadi volunteer di salah satu daerah yang belum saya tahu sebelumnya, bahkan saya tidak pernah mendengar kalo ada komunitas dan daerah seperti ini.

Kisah berawak ketika saya masih di program sarjana. Saat itu masih semester 5,  ada pengumuman bahwa kampus sedang melaksanakan program KKN Internasional. 

Dalam program ini mahasiswa akan ditugaskan ke dua negara, Thailand dan Malaysia. Saya yang memang sangat senang berpetualang tentu tertaik dengan program ini. Sejujurnya, saya bukan tertarik untuk mengabdi dan lain-lain, saya hanya ingin mencari pengalaman baru dan berpetualang.

Pihak kampus nampaknya cukup serius dalam menjaring mahasiswa yang akan dinyatakan lolos ke program ini. Karena cukup banyak proses dan langkah yang harus dilalui. Mulai dari tes pemberkasan dan motivation letter, tes praktek dan wawancara, kemudian tes psikologi. Peminatnya pun cukup banyak. 

Saya  lupa berapa peminat awal yang mendaftar. Yang jelas, saat tes wawancara, saya melihat cukup banyak peserta yang menjalani tes, pengujinya pun cukup banyak.

Pada saat itu, saya tidak terlalu menggebu-gebu bagaimana caranya saya bisa lolos. Sebenarnya ikut itu pun saya cuman penasaran, walaupun dalam hati saya ingin berpetualang. 

Itulah yang membuat saya nampaknya tidak percaya saat saya benar-benar sampai di Thailand nantinya. Agak kaget pada saat saya harus tinggal selama 4,5 bulan lebih sendirian. 

Ketika tes administrasi dan motivation letter, saya mengirim berkas seadanya. Di motivation letter saya juga hanya bercerita mengenai pengalaman saya sebagai pengajar dulu di Ath-thohiriyyah. Selebihnya, hanya keinginan biasa. 

Namun ternyata saya lulus pemberkasan, sampai akhirnya tes wawancara. Di tes wawancara, penguji saya waktu itu adalah seorang Dosen yang saya tidak kenal tapi familiar. Karena beliau biasa sholat di masjid kampus. 

Di tes, saya ditanya banyak hal tentang agama, disuruh menulis kalimat dalam Al-Qur'an yang beliau bacakan. Agak banyak pertanyaannya. Yang terakhir yang saya ingat sampai sekarang adalah pertanyaan mengenai politik. Lebih tepatnya bagaimana pandangan kita tentang situasi politik di negara tujuan. Saya jawab dengan simpel pada saat itu bahwa kita sebagai WNA tidak berhak untuk ikut campur dalam kemelut politik negara manapun, sambil saya sebutkan pasalnya.

Singkat cerita, ternyata saya dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya. Tahap tersebut adalah assasement, tes psikologi. Tes tersebut kita hanya perlu menjawab pertanyaan sederhana, berkaitan kegiatan kita sehari-hari. Tapi pertanyaannya cukup banyak dengan waktu yang singkat. 

Tujuan tes itu adalah untuk mengetahui karakter kita. Di tes tersebut sebenarnya cukup mudah. Kita hanya perlu menyesuaikan visi misi kita terlebih dahulu sebagaimana visi misi organisasi penyelenggara. Kemudian tinggal menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Tes itu tidak lebih hanya ingin mengetahui apakah karakter kita sesuai dengan sosok yang ingin direkrut di program tersebut. 

Karena memang pihak penyelenggara menginginkan sosok yang nantinya akan berangkat adalah mereka yang sesuai dengan visi misinya. Untungnya, tes psikologinya cuman itu. Bukan tes psikologi yang harus mengisi angka dengan cepat, tes menggambar, dll. Pada akhirnya, di kampus saya, dipilihlah 5 Orang untuk  berangkat ke Thailand.

Akhirnya Alhamdulillah saya dinyatakan lolos. Saya tidak tau ada pengaruhnya apa tidak dengan nilai, tapi saat itu nama saya ada di urutan teratas. 

Kemudian secara mendadak pihak kampus (internasional office) meminta saya untuk sesegera mungkin melengkapi dokumen. Pada saat itu saya langsung mengajak Khoirul menuju Madura. Untung saja saya sudah punya passport, jadi saya tidak begitu repot mengenai dokumen pribadi.

Masalah dokumen pemberangkatan ternyata yang agak rumit.  Sebenarnya jika tinggal di Thailand kurang dari sebulan, kita tidak perlu repot-repot urus visa, karena sesama negara ASEAN tidak perlu mengurus visa jika kunjungan hanya kurang dari sebulan. 

Karena kita 4 bulan lebih di Thailand, maka kita harus urus visa. Pengurusan visa itu butuh kesabaran. Karena tujuannnya harus jelas.  Jika kita bekerja di sana, maka ada visa khusus. 

Sedangkan kita di sana adalah pengabdian. Ada beberapa pihak penyelenggara yang bertanggung jawab, termasuk kementerian pendidikan Thailand, pihak perbatasan selatan Thailand, pihak konsulat Thailand dan Indonesia, pihak kampus, dll. Maka pihak konsulat Thailand yang di Surabaya harus menunggu terlebih dahulu surat keterangan dari beberapa pihak tersebut. Sementara itu, sesuai schedule, sebentar lagi kita harus berangkat. 

Akhirnya, kita putuskan untuk berangkat terlebih dahulu meskipun belum mengantongi visa yang resmi. Hanya berbekal passport 

Tibalah hari dimana saya harus berangkat ke bandara. Saya berangkat bersama keluarga. Ternyata di bandara ada beberapa teman Arrisalah yang rela meluangkan waktunya ikut mengantar saya. Padahal pada saat itu jadwal berangkat adalah subuh. Di bandara, saya bertemu dengan calon volunteer teman-teman sekampus dan calon volunteer lain dari beberapa kampus di Jawa timur yang kebetulan satu flight. 

Flight kita langsung menuju ke bandara Kuala Lumpur di Malaysia. Dipilihnya Malaysia karena memang sangat cocok, sebab kita volunteer dari seluruh Indonesia dijadwalkan bertemu di sana.

*saya dan teman-teman sekampus saya saat pemberangkatan di bandara

Ketika di bandara, sempat ada masalah di imigrasi (engkapnya baca di sini).
Tapi kita bisa mengatasi. Tiba di sana sekitar pukul 9 pagi dan kita harus menunggu kawan-kawan dari seluruh Indonesia sampai sore. Sore baru kita berangkat untuk menjelajahi sebelah selatan semenanjujg Malaysia dari Kuala lumpur sampai ke perbatasan sebelah Utara Malaysia. Tapi sebelumnya, kita sempat berhenti di masjid Putrajaya. Sekedar untuk foto-foto.

*di masjid Putrajaya, Malaysia.

Kita baru sampai di perbatasan antara Malaysia dan Thailand besok harinya, sekitar jam 12 siang. Saat itu beruntung tidak begitu ramai pelancong, sehingga proses di imigrasi agak lancar. Selepas dari imigrasi,  kita langsung berhenti di warung dan menikmati masakan Thailand untuk pertama kalinya. Tepatnya di daerah Sadao.

*berhenti makan di salah satu warung di Sadao, Thailand

Sadao ini masih mayoritas Melayu, tapi semua tulisan dan bahasa yang dipakai sudah berbahasa Thailand. 

Makannya saya sudah merasakan situasi yang berbeda ketika melangkah melewati imigrasi. Sebab, meskipun wajahnya Melayu dan wanitanya kebanyakan memaki hijab, tapi tulisan yang tertempel di dinding semuanya berbahasa Thailand. Di sana saya juga melihat ada banyak anak kecil Sadao yang sekolah di Malaysia. Menarik, sejak SD sudah sekolah di luar negeri. Hehe

*Pada ladies berfoto ria di perbatasan

Di sana kita cuma sebentar, setelah makan dan sebagian dari kita membeli SIM-card, bis kembali bergegas. 

Kali ini saya tidak tau akan menuju kemana. Sepanjang jalan saya hanya mengamati sekitar. Nampak wajah-wajah masih dipenuhi wajah Melayu layaknya orang Malaysia. Tapi banyak bangunan-bangunan Budha berupa patung, dll. 

Saat itu kita masih berada di wilayah provinsi songkhla. Bis terus melaju, agak lama, saya sudah jarang melihat bangunan ibadah orang Budha. Saya malah banyak melihat orang berjilbab dan laki-laki berjubah dan berkopyah putih, sebagian memakai sarung. 

Agak heran, serasa bukan di Thailand. Karena Thailand pikir saya kayak yang di film-film itu. Muka agak kecina-cinaan, putih, dll. Sampai akhirnya bis berhenti di salah satu minimarket untuk sekedar istirahat. Saat itulah saya baru melihat dengan jelas memang orang-orang di daerah ini banyak sekali memakai pakaian islami. Yang cowok bersarung atau berjubah, yang cewek berjilbab dengan rapi.

Cuaca di sana agak panas. Bis kembali melanjutkan perjalan. Agak lama kamudian bis berhenti di suatu resort. Saya baru tau kalo wilayah itu bernama provinsi Patani. Orang Melayu menyebutnya Fathoni. Orang Thai menyebutnya Pattani.

Di resort, kita menginap sekitar semalam. Hari pertama kita sekedar berkenalan dengan teman seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 74. Kebetulan saya sekamar dengan teman-teman sekampus yang cowok, dan ketambahan satu anak Aceh. 

Saya sudah merasa klop dengan teman saya ini karena kebetulan sama-sama perokok dan suka kopi. Kita ngobrol di celah samping kamar. Keluar lewat jendela. Kebetulan resort itu hanya satu lantai. Teman saya ini juga memberi saya satu sachet besar kopi Gayo, kopi khas Aceh.

Malam harinya hanya cara seremonial biasa, sekaligus sebenarnya itu adalah malam perpisahan kita sebelum kita akan berangkat ke wilayah masing-masing. Kami berlima yang dari UINSA banyak menghabiskan waktu bersama. 

Kita adalah 3 cowok dan 2 cewek.  Kebetulan kita ditempatkan di provinsi yang berbeda, kecuali yang cewek, mereka satu provinsi. Saya di provinsi Yala, teman saya yang cowok di provinsi Naratiwat, cowok yang satunya agak jauh di Pattalung. Kemudian yang cewek sama-sama di Songkhla, tapi beda sekolah.

Singkat cerita, besoknya adalah acara seremonial di mana kita akan dipertemukan dengan perwakilan pihak sekolah yang akan membawa kita ke sekolahnya masing-masing.

Saya tidak tau sekolah saya itu akan seperti apa. Karena ketika saya seacrh di internet sekolah di wilayah Yala, keluarnya adalah sekolah dengan bangunan bambu yang sangat tradisional. Tapi saya sudah siap akan ditempatkan di mana pun. Karena semakin dipelosok, akan semakin memberikan pelajaran berarti bagi saya. Pikir say seperti itu. 

Tapi yang saya tau, nama sekolahan adalah Khampee Wityha School. Salah seorang pihak penyelenggara memberitahu saya bahwa arti dari Khampee itu Al-Qur'an. Dari sana saya berasumsi bahwa sekolah tempat saya adalah sekolah yang islami.

*acara seremonial di resort pattani

Pada saat acara seremonial. Saya  dipertemukan dengan perwakilan sekolah tempat saya. Orangnya ramah, berkopyah putih, muka Melayu. Belakangan saya tahu bahwa beliau adalah mudir di sekolah tersebut. 

Awalnya saya menyebutnya dengan Buya. Dia lancar berbahasa Melayu Malaysia. Sebab dia lulusan Pakistan dan punya banyak teman Melayu di sana. Saya tidak tau tempat sekolah saya ini di mana, saya hanya ikut saja. Selesai acara, Buya ini nampak agak terburu-buru, dia ingin langsung beranjak pulang. Sehingga saya langsung memasukkan koper saya ke mobil dan tidak sempat bersalaman ke teman-teman.

Sepanjang perjalanan, kita banyak mengobrol. Buya ini membawa salah seorang pelajar. Untungnya pelajar ini juga fasih berbahasa Melayu Malaysia. Katanya, dia pernah tinggal di Malaysia sebelumnya. 

Oh iya bahasa Thailand selatan itu sebenarnya juga bahasa Melayu. Tapi bahasa Melayu Utara. Agak berbeda dengan Melayu Malaysia. Ibarat bahasa Jawa mereka itu ngapak. Logatnya juga berbeda. Jadi agak sulit dimengerti.

Jalanan di Thailand cukup bagus. Jalanannya besar dengan sedikit kendaraan. Maklum populasi Indonesia dan Thailand agak jauh. Menyadari perjalanan sudah agak panjang dan tidak kunjung sampai. Saya coba bertanya ke Buya ini. Saya penasaran apakah sekolah tempat saya ini nantinya di desa atau di kota. Saya berbasa-basi hingga saya sudah tau bahwa sekolah ini letaknya di desa dan perjalanan masih agak jauh.

Mobil berhenti di suatu tempat. Saya kira bangunan itu tidak berbentuk sekolah. Tidak mungkin kalo sudah sampai. Ternyata iya. Kita berhenti di supermarket yang cukup besar. Saya diajak masuk. Di dalam, agak berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia tempat sebagus ini biasanya dipenuhi orang-orang necis dan berpenampilan menarik. Ternyata di sana saya melihat orang berjubah dan bersarung. Saya jadi teringat di Madura. Dimana jika ke mall di Madura, pasti akan banyak orang bersarung seperti ini.

Buya ini ternyata membelikan saya beberapa  barang. Sembari menunggu di Buya ini selesai belanja, saya keluar mengajak si murid. Saat itu saya langsung memesan kopi. Kesan saya, kopi di sana cukup enak. Ketika Buya sudah selesai belanja. Baru kita melanjutkan perjalanan. Setelah itu saya baru tau kalo kita baru sampai di ibu kota provinsi. Kita masih harus melanjutkan perjalanan ke desanya.

Mobil terus melaju. Ketika Maghrib kita berhenti sholat di masjid pinggir jalan. Saya agak heran ketika melihat tempat wudhu-nya yang serupa dengan tempat wudhu di pondok saya. Tempatnya seperti bak mandi terbuka. Tempat wudhu seperti ini mungkin sudah tidak ada di masjid-masjid Indonesia. Adanya mungkin di pondok-pondok salaf yang masih konservatif. Di sana saya sadar kalo saya memang akan ditempatkan di kampung.

Setelah isya' kita baru sampai di sekolah. Saat itu saya agak capek, jadi cuma melihat sekolah dengan sekilas saja. Yang jelas, sekolahnya agak besar. Tapi di kampung. Saya dibawa ke suatu tempat di mana di sana ada bangunan. Saya baru tau kalo itu bangunan khusus guru. Di sana ada dua bangunan. Satu bangunan untuk guru di sana. Bersambung......
Share:

Dialog Tanpa Emosi

Dialog adalah proses penting dalam hubungan antar manusia. Hubungan antar manusia, bahkan antar negara sekalipun, bisa dibangun dan runtuh karena dialog. 

Manusia yang lebih cakap dalam berdialog akan lebih mudah bahagia dan sukses di masa depan. 

Networking sebagai salah satu media untuk menggapai kesuksesan sangat sulit tercapai tanpa teknik dialog yang baik. Perjodohan, bisnis, bahkan hubungan buruk atau tidaknya suatu negara bisa tergantung dari bagaimana mereka berdialog. 

Dialog akan menjadi kunci hidup manusia ke depannya. Sukses atau tidak. Bahagia atau tidak. Kaya atau miskin. Sangat tergantung dari bagaimana caranya berdialog. Sedangkan emosi adalah ruang dalam hidup berupa perasaan yang muncul karena suatu kejadian. 

Emosi dalam diri manusia bisa berbentuk senang, marah, takut dan lain sebagainya. Emosi dalam hubungan antar manusia seperti ketika seseorang berkata kasar pada orang lain maka dia akan marah.

Salah satu rupa dialog yang tidak baik adalah dialog yang tidak fokus pada subtansi permasalahan. Mereka terlalu melibatkan emosi dalam dialog. Seperti contoh, Ratna adalah teman dekat Rika untuk mengerjakan tugas bersama. Tatkala Ratna sedang nugas, Rika membuat kopi untuknya. Ternyata kopinya terlalu pahit. Dengan emosi Ratna protes. "Rik, kopinya kok agak pahit ya", dengan sedikit bercanda. 

Rika menimbali Ratna dengan emosi, “Rat, kalo kamu gak suka kopi yang saya buat, kamu buat aja sendiri. Aku udah susah-susah buatin kamu kopi. Tapi malah kayak gitu.“ akhirnya permasalahan semakin panjang, Rika ngambek dan agenda nugas bersama gagal. Dalam percakapan tersebut, ada pergeseran pokok topik antara si Ratna dan si Rika, yang awalnya protes mengenai kopi yang pahit menuju subjek pembuat kopi yakni Rika. Subtansinya dalah kopi yang pahit. Sering kali topik dialog manusia, tidak fokus pada subtansi melainkan subjek. 

Inilah yang kemudian banyak menimbulkan konflik di antara manusia dan menghambat peluang networking. Seandainya Rika sadar bahwa memang kopinya terlalu pahit, kemudian tanpa melibatkan emosi dia mencari tau kenapa kopinya pahit, itu akan menyelesaikan permasalahan saat itu juga. Bahkan si Ratna akan lebih menghargai Rika karena ketulusannya. 

Atau jika Rika memang merasa tidak setuju dengan sikap Ratna, maka dia bisa berdialog dengan baik yang tidak menunjukkan ekspresi emosi marahnya, semisal dia minta maaf dan Ratna bisa mengambil gulanya sendiri atau dengan kalimat lain yang tidak menunjukkan emosinya. 

Atau seandainya Ratna mengekspresikan emosi ketika tau bahwa kopinya pahit, bisa jadi Rika tidak akan marah. Semisal Ratna mengatakan pada Rika bahwa seleranya adalah kopi manis dan dia akan mengambil sendiri gulanya. Maka konflik tidak akan terjadi.

Melibatkan emosi dalam dialog seperti inilah yang kemudian meruntuhkan jejaring dan menghambat peluang-peluang antar manusia. Bisa jadi kelak Ratna atau Rika menjadi HRD di perusahaan yang diimpikan salah satu di antara mereka, atau sebelumnya mereka berdua adalah sosok yang saling membantu ketika yang lain ada masalah, karena emosi dalam dialog kopi, hal-hal tersebut hilang dengan seketika.

Contoh lain seperti pada saat perjalannya ke tempat kerja, mobil A tidak sengaja menyenggol mobil si B. Dari peristiwa itu, kemudian si B turun dari mobil, dia emosi dan memaki-maki si A, bahkan si B sampai memukul si A beberapa kali. 

Padahal, si A sudah mengakui kesalahannya dan bersedia mengganti rugi. Atas ulahnya itu si A akhirnya tidak terima kemudian melaporkan apa yang dilakukan si B ke pihak yang berwajib. Tingkah si B ini tentu sangat disayangkan, padahal seandainya si B mau berdialog dengan damai tanpa emosi, dia akan mendapatkan ganti rugi, bahkan bisa jadi dia juga akan mendapatkan laba dari asuransi. Tapi karena terlalu melibatkan dan mengekspresikan emosi marahnya, dia yang seharusnya beruntung malah merugi. Bahkan harus mendekam di penjara selama beberapa tahun.

Contoh-contoh di atas adalah contoh bagaimana dialog yang terlalu melibatkan emosi marah itu tidak baik. Kemudian bagaimana dengan emosi senang dan takut? Sejatinya sama saja. Terlau melibatkan emosi senang dalam dialog akan menjadikan pergeseran pokok topik dari subtansi dialog, apalagi emosi takut. Perasaab takut akan menyebabkan banyak problem tidak selesai. 

Masalah yang secara efisien teratasi dengan sangat mudah dengan dialog, karena ada perasaan takut akhirnya tak kunjung selesai. Padahal emosi takut dalam diri manusia tidak datang dari apapun kecuali pikirannya. Takut dan berani berada dalam posisi berdampingan yang dipisahkan oleh garis lurus. Garis lurus itu akan hilang dengan sendirinya dalam kondisi emergency. 

Contoh kecil bagaimana mahasiswa yang takut bersuara untuk menyuarakan pendapat ketika dosen bertanya kepada seluruh mahasiswa di kelas, tapi suara itu otomatis keluar ketika dosen menunjuknya, meskipun dengan gemetar. Artinya emosi takut memang datang dari diri sendiri yang tanpa bantuan siapapun manusia bisa mengatasinya sendiri. Emosi ini banyak menghambat kesuksesan sebagaimana mahasiswa yang takut menghadap seorang dekan karena suatu probelm. Padahal seandainya dia datang kemudian berdialog tanpa melibatkan emosi takut selayaknya dengan teman biasa, problem itu bisa jadi selesai seketika itu juga.

Hendaknya dalam dialog manusia tidak terlalu mengedepankan emosi. Fokus pada subtansi dan pokok permasalahan yang dituju. Jika kemudian pokok topiknya adalah kopi yang pahit, maka fokusnya adalah bagaimana menjadikan kopi itu tidak pahit, apakah dengan menambahkan gula atau menggantinya dengan kopi baru. Atau jika topiknya adalah mobil yang rusak dan harus ada uang ganti rugi karena kerusakan, seharusnya fokus dialog harus tertuju ke sana, dengan tanpa terlalu melibatkan emosi marah yang kerap kali hanya akan menjadikan permasalahan semakin runyam. Atau jika pokok masalahnya adalah dia punya problem di perkualiahan dan solusinya harus menemui dekan, maka dia harus berdialog dan menyingkirkan rasa takutnya, maka problem akan selesai.

Dengan contoh-contoh di atas bukan berarti emosi itu dilarang dalam dialog. Emosi dibutuhkan karena tanpa emosi manusia akan kaku. Emosi tidak akan pernah luput dalam diri manusia, namun yang terpenting bagaimana manusia bisa menakar dan mengekspresikan emosi itu di waktu dan tempat yang tepat. Seperti meluapkan emosi kesedihan dengan curhat dan menangis kepada teman dekat ketika sedang menghadapi masalah, karena hal itu akan membuang sampah-sampah emosi di alam bawah sadar yang jika dibiarkan akan meledak. Atau emosi rasa takut ketika manusia tau bahwa harus berhadapan dengan hal yang sudah terjadi secara ril. Karena emosi itu akan menjadi bahan pertimbangan objektif dalam membuat keputusan.
 
Fokus pada subtansi dan pokok topik permasalahan bukan berarti manusia harus berfikir sangat panjang. Ada suatu cerita, ada seorang anak muda yang kebetulan tempat duduknya berdampingan di kereta. Karena tidak punya jam tangan kahirnya dia bertanya kepada seorang bapak-bapak di sebelahnya. “Bapak sekarang jam berapa?” si bapak tersebut hanya diam. Pemuda itu bertanya lagi. “Bapak sekarang jam berapa?” sampai beberapa kali pertanyaan, si bapak masih diam hanya fokus pada korannya. Akhirnya si anak muda itu memukul korannya dan menegur si bapak. “Bapak ini sombong sekali ya. Saya cuman tanya jam malah gak dijawab.” 

Dengan emosi bapak itu menjawab, kalo saya menjawab pertanyaanmu sekarang jam berapa, kamu pasti akan melanjutkan dengan pertanyaan, saya mau kemana, dan itu terpaksa harus saya jawab. Kemudian kamu akan bertanya lagi saya namanya siapa, tepaksa harus saya jawab. Kamu tanya lagi saya rumahnya dimana, terpaksa harus saya jawab. Sampai kemudian kita akan mengobrol mengenai keluarga, kamu bercerita tentang keluargamu dan saya terpaksa harus bercerita mengenai keluargaku. Kemudian kamu akan tau jika aku punya anak perempuan yang cantik, kamu akan tertarik, lalu pacaran dengannya. Padahal saya tidak akan pernah memberikan puteri saya kepada pemuda yang bahkan jam pun tidak punya.

Dialog adalah media yang sangat penting untuk memperoleh kebahagiaan hidup, yang bisa jadi bentuknya adalah kesuksesan, kaya raya, jabatan dan yang lainnya. Dialog dapat menjadi kunci dalam menggapai hal tersebut. Oleh sebab itu diperlukan kiat-kiat yang baik dalam berdialog, salah satu caranya adalah dengan tidak begitu melibatkan emosi. Biarkan dialog mengalir begitu saja sebagai kedudukannya media yang menghubungkan antar manusia. Bukan sebagai media mengekspresikan emosi yang ada di dalam diri. Emosi punya tempat dan waktu sendiri untuk diekspresikan.

correct me if I have some mistakes!

Share:

The best Car Insurance in USA


The best car insurance is not always the cheapest. Buying a new insurance policy based on price alone is attractive, but you need a company to help you file a claim. After all, you don't want to pick the cheapest auto insurance deal only to find out it doesn't offer the protection you need.

Our ranking of the best car insurance companies will help you find the best car insurance for you based on pricing data and real customer feedback.

What is the best car insurance?
USAA is the best auto insurance company, but you need military affiliation to get one. If you don't qualify for USAA, State Farm is the second best auto insurance company on the data.

We asked real customers from nine major auto insurance companies across the country about their experiences. Your feedback provides valuable insights into how well these companies are serving their customers and will help you decide which insurance company is best for your business.

We used this survey to identify the best insurance companies in the country and the best in customer service, billing, and customer retention. It also identifies the insurance companies most likely to renew and is recommended by policyholders.

Best car insurance
1. United States

USAA is the best car insurance we have found. In our research, USAA's customers said they were very pleased with the customer service of this insurance company. They also like the company's easy billing process and frequent billing status updates.

The only downside we found in this company is its limited availability. USAA only serves veterans, military personnel and their families. As a result, many consumers are not covered by USAA insurance.

2. State Ranch

State Farm is easy to bill, according to most survey respondents. Many of the respondents plan to update their policies. If you don't have a military affiliation, State Farm is also the best car insurance company.

State Farm received a slightly lower rating when it asked customers if they were happy with updating the company's status during the billing process. State Farm insured drivers report that the company is offering value for money overall.

3. Geisha

Geico is the third best car insurance company in the ranking. Consumers who claim generally agree that Geico facilitates the process. Most survey respondents also report that they plan to update their policies and are likely to recommend Geico to family and friends. However, Geico outperforms its competitors in terms of value, despite its overall low price and excellent customer service.

4. Nationwide

It has consistently and generally scored good scores nationwide, but has not proven to be significantly better than any field of competition. Nationally, there are some drawbacks that prevent it from becoming the top three car insurance companies in our ranking. Some respondents said they were dissatisfied with updating their national status during the billing process or in the way the bill was resolved.

5. Farmer

The farmer landed in the middle of our ranking. Survey respondents appreciated the insurance company's satisfaction with claim processing, customer service, and value. However, when the driver asked his friends and family if he would recommend the company, the Farmers score was slightly lower and overall satisfaction was mediocre.

6. American family
When it comes to examining respondents' satisfaction with complaint resolution, American families are at the bottom of the list. Nevertheless, American families enjoy customer loyalty. The company is at the top of the list for customers who say they are likely to update their policies. American Family policyholders can also recommend the company to friends and family.

7. Progressive
Energetic advertiser Progressive Flo may be the number one advertiser hub, but Progressive is the number seven insurance company on our list. This insurance company has the highest score for ease of billing and filing with customer service. However, Progressive still lags behind most of its competitors in this area. Many competitors achieve higher satisfaction in terms of value and plan to have a higher percentage of advanced customers with fewer updates than any other company.

8. Travelers
As would be expected from a lower-rated insurer, Travelers customers do not report high levels of satisfaction in most areas measured in our survey.

Drivers who make complaints to Travelers are not happy with how it was resolved, and many don't believe Travelers is offering a fair price. Interestingly, travelers received a decent score when asked if they would recommend it to friends and family, but received a low rating when asked if they would update their policy.

9. All States
The majority of respondents who complained to Allstate indicated that they were satisfied with the simplicity of the process but were dissatisfied in most other areas. Allstate ranks higher than any other company in the ranking, so it has a lower perceived value. In addition, Allstate customers are less likely to renew their insurance policies than competitors' customers.

Who has the best car insurance?
In addition to identifying the best car insurance companies overall, our research has helped determine how these companies work in five key areas. We identify companies with the best customer service, complaint handling, and customer loyalty. Other companies are more likely to renew their policyholders or recommend them to friends.

USAA has swept these five sub-rankings and has taken the top spot in the overall ranking of the best car insurance companies. However, not all policyholders meet USAA membership requirements. Therefore, we have identified runner-ups in each category so that all consumers can seek out the best options in each of these areas.

We asked policyholders to rate their experience at an insurance company on a five-point scale and explain why. Respondents were divided into two groups: the group that signed insurance contracts over the last five years and the group that filed claims. The last group received additional questions about their satisfaction with the process during and after filing the claim, and their satisfaction with the processing of the claim.

This information is aggregated into the following sub-rankings to identify the companies with the highest customer satisfaction in a particular area.

Great for customer service: State Farm
If you're not USAA qualified, but customer service is your number one priority, check out State Farm. According to our research, State Farm customers are generally more satisfied than their competitors.

One of the unique advantages of State Farm is that it has local offices in many areas. This provides a more personalized customer service experience compared to insurance companies that offer phone and web-based interactions. "If you have a problem, you can go to their office and talk to real people who are members and supporters of our community," said one respondent.

Ideal for processing complaints: national
The best result with car insurance is that you don't have to use car insurance, which is unlikely. When it comes time to file a complaint, Nationwide is the best choice for consumers who want the complaint process to be as easy as possible. Of the survey respondents who made accusations nationwide, 76% were completely satisfied with the allegation reduction, 62% were very satisfied with the extension of the charge status, and 74% were very satisfied with the settlement of the allegation.

Great for customer loyalty: State Farm
Our survey scoring methodology measures customer loyalty based on responses to various questions. According to the USAA, State Farm enjoys the highest customer loyalty in the rankings, usually with high scores and positive customer feedback. Respondents cited competitive prices and excellent customer service as highlights of the State Farm experience.

Most likely to recommend: Geico
According to our research, Geico customers are more likely to recommend the company to friends and family. This is a good measure of overall customer satisfaction. About 41% of respondents who did not file a complaint said they would be highly likely to recommend Geico, and around 41% of respondents who only made a complaint accounted for 49%.

Most likely updated: State Farm
If auto insurance companies retain most of their customers when they renew their insurance policies, they are doing the right thing. According to our research, with the exception of USAA, State Farm is ideal for customer retention, indicating a high level of satisfaction. About 61% of State Farm customers who have filed a complaint are likely to renew their policy, and another 20% are more likely to renew.







Share:

Logika, Etika dan Estetika Dalam Beragama


Logika, etika dan estetika adalah bagian dari filsafat yang berhubungan dengan pola pikir dan prilaku manusia. Dalam bahasa yang lebih mudah, logika adalah cara berpikir manusia mengenai benar dan salah; etika, mengenai baik dan buruk;  dan estetika, mengenai indah dan jelek.

Tiga sudut pandang tersebut akan berdampak pada prilaku manusia di kehidupan nyata, pun aktivitas beragamanya. Untuk mencapai esensi agama yang sebenarnya, manusia harus bisa meletakkan ketiganya sebagai sesuatu yang imperatif, namun tetap dalam porsi dan herarki yang dibutuhkan.
Logika atau cara berfikir yang bertumpu pada benar dan salah dalam beragama mencerminkan bagaimana upaya manusia agar praktek ubudiyyah dan amaliyahnya dapat sesuai dengan tuntunan. Dalam Islam, ini adalah bentuk ijtihad dan ikhtiyar supaya seorang muslim bisa mengimplementasikan keyakinannya dalam beragama berdasarkan petunjuk dan nilai-nilai keislaman yang dibawa oleh Rasul.

Seorang muslim harus meraih nilai-nilai tersebut melalui ilmu agama yang dicari secara intensif, kontinuitas dan bersanad serta digali dari berbagai perspektif. Hal ini dikarenakan nilai-nilai logika yang terkadang kontradiktif antara saintifik dan normatif maupun progresif dan konservatif. Tanpanya, nilai-nilai logika dalam beragama bisa jadi malah berdampak pada dzillun mudzillun(sesat dan menyesatkan).

Dalam Islam, ada dua sumber utama dalam menggali nilai-nilai kebenaran: al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan dalil al-Qur’an dan as-Sunah yang memuat aturan hukum ahli ushul membaginya menjadi 2 bagian: dalil qoth’i (jelas) dan dalil dzonni (multi tafsir). Dalil qoth’i sebagaimana contoh kewajiban melakukan wudlu sebelum sholat. Di dalam Surat al-Maidah:6 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka cucilah muka-muka kalian dan tangan-tangan kalian sampai ke siku, usaplah kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki”. Dalil tersebut mempunyai arti bahwa muslim yang ingin melakukan sholat, dia harus melakukan wudlu’ terlebih dahulu. Semua ulama sepakat mengenai hal itu.

Sedangkan dalil dzanny seperti tatacara pelaksanaan wudlu’ secara rinci. Sebagaimana di dalam a-Qur’an pada ayat yang sama, yang hanya menyebut wamsahu biruusikum atau “usaplah kepala kalian”. Sebagian ahli fiqh berbeda pendapat mengenai hal ini. Ulama Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa dengan mengusap sebagian kepala, bahkan hanya beberapa helai rambut sudah mencakup dari apa yang dimaksudkan ayat tersebut, Madzhab Maliki dan dan Hambali mewajibkan mengusap seluruh kepala, sedangkan Madzhab Hanafi seperempat kepala. Ini berarti nilai-nilai logika yang mencerminkan kebenaran dalam Islam sangat luas cakupannya. Bisa jadi satu realita terdiri dari beberapa logika yang berbeda, namun pada dasarnya tetap mencerminkan nilai-nilai kebenaran yang sama.

Etika sebagai realisasi dari pandangan manusia mengenai baik dan buruk juga merupakan faktor imperatif dalam beragama. Secara herarkis nilai-nilai dalam etika juga harus disetarakan dengan logika. Banyak hadis Nabi yang berbicara mengenai urgensi etika, yang paling mashur sebagaimana hadis Nabi “Sesungguhnya saya (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik” (H.R. Ahmad), dan hadis yang lain ketika Rasul ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” (H.R. Tirmidzi).

Kedua hadis di atas memperjelas bahwa posisi etika dalam agama Islam juga tidak boleh dinomerduakan. Artinya, ketika manusia berbicara mengenai Islam, dia tidak hanya berbicara mengenai tatanan hukum yang mengatur benar dan salah, tetapi juga tatanan etika: baik dan buruk.

Problematika dewasa ini adalah sudut pandang yang dipakai dalam beragama hanya bertumpu pada nilai-nilai logika yang cenderung subjektif dan kontradiktif, kemudian melupakan etika. Maka yang terjadi adalah manusia saling serang dan masing-masing mengklaim bahwa nilai-nilai kebenaran yang ada di dalam pikirannya merupakan kebenaran sejati. Padahal hakikat kebenaran sejati hanya bisa dilihat ketika di surga. Sejalan dengan pendapat Jalaluddin ar-Rumi: “Kebenaran bagaikan selembar cermin di tangan tuhan. Jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, lalu berpikir telah memiliki seluruh kebenaran”.

Oleh sebab itu peran etika sangat penting. Karena dengan dibarengi etika, logika yang berpotensi menimbulkan konflik akan dapat dikikis dengan nilai-nilainya yang santun dan mendamaikan. Dalam contoh amaliyyah, ketika seseorang menyampaikan pendapat mengenai apa yang berdasar logikanya salah, dia juga harus menjaga perasaan orang lain yang menganggap bahwa itu sesuatu yang benar. Sinergi dari dua sudut pandang tersebut kemudian akan melahirkan estetika. Estetika merupakan puncak dari seluruh nilai yang harus dicapai dalam beragama. Meskipun sifatnya abstrak, estetika dalam beragama merupakan hal yang cukup sulit dicapai. Karena banyak manusia yang masih sulit menyinergikan logika dan etika.

Sedangkan dalam ubudiyyah, contoh kecilnya adalah ketika seseorang melaksanakan sholat. Orang yang sedang sholat, secara logika atau ketentuan hukum, dia yang hanya memakai celana sepertiga, asalkan di atas pusar dan di bawah lutut, sudah dihukumi sah. Namun tentunya itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai etika seorang hamba terhadap tuhannya. Hamba yang menghadap tuhannya dengan busana seperti itu tentu bukan hamba yang baik. Oleh sebab itu dia harus memakai pakaian yang lebih tertutup dan sopan. Setelah dua sudut pandang tersebut dilakukan dengan sempurna, baru kemudian dia bisa mencapai nilai-nilai estetika. Nilai esetetikanya adalah ketika dia bisa menjalankan sholatnya dengan penuh ketenangan dan kedamaian sebagaimana dalam hadis: “An ta’budallah ka annaka tarahu, faillam takun tarahu, fainnahu yaraka” (Engkau menyembah kepada Allah, seperti engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya tuhanmu melihatmu). (H.R. Muslim).  

Share:

G30S/PKI dalam Pandangan Prof. Salim Said

Gstapu Adalah Daulat

1965, di tengah situasi politik yang lebih menguntungkan PKI, beberapa pihak yang tidak menginginkan komunis berkuasa di Asia Tenggara mencoba untuk memainkan teori domino. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum terjadinya gestapu, DN Aidit sempat berkunjung ke Rusia. Pada kunjunganya sempat terjadi perdebatan sengit antara Aidit dan salah satu pembesar Komunis Rusia. Mereka membicarakan perbedaan pendapat mengenai komunisme antara Rusia dan China, namun ternyata Aidit lebih memihak ke China sehingga menyulut amarah pembesar komunis Rusia tersebut. Dia berkata bahwa suatu saat akan menghancurkan komunis Indonesia. Tak heran jika setelah terjadinya gestapu, banyak pihak menuding pemrakarsa manipulasi dokumen gilkrift adalah GKB (Badan intelijen Rusia).

Gestapu merupakan salah satu operasi militer yang mayoritas eksekutornya adalah pasukan cakrabirawa (paspmapres). Bisa jadi gestapu adalah operasi yang gagal total sesuai dengan rencana awalnya, atau bahkan memang sengaja digagalkan oleh salah satu pihak yang mempunyai kepentingan.

Sebagaimana history revolusi bangsa Indonesia yang tidak lepas dari pendaulatan (penculikan tokoh agar dia mau melakukan sesuatu), seperti yang dilakukan oleh para pemuda terhadap Soekarno-Hatta agar secepat mungkin meproklamirkan kemerdekaan, atau penculikan terhadap Syahrir sebagai perdana mentri waktu itu dengan maksud pemberhentian perundingan dengan pemerintahan kolonial. Semua proses penculikan terlaksana dengan sukses tanpa melukai tokoh tersebut sedikit pun. Gestapu juga merupakan salah satu upaya pendaulatan dengan melakukan operasi penculikan terhadap tujuh jenderal. Hal ini ditenggarai ditemukannya dokumen glkrfit yang dibawa oleh duta besar Inggris di Jakarta kepada para jenderal tersebut.

Namun pada saat gerakan pendaulatan, operasi yang dituding Soekarno juga terlibat didalamnya itu disusupi oleh beberapa pihak yang mempunyai agenda politik khusus, seperti Syam Qamaruz Zaman dan beberapa biro khusus PKI yang lain. Tidak heran jika kemudian banyak kesaksian eksekutor gestapu bahwa mereka tidak tahu menahu secara rinci apa tugas yang harus dilakukan, karna memang perintah yang di berikan bersifat general.

Dalam hal ini ada bebera pihak yang di tenggarai terlibat kasus tersebut:

1. Soekarno
Soekarno. Semenjak dilantik jadi presiden pada 1945, hubungan Soekarno dengan tentara memang penuh dengan dinamika. Hal ini disebabkan oleh peristiwa agresi militer 2 Belanda ketika akan memasuki daerah Jogjakarta. Pada saat itu, jenderal Sudirman yang sedang sakit mengajak Sukarno untuk turut bergrilya masuk ke hutan sampai Indonesia benar-benar memperoleh kemenanangan. Namun Soekarno menolak dan mengajak Sudirman untuk menetap di Jogja saja, dan berjanji akan memanggil dokter Belanda agar dia diberikan perawatan. Namun bagi Soedirman, sebagai tentara yang mengadopsi kuat sumpah jabatan, hal seperti itu adalah sebuah penghianatan. Soekarno sebagai sipil dan politisi ulung, tentunya mempunyai pandangan yang berbeda, setiap sesuatu tidak harus diselesaikan dengan perang, kadang peluang kemenangan bisa terbuka dengan beberapa konsipirasi selimut dalam ruang.

Pada tahun 1965, yang menjadi Pangab (Panglima ABRI) adalah Ahmad Yhani. Dia berhasil menjadi penglima setelah Soekarno melengserkan Nasution, hal ini terjadi karna Nasution cukup radikal dalam menentang NASAKOM, ideologi yang di elu-elukan Soekarno pada dunia. Yhani yang cukup pintar, pura-pura mendukung NASAKOM agar Soekarno tidak begitu berpihak ada komunis. Maka tak heran jika Yhani cukup dipercaya oleh Soekarno. Meskipun beberapa waktu setelahnya, hal itu tdak terjadi lagi karna Soekarno mendengar cerita bahwa akibat radikalisme pandangan Nasution tentang Soekarno dan NASAKOM, Yhani akan melakukan serangan terhadap Nasution.

Hal lain yang juga membuat Soekarno kehilangan dukungan tentara salah satunya semenjak Inggris memberikan kemerdekaannya terhadap Malaysia. Soekarno sangat menentang karena menanggap bahwa negara tersebut hanya sebagian dari neokolonialisme yang akan mengancam Indonesia terhimpit dari dua arah. Malaysia bagian utara dan Australia di bagian selatan.

Soekarno geram karna merasa dikhianati oleh pemimpin Malaysia waktu itu yang telah melanggar perjanjian Manila. Perjanjian yang dihadiri oleh Soekarno, PM Malaysia dan Presiden Philipines. Hasil dari pertemuan tersebut ialah menyerahkan kedaulatan masyarakat di Kalimantan utara terhadap mereka sendiri dengan cara referendum. Namun ternyata PM Malaysia melalui koloninya langsung memproklamirkan bahwa kalimantan utara dibagian Sabah dan Serawak adalah negara bagiannya. Dengan beberapa upaya Soekarno mencoba mengirim pasukan ke perbatasan untuk melakukan propaganda, sementara sebagian tentara yang lain sudah melakukan kontak fisik dengan tentara Inggris.

Kesalahan Soekarno pada saat itu karna yang ditunjuk sebagai komandan perang adalah seorang KSAU yang masih Junior, Omar Dhani. Hal ini menimbulkan kecemburuan di kalangan para senior tentara, lebih-lebih Soeharto, Panglima kostrad yang ditunjuk sebagai wakil komandan perang di bawah juniornya. Lagi pula, para senior tentara menganggap bahwa Omar Dhani tidak mempunyai pengalaman perang yang mumpuni.

Maka ketika dokumen gilkrift tersebar dan disadari oleh Presiden, ada semacam ketakutan bahwa dirinya benar-benar akan dikudeta oleh para Jenderal. Oleh sebab itu ada asumsi bahwa gestapu memang diperintahkan oleh Presiden. Namun bukan untuk pembantaian, melainkan pendaulatan, dengan menculik tanpa menyakiti. Meskipun kenyataan yang terjadi berbeda, karna mungkin perintah tersebut sudah disusupi oleh beberapa kepentingan.

2. Internal angkatan darat
Di samping karena bentuk kekecewaan tentara terhadap Soekarno karna kesalahan memilih komandan perang, Krisis ekonomi yang sangat parah saat itu juga membuat masyarkat kecewa terhadap 20 tahun pemerintahan Soekarno, tidak terkecuali tentara. Tentara sebagai basis terdepan yang menolak PKI menganggap bahwa PKI adalah salah satu elemen yang mengancam keutuhan NKRI kelak, karena terbukti bahwa sepenjang sejarah PKI memang sering melakukan pemberontakan, termasuk di Madiun pada 1948 dan beberapa peristiwa di luar negeri.

Hal lain yang membuat hubungan PKI dan tentara memanas adalah karna pada saat itu PKI yang mempunyai basis kekuatan cukup banyak tersebar di beberapa sektor pemerintahan, mencoba meyakinkan Presiden dengan program angkatan lima, sebuah program yang mendorong agar rakyat sipil juga di persenjatai oleh negara.

Bisa dikatakan bahwa tentara pada masa itu dibagi menjadi 3 bagian: pertama, ialah pasukan Nasution. Nasution sebagai Jenderal senior sangat antipati terhadap Soekarno. Hal ini juga yang membuat dia pernah mengarahkan moncong meriam ke istana untuk memaksa Soekarno agar membubarkan perlemen pada tahun 1953. Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh Soekarno dengan membantah bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Nasution juga bersebrangan dengan Presiden mengenai NASAKOM karena memang Nasution sangat alergi terhadap komunisme.

Kedua, A Yhani. Yhani yang cenderung moderat mencoba merangkul semua elemen NASAKOM. Ini dilakukan agar Soekarno tidak terlalu dekat dengan PKI. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan Nasution yang radikal dan antipati, sehingga Yhani pernah mengusulkan untuk menyingkirkan Nasution, meskipun ide itu ditolak oleh senor tentara yang lain.

Ketiga, Soeharto. Soeharto yang sudah aktif sebagai tentara pada masa revolusi, pada saat itu sudah menjabat sebagai panglima kostrad. Dia merasa bahwa kolega-koleganya yang berbasis di Jakarta sudah sangat hedonis dan feodal terhadap dirinya. Hal ini bisa dilihat dari pola dan cara hidup bagaimana tentara dibawah resimen Nasution dan Yhani hidup cukup megah, dan bagaimana tentara kostrad hidup sederhana. Itu terbukti dengan cerita bahwa Soeharto dulu pernah mengajukan surat pemunduran diri kepada Nasution, dia ingin mencari pekerjaan baru karena menganggap gaji penglima kostrad masih belum cukup untuk memenuhi kehidupannya, namun hal tersebut tidak pernah terjadi, karena surat yang ditunjukkan ke Nasution tidak pernah sampai.

Beberapa konflik internal di tentara dan dendam lama terhadap komunisme yang sudah sangat menjalar, maka tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa gestapu adalah salah satu bagian dari konspirasi pihak yang berkepentingan dalam ABRI untuk melakukan revolusi besar-besaran, baik dalam internal ABRI maupun di Indonesia. Dengan cara menculik dan membantai para jenderal lewat biro-biro khusus PKI di tentara sehingga mereka bisa menyebut bahwa PKI-lah pelakunya.

3. Pihak lain
Pihak lain yang berkepentingan ialah CIA, KGB, M-16 ataupun inteljen China. Soekarno sebagai tokoh galanggang penentang utama imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh inggris dan sekutunya pasti akan menghadapi banyak anacaman. Inggris yang pada waktu itu sukses membentuk negara bonekanya disebelah utara Indonesia merasa tidak nyaman dengan negara tetangganya. Maka pada saat itu Rodman Rodeway, salah satu agen inggris lewat pengakuannya diberi anggaran beberapa ribu poundsterling untuk operasi propaganda melengserkan Soekarno.

Perang dingin yang sedang berkecamuk antara kubu barat dan timur juga sangat berpengaruh. Amerika sebagai basis kapitalisme tidak menginginkan Indonesia jatuh menjadi negara Komunisme, karna dikhawatirkan jepang juga akan jatuh menjadi negara komunisme dan mendukung perang dingin yang sedang berlangsung dalam manivestasi perang Vietnam. Salah satu cara untuk membendung hal tersebut adalah mencari tentara anti komunis untuk diajak bekerja sama melakukan tipu muslihat menghancurkan Soekarno dan Komunis di Indonesia. Adapaun tudingan terlibatnya KGB adalah banyak pihak mengatakan bahwa yang membuat dokumen gilkrift adalah seorang agen KGB berketurunan cekoslovakia.

4. PKI
Partai komunis terbesar ketiga didunia tersebut besar kemungkinan adalah dalang dibalik gestapu. Hal ini dikarenakan memang pelaku gestapu adalah biro-biro khusus PKI yang berada dalam ABRI. PKI sangat kuat dikaitkan dengan peristiwa gestapu karena sejarah mencatat PKI dan ideologi revolusioner yang digagasnya memang sangat kental dengan pemberontakan, termasuk yang dituduhkan terhadapnya dalam kasus pembunuhan 7 Jenderal.

Catatan ini diambil dari memoar Prof. Salim Said, “Dari Gestapu ke Reformasi”. Said salim adalah guru besar bidang pertahanan. Beliau termasuk yang mengusulkan bintang 5 terhadap 3 Jendral yakni Soedirman, Soeharto dan Nasution. Dia juga yang mengusulkan bahwa pimpinan negara hanya boleh memimpin selama 2 periode saja, sebenarnya hal ini pernah dikemukakan oleh politisi PDIP pada sekitar tahun 1993, namun tentu saja hal itu dibendung oleh Soeharto.

Share:

Dale C. Part 2 "Buat Orang Lain Merasa Bahwa Mereka Penting'

Hanya ada satu cara di bawah surga untuk menggunggah siapa pun melakukan apa saja yang kita inginkan. Ya hanya satu cara. Cara tersebut adalah dengan membuat mereka yang ingin melakukannya sendiri. Kita bisa saja menodongkan pistol agar mereka berbuat sesuatu, atau seorang bos dapat memaksa pegawainya melakukan sesuatu dengan ancaman dia akan memecatnya, namun metode-metode tersebut tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

Hampir semua keinginan dapat dipuaskan, namun ada satu hal yang jarang dapat dipuaskan, Yakni: hasrat menjadi besar. Semua orang ingin dirinya menjadi orang yang dihormati dan dianggap sebagai orang terhormat. Hasrat untuk dianggap penting juga merupakan salah satu perbedaan nyata antara manusia dan binatang. Beberapa bukti mengatakan bahwa manusia bisa benar-benar menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan bahwa dia adalah orang penting.

Lincoln berkata bahwa setiap orang menyukai pujian. Sementara James berkata “Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” Salah satu cara terbaik untuk mengabulkan keinginan orang lain tersebut adalah menganggap mereka penting atau menganggapnya orang besar dan memberikannya pujian.

Charles Schwab dipilih sebagai Presiden pertama perusahaan baja Amerika yang dibangun pada tahun 1921 ketika dia masih berusia 38 tahun dengan gaji yang fantastik, 1 juta USD. Mengapa dia dibayar sedemikian besarnya, bahkan lebih dari 3.000 USD perhari, apakah karena dia seorang ahli yang sangat mumpuni di bidang riset baja? Bukan. Apakah karena kejeniusannya? Bukan juga.

Schwab membeberkan rahasinya. Dia mendapatkan gaji sebesar itu sebagian besar karena cara berhubungannya dengan manusia. Dia mengatakan “Saya menganggap kemampuan saya untuk membangkitkan antusiasme pada orang lain adalah aset paling besar yang saya miliki, dan cara terbaik yang saya lakukan untuk mengembangkan diri seseorang dengan menghargai dan mendorong semangatnya.”

Di melanjutkan, “tidak ada hal lain yang sangat membunuh ambisi seseorang selain kritik dari mereka yang merasa lebih tinggi. Saya tidak pernah mengkritik/memarahi siapa pun. Saya percaya dengan memberi intensif pada seseorang di tempat kerja. Jadi saya suka memberi penghargaan dan segan mencerca kesalahan. Jika saya menyukai sesuatu, saya sepenuh hati dalam penerimaan saya dan royal dalam memberi pujian.”

Ketika suatu studi dibuat beberapa tahun lalu mengenai para istri yang banyak melarikan diri, salah satu penyebab terbesarnya adalah “kurangnya penghargaan.” Orang-orang pada saat itu sering tidak menganggap penting pasangan mereka, sampai mereka tidak pernah mengungkapkan penghargaan terhadap istrinya.

Pamela Dunham dari New Fairfield mempunyai tanggung jawab diantaranya adalah melakukan supervisi terhadap seorang pembersih kantor yang mengerjakan tugasnya dengan sangat buruk. Para pegawai lainnya akan mencemoh pekerja tersebut dan membuang sampah di lorong untuk menunjukkan betapa buruk pekerjaannya. Tanpa hasil, Pamela berusaha sekuat tenaga untuk memotivasinya. Pamela menemukan bahwa sekali-kali ternyata pekerja tersebut melakukan tugasnya dengan baik. Hal yang dilakukan Pamela adalah memujinya di depan orang lain. Pamela terus melakukannya. Hasilnya, setiap hari pekerjaannya semakin baik, dan dalam waktu singkat dia mulai mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan efisien.

Dari beberapa analogi dan kisah di atas, poin terpenting yang dapat diambil adalah untuk mendapatkan hati orang lain, agar mereka bisa menjadi apa yang kita inginkan adalah dengan membuat mereka melakukan sesuatu karena keinginan mereka sendiri. Cara menggiring mereka menuju hal tersebut ialah dengan membuat mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang penting, hargai setiap pekerjaan mereka dan jangan memarahi mereka.

Share:

Dale C. Part 1 "Jika Anda Ingin Mengumpulkan Madu, Jangan Tendang Sarang Lebahnya"

Setelah berminggu-minggu dicari, Crowley “sang pembunuh”, penjahat paling ditakuti di New York saat itu, akhirnya sampai pada klimaksnya. 150 polisi dan detektif mengepungnya sambil saling berbalas senapan dengan Crowley.

Crowley merupakan penjahat, perampok bersenjata yang tidak segan untuk membunuh seseorang. Salah satu Komisaris Polisi mengatakan bahwa dia akan membunuh seseorang hanya karena jatuhnya sehelai bulu. Terakhir dia menembak salah satu polisi hanya karena polisi tersebut memintanya untuk menunjukkan surat-surat berkendara.

Namun dibalik kekejamannya, dia menulis surat dengan bekas luka di atas kertas bertuliskan, “di balik pakaian saya ada sebuah hati yang letih, sebuah hati yang baik, yang tidak tega melukai siapapun.”

Al Capone, juga merupakan salah satu penjahat paling ditakuti, pemimpin geng terkejam yang pernah ada di Chicago, pun demikian, dia mengatakan “Saya sudah melewatkan tahun-tahun dalam hidup saya memberi orang-orang kesenangan, membantu mereka menikmati hidup, dan yang saya peroleh adalah perlakukan kejam sebagai orang yang dicari-cari.”

Hal terpenting dari dua kisah di atas adalah bahwa kedua penjahat tersebut tidak menyalahkan dirinya sama sekali. Mereka hanya melihat nilai kebaikan yang pernah mereka lakukan, meskipun sedikit. Hal ini sama halnya dengan Ducth Schultz, juga merupakan penjahat paling terkenal di New York, dia mengaku bahwa dia adalah orang dermawan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Lewis Lawes, salah satu sipir penjara senior bahwa hanya sedikit kriminal yang menganggap bahwa mereka orang jahat.

Mereka membuat rasionalisasi bahwa mereka sama manusianya dengan semua orang. Hampir dari mereka semua punya alasan logis terhadap kejahatan yang dikerjakan dan mereka menganggap itu adalah benar.

Ini artinya orang-orang sekelas penjahat kelas kakap di atas saja sama sekali tidak menyalahkan diri mereka, bagaimana halnya dengan orang-orang di sekitar kita? Wanamaker, pendiri sejumlah toko di Amerika mengatakan bahwa dia sudah belajar sejak tiga puluh tahun yang lalu bahwa sungguh bodoh untuk memarahi orang lain, dia sadar bahwa sembilan puluh sembilan kali seratus, orang tidak mengkritik dirinya sendiri, dia cenderung akan merasa benar, tidak peduli kesalahan yang dilakukan.

Artinya jika ternyata kebanyakan manusia tidak pernah menempatkan dirinya sebagai orang yang salah dan dia tidak pernah mengkritik dirinya sendiri, maka sangat percuma apabila kita harus mengkritiknya, itu hanya akan menimbulkan masalah baru. Kritik adalah hal yang sia-sia karena menempatkan seseorang dalam posisi defensif, dan biasanya membuat orang itu mempertahankan dirinya. Hens Selye, Psikolog besar berkata: “Kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya ketakutan kita akan kritik.”

George B. Jhonston, Koordinator keamanan sebuah perusahaan rekayasa mempunyai tanggung jawab memastikan keselamatan pekerja, salah satunya tugasnya adalah memastikan pekerja memakai topi pengaman. Dia akan melaporkan jika ada pekerja yang tidak memakai topi pengaman, kemudian juga menyampaikan secara jelas mengenai peraturan yang ada. Hasilnya, ia mendapat penerimaan yang tidak simpatik dari pekerja yang merasa kesal, sering kali setelah pergi para pekerja kembali melepas topinya. Lalu ia mencoba pendekatan yang berbeda, ketika dia melihat pekerja yang tidak memakai topi, ia bertanya dengan ramah apakah topi itu tidak nyaman, sambil memngingatkan dengan nada menyenangkan bahwa topi itu dirancang untuk melindungi mereka dari kecelakaan.

Demikian halnya salah satu direktur salah satu perusahaan kecil di Amerika, dia mempunyai lebih dari seratus pegawai di kantornya, namun karena sifatnya yang suka memarahi dan mengkritik kesalahan yang mereka lakukan, ketika dia masuk ke kantor banyak pegawainya yang berpaling dan mengerutkan muka, dia merasa sendiri. Kemudian di mencoba cara komunikasinya, ketika ada pegawai yang melakukan kekeliruan, dia tidak serta merta mengkritiknya, apalagi memarahinya, dia mencari sisi positif dan memberikan apresiasi atas hal tersebut kemudian mulai membicarakan kekurangan yang dibuat tanpa menyinggung perasaannya. Akhirny setiap pergi ke kantor dia selalu mendapatkan senyuman para pegawainya, pegawainya tidak segan untuk memaparkan program terbaik dan kekurangan di kantornya.

Tatakala berhubungan dengan manusia, sebaiknya seseorang mengingat bahwa dia sedang tidak berhubungan dengan makhluk logika. Dia sedang berhubungan dengan makhluk penuh dengan emosi. Dia sedang berhubungan dengan makhluk penuh dengan prasangka dan motivasi oleh rasa bangga dan sombong. Oleh sebab itu, kritik pedas tanpa seni terkadang tidak akan membuat perubahan, malah hanya akan menambah masalah.

Kritik pedaslah yang menyebabkan penyair Thomas Hardy, novelis terbaik dalam sastra Inggris menolak selamanya untuk menulis fiksi. Kritik juga telah membuat Thomas Chatterton, penulis puisi terkenal Inggris bunuh diri. Benjamin Franklin seorang diplomat yang sangat mahir berhubungan dengan manusia, sampai kemudian dijadikan Duta Besar Amerika untuk Prancis ketika ditanya rahasia suksesnya menjawab: “Saya tidak akan bicara buruk tentang seseorang, saya hanya akan membicarakan tentang hal baik dengannya.”

Semua orang bodoh bisa mengkritik, mencerca dan mengeluh -dan hampir semua orang bodoh melakukannya. Dengan mengkritik dan mencerca munkin seseorang akan merasa lega dan merasa lebih baik bagi dirinya, tapi itu akan berakibat buruk pada hubungannya dengan orang yang dikritik. Lagi pula, mengkritik belum tentu menyelasaikan masalah, bahkan bisa jadi menambah masalah. Sedangkan melakukannya dengan cara berbeda sebagaiamana yang dilakukan George B. Jhonston (koordinator keamanan di atas) misalnya, bisa menyelesaikan masalah tanpa efek samping.

Carlyle berkata: seorang yang berjiwa besar aka memperlihatkan kebesarannya dara caranya memperlakukan orang kecil.”
Inti dari bab ini adalah “jangan mengkritik, mencerca dan mengeluh.” Apabila dibutuhkan, lakukan dengan pendekatan yang berbeda, yang membuat orang tersebut senang.

Tulisan dirangkum dari bab 1 buku Dale Carnegie "How to Win Friends and Influence People" atau bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain.

Insyaallah saya akan menuliskan rangkumannya sampai akhir bab, mengingat buku ini sangat legendaris dan telah dicetak lebih dari jutaan ekalempar di berbagai negara.

Share:

To be a Successful in Islam

Succes is a big dream of every human in their future life. Everyone always want to be a successful. Some people will say that succes is when they have a lot of money, have good position, and good achievement.

So everyone have a devinision of succes by theirself. As known, the definitions are different from each others. But the importance, success is hitting their goals in their life.

Some motivator maybe ever said there are some ways and keys, how to get succes. But actually, 14 centurys ago, Islam detailly explained about those. The are three keys to reach the goals, to reach the dream and to be a successful in Islam.

Number one: Believe. Believe here, is devided to two parts. Firts: People have to believe in Allah. And second: believe to theirself.

Believe to Allah has meaning that Allah will help them. Believe that Allah will not give them a chance can't they finish it.

Second, they must believe to theirself that they can do what will they do. Before world motivator say right now, example from Dig ziglar said "if you can dream it you can reach it". Or from Ady Ginanjar" people want to be a successful must grow up a belief in their mind. Then, result will follow it.

Before they talked about those, Islam had talked 14 centurys ago. Allah said in hadis qudsi

انا عند ظن عبدي بي
(Ana inda dzonni Abdi bii)
I am in beside of my servant mind

So the first way to reach their dream is believe. They have to hange their mind that they can do what will they do.
Believe will open their mind that they can do it. And what is next?

Number Two: Effort or preperation

Kolonel Sanderas is the owner of KFC, but before, he is poor people.
Even, He has been rejected for 1009 times. Because he always spirit and never give up, now he has 18.000 outlet in the 150 countrys.

So never surrounding is the key, try and try again, never give up if people just try one time, just two times, three times and four etc, they can learn from the story of Kolonel Sanders. Do it with maximum effort.

In islam was mentioning in Al Quran fourteen centurys ago

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بانفسهم

In easy meaning, Allah will not change a fate of people, untill they change by their self.

And thete is an idiom in arabic language, Maybe it is so famous
من جد وجد
Whosoever is doing something with maximum effort, he will get it.

So they have to reach their dream with maximum effort. If they fall and fall just try and try again.

Number three: Pray.

Pray is the best weapon for them. Because pray can change their fate.
Pray can change the impossible thing to be a possible. From ordinary to be extra ordinary. Because there is nothing impossible to our god, everything is possible.

Without pray they just crawl lonely,  walk lonely, run, effort lonely, with pray we will do everything with the strongest of their God.

Theu have to believe that pray can change their fate and bring them to their dream.

Nabi said:
لا يغير القضاء الا بالدعاء
Fate will not change, except with pray.

So. There are three keys to reach their dream in islam.

Share:

Formality and Essensialty in Educational System

Finland is a country which has the best education system in the world. The country is choosen time after time until now. Maybe we will ask why? Why Finland's education is choosen as the best education system? Whereas as we know, right now, we just now some innovations and discoverers, mostly was found by American people. The most advantage country.

It because the main purpose of the educational system is not just about knowledge, innovations, and discoverers.

Finland is also choosen as the most safety country in the world, and the importent, people in Finland are the most happiness people in Europe.

Even, in America, there was story about child killed her parent, it because they always forces her to learn and has good achievement. Children in anvantaged and advantaging country, usually have stressful in their study. They live under the shadow about their future.

In the other hand, in Finland, there is nothing examination, homework, ranking system and for one day, student just spend 5 hours in school. There, education in not just about vallue and achievment. Child just learned about how to be happy and have a good communication with the other people.

In deep meaning, Finland don't focus to manage their education as formality, but as essensiality. Like peanut, The skin is formality, and the contain is essensliaty. In this case, Formality is like entering class and sitting down together, homework, examination, getting high ranking and good achievement.

The essensiality is when people go or not  to school, howefer the way they study, whether just drink coffe in the coffe store, just playing game outdoor, or another activities, but the importent is when they understanding the lessons and practicing them in their life.

But now, so many people just focus about the formality, they just think about why they always come late, why they never enter the class, why the vallue is not good until they forget about did they understand or not? It's the essensiality. 

For example: in university student have to spend 6 months in their class to learn one lesson, it's like "pengantar ilmu hukum" maybe. But actually they can learn and understand it just for 2 weeks, with reading book and watching youtube, sometimes if they can't understand, thay can ask to the other people. It's the difference about formality and essensiality.

Like Thomas Alva Edison, the lamp creator and innovator, he just spend  3 months in formal education.
But until now, he can creat 1096 innovation, include the most important innovations, lamp.

And like the child can hack NASA website and KPU website, he just about 15 years old and still studying in junior high school. How about the master of informatika, Profesor or Doktor of IT, can they do it?

The wise people said: despite you learn on the moon, if you don't learn, don't read your book, or do with maximal effort, you will get nothing. So good futurre is not about where we study? But about how we do our hope with maximum effort.

So everyone have to change their mind that life not about formality but the importent is about esensiality. So when they think something, just directly think about essensiality.

And the most important thing is life is not about good achievement and good position, but about happiness and careful with the others.

Share:

Awal Mula Demokrasi di Abad Modern

Demokrasi merupakan sebuah sistem bernegara yang amat populer di abad ini. Secara esensial nilai-nilai yang termuat di dalamnya sudah diterapkan oleh bangsa Romawi kuno beberapa ribu tahun yang lalu. Setelah itu, komunitas global lebih memilih sistem monarki yang kental dengan otoriterianisme sebagai dasar negaranya masing-masing. Nilai-nilai demokarasi yang salah satu ciri khasnya adalah musyawarah dan slogan “dari rakyat untuk rakyat”, Sebenanrnya, sedikit banyak sudah diterapkan meskipun dalam negara monarki absolut sekalipun. Namun secara formal, banyak histori mengenai munculnya sistem negara demokratis yang kemudian menyeruak menjadi sistem yang dianut oleh hampir seluruh negara di dunia saat ini, salah satunya adalah di bawah ini:

Dimulai pada tahun 1516, Juan Diaz de Solis, seorang penjelajah Spanyol bersama bawahannya berlayar ke arah timur setelah mendengar bahwa Cristoper Colombus menemukan sebuah pulau besar yang subur. Setelah menginjakkan kakinya disana, de Solis langsung mengklaim bahwa tempat tersebut merupakan tanah kekuasaan Raja Spanyol dan menamakannya dengan Rio de Plata atau “sungai perak”, karena penduduk setempat banyak mempunyai perak. Namun para pribumi suku Charruas yang notabene adalah pemburu dan hidup dalam kelompok kecil tanpa mengenal pemerintahan ternyata sangat memusuhi koloni tersebut, hingga akhirnya de Solis tewas dipukuli salah satu dari mereka.

Kemudian pada tahun 1519 Spanyol mengirim Hernan Cortez ke Meksiko dan Fransisco Pizzaro ke daerah Peru 15 tahun kemudian, Kerajaan Spanyol kemudian kembali mengirimkan suatu misi penaklukan di bawah Pedro de Mendoza pada tahun 1534. Di tahun itu juga mereka juga membangun kota kecil di lokasi yang merupakan cikal bakal kota Buenos Aires (sekarang ibukota Argentina). 

Ketika Cortez dan pasukannya sampai di jantung peradaban Aztec di Tenochitlan pada 8 November 1519, mereka disambut baik oleh kaisar Aztec, Moctezuma. Namun tiba-tiba Cortes dan pasukannya menangkap Moctezuma dan menembakkan senapan kepada mereka. Pasukan kolonial Spanyol menebar teror hingga gelap malam. Setelah paginya mereka kemudian menyebutkan apa yang mereka minta: terdiri dari bahan makanan. Setelah kenyang, mereka menyuruh Kaisar tersebut untuk menyerahkan seluruh harta benda warga kota, khususnya emas. Seluruh simpanan milik warga Aztec dirampas, termasuk gudang pribadi milik Moctezuma. Segala perkakas dari emas, tameng, dan cakram-cakram emas kemudian dikumpulkan dan dibakar hingga melebur menjadi emas batangan.

Penaklukan kolonial Spanyol baru berakhir pada tahun 1521, Cortez sebagai Gubernur Provinsi mulai membagi-bagikan harta kekayaan yang diambil dari Aztec. Orang-orang pribumi juga dibagikan sebagai hadiah kepada orang Spanyol yang disebut encomendero. Seorang pribumi harus memberikan hadiah persembahan dan menjadi budak bagi encomendero. Sebagai ganjaran, encomendero menjadikan mereka sebagai orang Kristen.

Pada 1513 Spanyol juga sudah melakukan ekspansi ke Kuba dengan kekejian yang tak kalah kejam, sebagaimana catatan De las Casas, bahwa setelah mereka datang, mereka kemudian menjadikan penduduk pribumi sebagai budak, merampas tanah dan mencuri bahan pangan mereka yang semakin langka. De las Casas juga bercerita mengenai kolonialisasi Spanyol di Kolombia, bahwa orang yang memimpin ekspedisi penjajahan tersebut kemudian merampas kekuasaan Raja dan menawan penguasa lokal itu selama enam sampai tujuh bulan.

Seorang Raja bernama Bogota sedemikian takutnya menyanggupkan akan mengisi sebuah rumah kosong dengan selongsong emas. Namun ternyata dia gagal, hingga akhirnya orang-orang Spanyol tersebut menghabisi nyawanya. Ada beberapa Raja yang diadili, pihak kolonial Spanyol menganiaya mereka dengan cara mengikatnya dan menyiramkan lemak hewan yang masih mendidih ke perutnya, memasung kedua kakinya ke tiang pancang dengan belenggu yang terbuat dari besi merah yang membara dan benda yang sama mereka kalungkan ke leher sang Raja yang kedua tangannya di pegang erat-erat oleh pengawal.

Demikian juga siksaan yang dilakukan oleh Pizzaro.  Awal mula sesampainya di buna Amerika, dia menginjakkan kakinya di Tumbes, kemudian terus berjalan ke selatan. Sampai akhirnya tiba di pegunungan Cajamar, kebetulan saat itu, Kaisar Atahualpa sedang berkemah dengan prajurtinya. Kemudian Pizzaro menangkap sang Raja, dia dikerangkeng dan dibebaskan setelah berhasil memberikan timbunan emas dan perak. Karena jika sampai gagal memenuhi tuntutan orang Spanyol, mereka akan dipanggang hidup-hidup.

Setelah berhasil mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia jajahannya di Amerika latin bagian selatan, bangsa Spanyol mulai membuat lembaga-lembaga formal seperti encomienda, mita dan trajin sebagai akal-akalan mereka agar lebih bisa menggeruk harta kekayaan yang ada.

Pada saat Spanyol melakukan kolonialisasi di Amerika Selatan pada tahun 1940-an, Inggris masih terpuruk. Mereka baru terbakar semangatnya setelah berhasil memukuk mundur kapal-kapal Spanyol yang berniat untuk mengekspansi Inggris. Pada saat itulah Inggris mulai menguatkan kembali armada maritim mereka. Mendengar banyak sumber daya dan kekayaan terpendam di pulau besar temuan Colombus, mereka memutuskan untuk mengikuti langkah Spanyol menginvasi benua Amerika. Namun sayang, sebagian besar benua Amerika sudah dijarah oleh kerajaan Spanyol, yang tersisa adalah bagian utara (yang kini jadi Amerika Serikat).

Usaha awal mereka ternyata tidak semulus yang diinginkan. Mereka pertama kali menginjjakan kakinya di benua Amerika adalah di Roanoke, Carolina Utara antara tahun 1585 dan 1587. Kemudian  pada tahun 1607, 3 kapal mereka bertolak kembali ke Carolina di bawah pimpinan Christopher Newport di bawah naungan bendera virginia company. Mereka kemudian berlayar menuju teluk Chesapeake dan membangun pemukiman di sekitar sana kemudian menamakannya dengan Jamestown, sesuai dengan nama Raja Inggris pada saat itu, Raja james.

Para Koloni Inggris tersebut sangat berhasrat untuk dapat memungut emas sebanyak-banyaknya sebagaimana Spanyol, mereka juga berniat akan meniru cara kolonialisasi Spanyol yang kejam dan bengis. Namun mereka tidak sadar bahwa pemukiman yang mereka bangun dekat dengan daerah yang dikuasai konfederasi Powhatan, yakni koalisi yang beranggoatakn sekitar 30 kelompok suku Indian yang menyatakan setia kepada Raja Wahunsunancock.

Wahunsunancock mulai mengendus niat jahat dari koloni Inggris tersebut dan kemudian memutuskan hubungan dengan mereka. Bahkan Raja itu juga melakukan embargo dagang atas Jamestown. Oleh sebab itu, koloni itu sudah tidak diperbelohkan lagi untuk melakukan embargo dengan masyarakat sekitar. Hingga akhirnya koloni Inggris di Jamestown yang awalnya berjumlah sekitar 500 kolonis, hanya 60 puluh orang yang bertahan.

Menyadari cara lama yang digunakan Spanyol dengan memaksa pada pribumi bekerja di tanahnya sendiri tidak mungkin diterapkan, akhirnya pemimpin koloni yang baru pada saat itu, Gates dan wakilnya Thomas Dale melakukan pendekatan baru. Pendekatan tersebut adalah dengan kerja paksa yang harus dilakukan oleh semua anggota koloni itu sendiri, kecuali para pemimpin koloni tentunya.

Dale memberlakukan Undang-undang semi militer yang disebut Lawes divine, morall and martial, yang antara lain pasalnya berisi hal berikut: Semua warga baik lelaki atau wanita yang meninggalkan koloni dan lari ke wilayah Indian, akan dihukum mati. Barang siapa mencuri hasil kebun, baik milik umum, perorangan atau pun perkebunan anggur, atau mencuri jagung, akan dihukum mati. Anggota yang menjual atau menyerahkan komoditas apa pun dari wilayah tersebut kepada pelaut, baik kapten atau awak kapal biasa, dan mengangkutnya keluar dari wilayah koloni, demi keuntungan pribadi akan diberikan sanksi hukuman mati. Jadi menurut para petinggi koloni saat itu, jika para pribumi tidak bisa dipaksa untuk menggerus kekayaan sumber daya alam di sana, maka para anggota koloni juga bisa diperas keringatnya.

Ternyata cara tersebut pun juga tidak begitu efektif untuk diterapkan. Cara memaksa anggota koloni agar bekerja sekeras-kerasnya tidak juga berhasil untuk meraup pundi-pundi keuntungan sebagaimana yang mereka inginkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat strategi baru.  Pada tahun 1618, Virginia Company mulai memberlakukan sistem yang disebut dengan beadright system, yakni: setiap lelaki yang bermukim di wilayah koloni mendapat pembagian tanah seluas 50 hektar dengan tambahan 50 hektar lagi untuk pembantu yang mereka bawa. Para pekerja dari Inggris tersebut diberikan rumah dan dibebaskan dari ikatan kontrak yang mereka teken sebelumnya.

Kemudian pada tahun 1619 dibentuk juga semacam majlis umum yang secara efektif memberikan suara terhadap setiap lelaki dewasa dalam penyusunan Undang-undang serta lembaga pemerintahan pada saat itu. Seiring semakian berkembangnya kawasan di Amerika Utara, elit koloni Inggris berulang kali mencoba menciptakan lembaga negara untuk memasung ekonomi dan hak-hak politik para pekerja koloni.

Upaya pembaharuan tersebut, meskipun awalnya banyak terhalang oleh beberapa akal bulus para elit, tapi ternyata membawa pembaharuan yang menjanjikan. Tak ayal, banyak provinsi yang kemudian juga turut menerapkannya, seperti Maryland dan Carolina. Baru kemudian tahun 1720-an, 30 koloni inggris (yang kemudian berubah status menjadi negara bagian di Amerika Serikat) mengadopsi gaya pemerintahan yang sama. Seluruh koloni itu dipimpin oleh Gubernur dan pemerintahannya dikontrol oleh dewan yang keanggotaannya berbasis perwakilan. Dewan-dewan dan pemimpinnya berkoalisi dan membentuk kongres kontinental pertama, yakni pada tahun 1774 yang juga merupakan cikal bakal merdekanya negara Amerika Serikat dari koloni Inggris.

Resume ini dirangkum dari sebagian isi buku yang berjudul “Mengapa Negara Gagal” atau “Why Nations Fail?” yang ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson diteribtkan oleh Elex Media Komputindo tahun 204 dengan tebal 582 halaman. 

Share:

Icon Display

Dahulukan Idealisme Sebelum Fanatisme

Popular Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Recent Posts

Kunci Kesuksesan

  • Semangat Beraktifitas.
  • Berfikir Sebelum Bertindak.
  • Utamakan Akhirat daripada Dunia.

Pages

Quote

San Mesan Acabbur Pas Mandih Pas Berseh Sekaleh